Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Kecurigaan Mama Asri


__ADS_3

Setelah keluar dari J & H Bar, Fara dan Elea memutuskan untuk singgah ke Kafe untuk makan siang dan merilekskan pikiran Fara yang sudah lega dan plong karena bisa kembali menjalani kehidupannya dengan normal tanpa bayang-bayang pria seperti Jhonatan. Tanpa Fara tahu jika Jhonatan tetap mengutus anak buahnya untuk selalu memantau dan mengikuti nya dari jarak jauh, sepertinya rentenir sekaligus sang casanova itu benar-benar tertarik dengan Fara. Hanya saja kini Jhonatan tidak mau gegabah untuk mendapatkan Fara, Jhonatan ingin Fara benar-benar menerima dirinya meskipun butuh waktu yang sangat lama. Karena sejak pertama Jhonatan melihat Fara, pria itu sudah mengklaim jika Fara adalah miliknya, jadi siapapun pria yang berani mendekati Fara, pasti akan berhadapan dengan Jhonatan secara tidak langsung, dan itulah fungsi anak buah Jhonatan mengikuti Fara.


"Jadi, sekarang kamu kerja dimana Far?" tanya Elea setelah mereka selesai makan siang, namun masih duduk di dalam Kafe.


"Aku sekarang menjadi CS di sebuah rumah sakit" jawab Fara, wanita itu memang langsung resign setelah kejadian malam itu, dan sialnya Yogi juga pergi entah kemana.


"Aku harap di lingkungan yang baru kamu bisa bertemu dengan orang-orang yang baik" ucap Elea penuh harap.


"Aku gak berharga bertemu dengan orang baik El, aku hanya ingin menjalani kehidupan ku tanpa campur tangan orang asing lagi" selama satu bulan kerja di rumah sakit, Fara memang sangat tertutup. Ia berbicara dengan rekan kerjanya hanya satu dua patah kata, itupun sangat jarang ia lakukan. Tidak ada lagi sikap ramah tamah, ceria, humble, dan terbuka. Sepertinya apa yang dilakukan oleh Yogi benar-benar mengubah kehidupan dan pribadi Fara.


"Ada aku yang selalu bersamamu, dan mensupport mu. Telingaku selalu siap mendengarkan curahan hatimu, pundak selalu ada jika kamu butuh sandaran. Jangan merasa sendirian lagi" Elea sangat mengerti perasaan Fara yang tak jauh berbeda dengan dirinya. Meskipun saat ini Elea memiliki Martin sebagai suami dan pelindung nya, tapi tidak serta-merta Elea bisa mengungkapkan isi hatinya dengan jujur, tak jarang Elea menunjukkan senyum palsu di hadapan sang suami. Entahlah, Elea selalu merasa rendah diri dan perasaan itu semakin menjadi sejak beberapa hari yang lalu.


🌼🌼🌼


Sekitar pukul 14.30 Elea sudah sampai dirumah, Wanita hamil itu pulang dengan menggunakan taksi. Sebab tadi Elea sempat mengabari Martin, namun suami Elea itu terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menjemput istrinya. Tentu saja Martin sibuk, karena besok ia akan terbang ke Negeri Gajah Putih dalam kurun waktu yang tak bisa di tentukan, maka dari itu Martin harus menyelesaikan segala pekerjaan yang sudah mendekati deadline.


"Elea..." suara sang Mama mertua menghentikan langkah Elea yang hendak meniti anak tangga.


"Mama..." gumam Elea, lalu ia menghampiri sang mertua dan mengecup punggung tangannya.


"Kamu baru pulang?" tanya Mama Asri penuh selidik, seperti baru menangkap basah sang menantu melakukan sebuah kesalahan.


"Iya Mah, tadinya mau bareng Om Martin, tapi kata Om Martin hari ini dia sangat sibuk" jawab Elea jujur.


"Martin memang sibuk bekerja cari uang, bukannya sibuk jalan-jalan tidak jelas" sindirnya.


Merasa jika sang mertua tengah menyindirnya, Elea langsung mengangkat wajahnya dan menatap sang mertua.


"Elea tadi mengunjungi sahabat Elea Mah, Elea juga sudah mendapatkan izin dari Om Martin. Dan sahabat Elea itu perempuan, dia satu-satunya sahabat yang Elea punya" jelas Elea.


"Mama tidak bertanya tentang sahabat mu" Elea Mama Asri.


"Elea tahu, Elea hanya memberi tahu Mama, agar Mama tidak salah paham kedepannya"


"Elea mau ke kamar dulu Mah" pamit Elea karena sang mertua hanya diam saja.


"Aku yakin jika wanita yang aku lihat di halaman Bar tadi adalah Elea" gumam Mama Asri menatap punggung Elea yang sudah berada di ujung tangga.

__ADS_1


"Martin harus tahu apa yang dilakukan oleh istrinya di belakangnya" Mama Asri kembali ke kamarnya.


...


Di dalam kamar, Mama Asri mendapati sang suami tengah duduk bersandar headboard dengan memainkan ponselnya, wanita itu mendengus kesal karena sang suami terlihat santai menikmati hidup seperti tidak punya beban pikiran.


"Papah..." seru Mama Asri.


"Hemm" jawab papa Adnan dengan pandangan tetap pada layar ponselnya.


"Pah"


"Iya Mah, Papa dengar" sahutnya namun matanya tidak teralihkan dari benda tipis yang ada di tangannya.


"Adnan Hariz" kali ini sang istri memanggil namanya dengan lengkap tanpa embel-embel Papa ataupun Mas.


Merasa nada bicara sang istri tidak seperti biasanya, pemilik nama lengkap Adnan Hariz itupun langsung menatap sang istri penuh tanda tanya.


"Ada apa sih?"


Papa Adnan semakin tidak mengerti arah pembicaraan sang istri, meskipun hidup bersama hampir 45 tahun lamanya, bukan berarti Papa Adnan tahu dengan maksud sang istri. Apalagi istrinya hanya memanggil tiga kali tanpa mengatakan apapun lagi, kenapa tiba-tiba bilang jika suaminya tidak peka? Papa Adnan adalah manusia biasa, bukan malaikat ataupun dukun cenayang yang bisa mengerti isi hati orang lain.


Pria berusia 70 tahun itu meletakkan ponselnya di atas nakas yang ada di sampingnya, lalu ia melipat kedua kakinya. Jika sang istri sudah mengatakan ketidak pekaan nya, papa Adnan harus bersiap mendengarkan ocehan panjang sang istri.


"Ada apa sih Mah? kenapa marah-marah? gak ingat umur apa? Mama itu sudah tua, nanti kalau darah tinggi nya kumat bagaimana?"


"Maksudnya Papa doain Mama sekarat, begitu?" tuduhnya, padahal sang suami hanya mengingatkan demi kebaikan dirinya.


"Untung meskipun sudah bersama puluhan tahun aku masih cinta" papa Adnan menggelengkan kepalanya, kesabaran pria itu memang patut di acungi jempol.


"Tidak, mana mungkin Papa mendoakan hal buruk pada wanita yang sangat papa cintai"


"Ckk, malah gombal. gak inget apa situ sudah aki-aki?" cibir nya dengan nada sinis.


"Salah lagi" gumam papa Adnan menghela nafasnya.


"Kemarin si Herman datang kesini ada apa?"

__ADS_1


"Bukannya Mama tahu jika Herman kemari karena ada perlu sama Martin?"


"Iya Mama tidak lupa, tapi ada keperluan apa sampai Herman datang kemari?"


"Martin minta tolong agar Herman mencairkan dana"


"Uang? berapa?"


"250 juta"


"Sebanyak itu? untuk apa Martin mencairkan uang sebanyak itu?"


"Martin hanya mencairkan uang 250 juta Mah, jangan terlalu di dramatisir. Bahkan satu tas branded Mama harganya tiga kali lipat dari uang itu"


"Jadi papa menyesal karena membelikan tas itu untuk Mama?" tuduhnya.


"Kok malah su'uzdon sama Papa sih?"


"Lah tadi Papa sendiri yang ungkit-ungkit harga tas Mama"


"Bukan begitu Mah, aduh...gimana sih?"


"Jadi untuk apa Martin membutuhkan uang sebanyak itu dalam bentuk cash?"


"Elea memintanya, tapi untuk apanya, Papa tidak tahu. Lagi pula itu hanya 250 juta" ujar papa Adnan santai, pria itu belum menyadari perubahan raut wajah istrinya yang menjadi merah padam, entah marah atau apa.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2