
Suasana meriah tampak terlihat dikediaman Martin, banyak balon dan dekorasi bernuansa kebun binatang untuk merayakan ulang tahun putra keduanya yaitu Davendra Hariz, Bayi kecil itu sekarang genap berusia satu tahun.
Mama Asri berkaca-kaca saat memangku Davendra, ia sungguh menyesal karena dulu pernah menolak bahkan tidak mengakui jika Davendra adalah darah daging putranya.
Hubungannya dengan Elea sudah membantu sejak beberapa bulan yang lalu, ia sangat bersyukur karena menantu nya berbesar hati memaafkan kesalahannya.
"Sekarang apalagi yang Mama tangisi?" tanya Adnan duduk disebelah istrinya.
"Mama menangis bahagia, karena Tuhan memberi umur panjang pada Mama dan bisa melihat cucu-cucu tampan Mama" ucapnya penuh syukur.
"Ya, kita akan tetap hidup dan sehat untuk melihat mereka tumbuh dewasa" kata Adnan mengusap kepala cucunya, Davendra hanya diam saja karena bocah itu memang pendiam.
"Nek, Kek" Risha datang bersama dengan Tommy, satu bulan yang lalu keduanya sudah bertunangan dan akan segera menikah ketika Risha sudah selesai kuliah.
"Kalian berdua? Dimana dokter Adi dan istrinya?" tanya Adnan, karena Risha mengatakan jika mantan besannya itu akan datang dan ikut merayakan ulang tahun Davendra.
"Kakek dan Nenek tidak jadi ikut, mereka ada operasi dadakan siang ini" jelas Risha, bisa di mengerti oleh Adnan dan Asri.
"Dimana Mami?"
"Elea masih bersiap" kata Nenek Asri.
"Aku akan kesana, Abang disini gak apa-apa kan?" kata Risha.
"Ya, aku akan menunggu disini dan bermain dengan Dave" kata Tommy, Risha pergi ke kamar Elea untuk melihat Maminya.
...
"Sayang, bisakah sedikit lebih cepat?" seru Martin didepan pintu kamar mandi, dengan menggendong seorang bayi.
Ya, Elea saat itu hamil lagi dan kini sudah melahirkan putra keduanya yang baru berusia dua minggu.
Martin kewalahan menggendong bayinya yang terus menangis, berbeda dengan Davendra saat bayi dulu yang selalu tenang.
Ceklek....
Risha melihat papinya kerepotan menggendong adik bayinya.
"Dia kenapa?" Risha mengambil alih bayi itu dari tangan Martin.
"Entahlah, dia langsung menangis saat lepas dari tangan Elea" jelas Martin, namun anehnya saat digendong oleh Risha, bayi itu langsung diam.
Elea keluar dari kamar mandi dan menatap kesal pada Martin karena tidak membiarkan dirinya tenang saat menuntaskan hajat nya.
__ADS_1
"Kamu itu ayah dari tiga orang anak, Mas. Tapi masih saja tidak bisa menenangkan tangis bayinya sendiri" omel Elea. Martin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Risha tersenyum geli.
"Aku hanya ahli dalam membuatnya sayang" lirih Martin namun masih sangat bisa didengar oleh Elea, tak ayal istri Martin itu langsung melayangkan sebuah bantal pada suaminya.
"Dengar Mas, jangan menyentuh ku sampai dua bulan ke depan" ancam Elea.
"Sayang..." rengek Martin, namun Elea tidak perduli. Wanita itu langsung mengambil alih putranya dari gendongan Risha dan keluar dari kamar.
🌼🌼🌼
Acara ulang tahun Davendra berlangsung meriah, banyak kerabat dan juga beberapa relasi terdekat Martin datang untuk merayakan pesta ulang tahun itu dan syukuran atas kelahiran putra ketiganya yang di beri nama Dominic Hariz.
"Aku tidak menyangka jika kau sudah melahirkan dua putra" kata Fara menatap kagum pada Elea.
"Hemm, aku juga masih tidak percaya. Dan lihatlah, sebentar lagi aku akan punya menantu dan mungkin akan segera menjadi seorang Nenek" Elea mengedikkan dagunya pada Risha dan Tommy yang tengah bermain dengan putra pertamanya.
"Bahkan Jho sangat ingin memberikan adik pada Victor" Fara menggelengkan kepalanya.
"Kau bisa memulainya Far, bukankah saat ini Victor sudah berusia empat bulan? Bahkan kami memberikan adik pada Dave saat dia masih berusia dua bulan" Elea masih tidak menyangka jika kegiatan panas pelepas rindu kala itu membuahkan hasil.
"Tidak, aku belum ingin hamil lagi" kata Fara.
"Sayang, sepertinya putramu haus" kata ibu mertua Elea menggendong bayinya.
"Mama tidak lelah" kata mama Asri mengusap kepala Elea dengan lembut.
"Tidak harus menunggu lelah. Tapi mama harus istirahat, atau Mama akan sakit dan tidak bisa membantu Elea menjaga cucu-cucu Mama ini" kata Elea, Mama Asri tersenyum mendengarnya.
"Mama tidak akan sakit sayang, Mama janji itu. Dan Mama pasti akan membantumu mengurus Dave dan Dom" ucap mama Asri, meski samping sekarang Elea belum mau datang kerumahnya, tapi itu bukan masalah bagi Mama Asri, beliau tetap bisa mengunjungi menantu dan cucunya kapanpun.
"Bagaimana kabarmu Fara?" tanya mama Asri.
"Fara baik Tante. Tante sendiri apa kabar?" tanya Fara.
"Seperti yang kamu lihat, Tante sangat baik dan bahagia" sahutnya tersenyum lebar, Fara dan Elea juga ikut tersenyum.
🌼🌼🌼
Martin menatap penuh cinta pada Elea, istrinya itu sedang melakukan beberapa ritual perawatan sebelum tidur.
"Ada apa?" tanya Elea menyadari tatapan suaminya. Marti turun dari ranjang dan mendekati Elea, pria itu langsung memeluk erat tubuh istri cantiknya.
"Mas..." kata Elea.
__ADS_1
"Aku sangat bersyukur memilikimu sebagai istriku. Aku merasa jika keputusan ku menikahi mu saat itu benar-benar tepat dan terbaik" bisik Martin, Elea membalikkan tubuhnya dan menatap wajah tampan Martin meskipun usianya semakin bertambah.
"Apa yang ada dalam pikiran Mas malam itu?" tanya Elea penasaran, saat itu Martin bersikeras menikahinya meskipun Elea dengan jelas menolak.
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti jika hati dan pikiranku saat itu, aku harus menikahi mu. Dan itu yang aku lakukan" jelas Martin mengecup singkat bibir Elea.
"Kau sendiri? Kenapa saat itu menolak aku nikahi?" Martin bertanya balik pada Elea.
"Karena aku berpikir jika Mas pasti sudah berumah tangga, apalagi malam itu aku berkenalan dengan David dan Erik, juga para istri mereka" ucap Elea.
"Jika aku memang sudah punya istri, lalu kenapa malam itu aku menyewa jasamu?" ujar Martin.
"Bukankah itu hal biasa? Beberapa tamu ku adalah suami orang, bukan salahku jika aku berpikir demikian pada Mas" jujur Elea yang memang pernah mendapatkan tamu yang benar-benar masih suami wanita lain.
"Aku bukan pria seperti itu sayang, bahkan saat pernikahan ku dengan Astrid dulu. Aku tidak pernah bermain dengan wanita lain meskipun aku tidak mencintai Astrid kala itu" terang Martin menangkup pipi Elea.
"Suamimu ini benar-benar pria setia, tulen dan perkasa" Martin memuji dirinya sendiri.
"Hanya saja kurang peka dan kurang romantis" kata Martin mengakui kekurangannya.
"Aku tahu itu, I love you my husband" kata Elea mengecup bibir Martin.
"I love you too my **** wife" jawab Martin, pria itu tersenyum dan melabuhkan bibirnya di bibir Elea.
"Jangan pernah bosan dan tetaplah mencintai ku sampai akhir nafasku" Elea memeluk pinggang Martin.
"Tentu, aku malah takut jika kau yang bosan karena aku akan semakin tua, dan kau masih segar dan muda" kata Martin mengatakan kekhawatiran nya, Elea tersenyum mendengar hal itu.
"Aku akan tetap mencintai Mas, meskipun aku bertemu banyak pria tampan. Bukankah Mas tahu siapa pria yang mampu mengalihkan hati dan mataku selain Mas?" kata Elea, Martin tersenyum senang.
"Ya, dan Mas Agustd mu itu tidak akan mau dengan istriku ini" kata Martin yang sangat tahu apa yang di maksud dengan istrinya.
"Ayo kita tidur, ini sudah malam" ajak Martin membawa Elea naik keatas ranjang dan memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan dua putra untuknya.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
END 🌺