
Bagaimana rasanya ketika pria yang selama ini kamu sukai mengatakan jika dia juga menyukaimu? Bahkan pria itu terang-terangan mengatakan jika ingin menjadikan mu sebagai pendampingnya.
Senang dan bahagia itulah yang saat ini dirasakan oleh Risha, karena dengan jelas mendengar pertanyaan cinta dari Tommy, sang pemilik hati yang sejak lama bersemayam tanpa bisa Risha alihkan.
Risha dan Tommy berada di salah satu Mall terbesar di Jakarta, dua anak manusia yang baru saja meresmikan hubungan mereka itu tengah menghabiskan waktu bersama.
"Jadi, bagaimana sekarang sikap dokter Adi padamu?" tanya Tommy, keduanya sedang berada di dalam ruang teater bioskop yang di sewa oleh Tommy, maka dengan bebas keduanya berbicara atau melakukan apapun itu.
"Baik, meskipun tidak terlalu hangat, tapi Kakek sudah tidak sedingin sebelumnya" ucap Risha bersandar di dada Tommy.
"Dia tidak menyinggung tentang dokter lagi?"
"Tidak, aku juga sudah mengatakan jika aku tidak berminat menjadi dokter ataupun meneruskan perusahaan kakek" jujur Risha.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku sangat suka dengan fashion, mungkin aku akan mulai menekuni dunia busana, kain dan lainya" kata Risha tersenyum, Tommy mengecup kening gadisnya dengan penuh cinta.
Setelah selesai menonton atau lebih tepatnya mengobrol dalam bioskop, Risha dan Tommy keluar dari gedung bioskop dan menuju salah satu restoran di Mall itu.
"Papi" lirih Risha melihat Martin berjalan dengan Elea memasuki restoran yang sama.
"Hei sayang, kau disini?"
Cup..cup...
Martin mencium kedua pipi putrinya, mata Risha terus menatap Elea, begitupun dengan Elea.
"Kalian mau makan malam?" tanya Martin, Tommy mengangguk senyum.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" tawar Martin, Elea hanya diam tanpa bereaksi apapun.
"Sayang bagaimana?" tanya Martin merangkul pundak Elea karena Risha dari tadi diam saja.
"Bukan ide yang buruk" kata Elea datar. Lalu mereka berempat masuk kedalam private room restoran itu, suasana menjadi sedikit canggung karena dua wanita itu hanya membisu. Martin dan Tommy yang paham dengan kondisi itu langsung pamit ke toilet meninggalkan Elea dan Risha dalam kebisuannya.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana dan seperti apa" kata Risha membuka kebisuan itu.
"Aku tahu aku salah, sangat salah dan sangat menyakiti hatimu, aku minta maaf. Aku sungguh menyesali semuanya" ucap Risha dengan mata berkaca-kaca. Elea hanya diam menatap sendu Risha.
"Aku sudah memaafkan mu Risha" kata Elea, Risha mengangkat wajah dan menatap heran Elea. Gadis itu malah menangis dengan hebatnya.
"Sungguh, aku tidak memaksamu untuk memaafkan ku, aku tahu kesalahanku sangat besar, aku bisa mengerti jika kamu belum mau memaafkan ku" ucap Risha dalam tangis nya.
"Tidak, aku benar-benar sudah memaafkan mu. Aku tahu jika kau hanya ingin yang terbaik untuk Papi mu, aku bisa mengerti hal itu" jujur Elea, selama ini ia sudah merenungkan baik-baik apa yang di alaminya. Elea hanya ingin hidup tenang, tanpa dendam ataupun kesakitan yang berlarut-larut, maka Elea memilih untuk melepaskan, melupakan rasa sakitnya, dan menggantinya dengan kebahagiaan versinya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus berkata apa?" Risha menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Elea merasa jika dirinya lebih dewasa dari Risha dan posisinya sebagai ibu sambung, ia beralih ke kursi samping Risha dan memeluk gadis itu.
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Aku sungguh tidak apa-apa" bisik Elea sambil menepuk punggung Risha yang masih bergetar.
"Bisakah aku memanggilmu Mami lagi?" kata Risha dalam pelukan Elea.
"Ya, karena aku adalah istri Papi mu" ucap Elea tersenyum.
"Terimakasih Mami" ujar Risha penuh haru.
"Ya, berhentilah menangis" Elea mengurai pelukannya.
"Aku sangat bersyukur karena Papi menikahi wanita seperti Mami" Risha menatap bahagianya pada Elea.
"Why?"
"Karena Mami adalah wanita yang tepat untuk mendampingi Papi" kata Risha, Elea hanya tersenyum.
"Kau bersama Tommy?" tanya Elea.
"Ya, dan akhirnya Bang Tommy menyatakan cintanya padaku" ucap Risha.
"Kau masih mencintainya, bahkan setelah mengetahui hal itu?"
"Aku turut bahagia mendengarnya" kata Elea tersenyum, lalu Martin dan Tommy kembali masuk kedalam ruangan itu dan mereka makan malam bersama dengan suasana hangat dan bahagia.
🌼🌼🌼
Dua hari setelah acara makan malam tanpa rencana itu, hari ini Risha datang berkunjung kerumah Papi Maminya untuk pertama kali. Gadis itu membawa banyak mainan untuk adiknya yang baru berusia empat bulan.
"Hai Dave, kau benar-benar sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari pada yang di foto" Risha mengambil alih Davendra dari tangan Tiwi dan menggendong Davendra, bayi itu tersenyum seolah tahu jika Risha adalah Kakak nya.
"Kau sangat beruntung karena memiliki kakak cantik dan juga baik seperti ku" ucap Risha dengan percaya diri, Tiwi yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum.
"Dimana Mami?" tanya Risha pada Tiwi.
"Nyonya sedang tidak enak badan dan ada di kamarnya, Nona" kata Tiwi, Elea memang akhir-akhir ini sering tidak enak badan, dan mood swings nya sangat berantakan.
"Benarkah? Tapi kemarin baik-baik saja" gumam Risha.
"Aku akan melihat Mami dulu" kata Risha kembali memberikan Dave pada Tiwi. Gadis itu beranjak ke kamar Elea.
Tok...tok...tok...
Ceklek....
__ADS_1
Risha membuka pintu kamar Elea, kamar itu tampak gelap karena jendela nya di tutup oleh gorden tebal berwarna abu-abu. Hanya ada cahaya dari sebuah televisi.
"Mami, are you oke?" tanya Risha panik melihat Elea menangis tersedu-sedu.
"No, I'm not okay" jawab Elea pelan.
"Ada apa? Apa Papi melakukan sesuatu pada Mami? Atau ada seseorang yang menyakiti Mami?" tanya Risha.
"Lihatlah betapa malang nasibnya? Dia tidak di akui ayahnya, di kecewakan ibunya, tapi saat ada wanita yang sangat mencintai nya, dia malah punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan hiks...hiks.... Kenapa naskahnya sekejam itu? Apa penulisnya punya dendam pribadi sama dia hiks...hiks....dia terlalu tampan untuk kisah setragis itu" cerocos Elea sambil menghapus air mata dan ingusnya membuat Risha ternganga tidak percaya.
"Jadi Mami menangis karena Mont drama ini?" Risha memastikan.
"Ya, hiks...hiks.... memangnya kenapa? Tidak boleh? Atau kau mau bilang kalau Mami mu ini lebay dan kekanak-kanakan?" tanya Elea membuat Risha bungkam.
"Ya, Mami benar. Bukankah dia terlalu tampan dan gagah untuk pria berpenyakitan? Lihatlah betapa kekar otot lengannya, dan dadanya begitu bidang untuk bersandar" kini Risha ikut-ikutan berkomentar.
Keduanya larut menonton hingga sore tiba, bahkan saat Martin masuk kedalam kamarnya, anak dan istrinya tidak menyadari hal itu.
"Ehemmm" dengan sengaja Martin berdehem keras.
"Papi sudah pulang?" Risha langsung memeluk Martin. Namun tidak dengan Elea, wanita itu tetap fokus di layar datar yang ada didepannya.
"Sudah berapa lama kalian nonton?" tanya Martin.
"Mungkin sekitar empat jam yang lalu" jujur Risha karena sekarang sudah pukul lima sore.
"Ada apa dengan Mami?" bisik Risha.
"Entahlah, akhir-akhir ini apa yang Papi lakukan selalu salah dimata Mami mu" sahut Martin.
"Wait, Mami gak mungkin hamil lagi kan?" tanya Risha yang curiga dengan tingkat emosional Elea meskipun baru bersama selama empat jam.
"Kenapa gak mungkin?" kata Martin tersenyum lebar, mengingat kegiatan panas ya dengan sang istri, bukan tidak mungkin jika Elea hamil lagi?.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1