
Martin tengah berbicara serius dengan seseorang di dalam ruang kerjanya. Karena Anton sang asisten belum kembali dari luar Negeri, jadi dengan terpaksa Martin meminta bantuan orang yang saat ini duduk di hadapannya. Dia adalah Herman, usianya 45 tahun. Herman adalah orang kepercayaan papa Adnan, ia sudah bekerja selama 20 tahun bersama papa Adnan, maka dari itu Papa Adnan sangat percaya pada Herman untuk mendampingi Martin mengurus perusahaan.
"Her, tolonglah bantu aku" bujuk Martin, meskipun Martin lebih muda dari pada Herman, namun tidak membuat Martin memanggil Herman dengan embel-embel Kak, Abang, atau Mas.
"Aku bisa saja membantu mu, tapi apa yang aku kerjakan harus aku laporkan pada Tuan Adnan tanpa terkecuali, dan kau tahu itu kan?" sahut Herman, Papa Adnan memang tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke kantor atau menandatangani sebuah dokumen perusahaan, namun bukan berarti Papa Adnan tidak tahu menahu tentang perkembangan perusahaan dan lainya, sebab Herman selalu melaporkan semuanya secara detail.
"Sebenarnya tidak masalah, tapi aku malas jika sampai Mama tahu. Sebab Mama pasti akan mengajukan banyak pertanyaan, dan aku sendiri bingung harus menjawab apa?" ujar Martin lesu.
"Memangnya untuk apa istri mu meminta uang sebanyak itu?" Herman juga penasaran, namun Martin hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
"Aku yakin jika Elea bukan tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang, tapi bukan berarti kamu tidak tahu apa saja yang dilakukan Elea di belakang mu Martin" nasehat Herman.
"Aku tahu Her, dan aku percaya pada Elea. Dia tidak mungkin berbuat hal-hal yang tidak benar, meskipun aku belum lama mengenalnya, tapi hatiku yakin jika Elea adalah wanita yang baik" sahut Martin membayangkan istrinya.
"Tapi Elea sangat liar jika di atas ranjang" gumam Martin dalam hati, pria dewasa itu tersenyum mengingat percintaan panasnya tadi malam.
"Baiklah, aku akan membantumu menyiapkan uang itu. Tapi jika Tuan Adnan bertanya padamu, jangan salahkan aku"
"Tidak bisakah kau menjadi Kaka yang baik untuk adikmu ini Her?" ucap Martin memelas.
"Sejak kapan aku jadi Kakak mu, lagi pula aku juga tidak mau punya adik yang tidak memanggil ku dengan sebutan Kakak" sahut Herman menatap sinis pada Martin. Sebenarnya pria itu tidak keberatan jika Martin hanya memanggil namanya saja, namun ia merasa jengah setiap ada apa-apa selalu mengatas namakan jika mereka Kakak adik, bukankah itu sangat menyebalkan?.
"Jadi kau inging agar aku memanggil mu dengan sebutan kakak?" tanya Martin.
"Tidak perlu, karena itu akan terdengar sangat menggelikan" tolak Herman.
"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganmu, nanti sore akan ku antar uang itu ke rumah" ucap Herman bangkit dari duduknya.
"Kamu memang terbaik, my bro" ucap Martin terkekeh geli, sedangkan Herman menatap tak suka mendengar kata-kata my bro yang Martin ucapkan.
🌼🌼🌼
Elea kini berada di gajebo taman belakang, sebelum hari ini Ela ingin menemui Fara di rumahnya, namun sang Mama mertua melarang Elea keluar rumah, sebab kemarin Elea pergi hingga kelelahan sampai rumah. Seperti biasa, Mama mertua Elea itu mengatakan jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada calon cucunya, entahlah bagaimana Elea mendeskripsikan perasaannya, disisi lain Elea senang karena anaknya begitu di sayang oleh keluarga suaminya, tapi disisi lain Elea miris karena merasa tidak ada yang benar-benar sayang dan menerima kehadirannya.
"Nyonya, ini mangga nya" ucap mbok Minah memberikan sepiring buah mangga matang pada Elea. Wanita hamil itu tidak menginginkan buah-buahan yang bercitarasa asam, seperti mangga muda yang biasa di hari-hari wanita hamil pada umumnya. Elea memilih mangga matang yang manis juga buah-buahan manis lainnya.
__ADS_1
"Terimakasih mbok" Elea menerima piring itu dengan senyum cerah.
"Ada sesuatu lagi yang Nyonya inginkan?"
"Tidak ada mbok, lagi pula kenapa mbok masih saja memanggil ku Nyonya? kan sudah Elea bilang, panggil Elea saja" ujar Elea, merasa tidak nyaman dengan sebutan Nyonya.
"Mana bisa begitu, di rumah ini kan ada dua Nyonya, satu Nyonya sepuh dan satu lagi Nyonya muda, ya Nyonya Elea. Istrinya Tuan Martin" jelasnya.
"Tapi kalau hanya berdua gini panggil Elea saja Mbok, anggap saja kalau Elea anak mbok Minah" ucap Elea memohon.
"Tapi...."
"Apa Elea begitu burung hingga mbok Minah tidak mau menganggap Elea sebagai anak Mbok?" sela Elea.
"Bukan begitu, hanya saja" mbok Minah ragu memanggil Elea hanya dengan namanya saja, tapi melihat wajah melas Elea, ada rasa kasihan juga.
"Baiklah, mbok panggil kamu Elea, puas?" tanyanya membuat Elea tersenyum.
"Terimakasih ya Mbok" ucap Elea memeluk pinggang mbok Minah.
"Siap Mbok" Elea menjawab dan memberikan hormat pada mbok Minah. Wanita tua itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya meninggalkan Elea yang menikmati potongan buah mangga di gajebo.
🌼🌼🌼
Risha dan Citra berjalan beriringan baru saja keluar dari dalam kelas, dua sahabat itu berencana ke Kafe dekat kampus yang menjadi langganan para mahasiswa dan mahasiswi untuk jajan selain kantin yang ada di kampus.
"Gue kok merasa gak asing ya liat Mami Lo Ris" ucap Citra membuka obrolan sambil berjalan.
" Oh ya? masa sih?" Risha sedikit ragu, karena setahu Risha. Mami sambungnya itu tidak punya banyak teman, bahkan satu-satunya Tan yang di miliki Elea hanya Fara, dan Risha sudah tahu itu.
"Hem, tapi gue lupa pernah liat nya dimana" ujar Citra.
"Mungkin aja Lo ketemu orang yang kebetulan mirip sama mami gue" sahut Risha realistis.
"Mungkin juga sih" Citra setuju dengan apa yang di katakan oleh Risha.
__ADS_1
"Ehh...bukan ya itu Abang Lo?" Risha menyikut perut Citra.
"Eh iya, ayo kita samperin" ajak Citra menarik tangan Risha.
"Bang!!!" seru Citra memanggil Abang nya.
"Hei, udah selesai kuliah nya?" tanya pria tampan itu.
"Udah, Abang ngapain kesini? tumben" heran Citra.
"Abang pingin ajak kamu jalan-jalan, mumpung Abang lagi free. Mau nggak?" tawarnya.
"Ya kali aku gak mau, mau lah, mau banget malahan. Tapi ajak Risha ya" pinta Citra.
"Ehhh gak usah Cit, kali aja Abang Lo pingin quality time sama Lo" tolak Risha.
"Gak apa-apa kok Ris, ikut ajah. Kan cuma jalan-jalan ke Mall ini" ucap Abang nya Citra.
"Tuh kan gak apa-apa, ayo ikut. Kita bantuin Abang gue ngabisin isi dompet nya" Citra langsung menarik Risha menuju mobil milik Abang nya.
"Loh...loh...kok gue di depan?" protes Risha ketika Citra membukakan pintu depan untuk Risha.
"Udah gak apa, Abang gue lagi jomblo" bisik Citra membuat wajah Risha bersemu merah.
Ya sudah lama Risha naksir bang dari sahabat nya itu, tapi dulu setahu Risha, Abang nya Citra itu sudah punya kekasih, bahkan sudah berencana melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Tapi entah apa yang terjadi pada Abang Citra dan kekasihnya itu sehingga baru saja Citra mengatakan jika Abang nya sedang jomblo alias single. Tentu saja bisikan Citra membuat Risha senang karena ada kemungkinan untuk mendekati dan mendapatkan Abang nya itu.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
TBC 🌺