Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Ambisi


__ADS_3

Risha memutuskan untuk menetap beberapa saat di rumah nenek kakeknya dari pihak Astrid, dan sudah dua hari berlalu sejak Risha tinggal dirumah ini, belum ada tanda-tanda sikap ramah Aditama pada cucu satu-satunya nya itu. Bahkan Risha bagai tak kasat mata di depan Aditama.


Berbeda dengan Dewi yang bersikap ramah dan hangat pada Risha, membuat gadis itu betah dan nyaman di rumah tempat Mami nya di besarkan.


"Apakah Papa tidak bisa bersikap sedikit ramah pada Risha? Dia adalah satu-satunya peninggalan berharga dari Astrid, bahkan wajahnya sangat mirip dengan Astrid" kata Dewi pada Aditama, keduanya sedang berada di dalam kamar.


"Jangan membahas ini Mah" sahut Aditama membaca sebuah buku Orthopedi dan Traumatologi.


"Memangnya Papa tidak kasihan melihat Risha tidak nyaman saat Papa menatap nya?"


"Jika dia tidak nyaman, biarkan saja dia kembali kerumahnya" kata Aditama cuek.


"Sungguh? Serius? Apakah kau benar-benar dengan kata-kata mu itu Aditama?" kesal Dewi mendengar jawaban suaminya.


"Coba kau tanyakan dalam hatimu, benarkah kau tidak ingin Risha tinggal disini?" pungkas Dewi lalu keluar dari kamarnya.


Aditama menghela nafas kasar, dan melepaskan kacamata nya, pria itu juga meletakkan buku yang di bacanya di atas nakas samping tempat tidur.


"Memangnya aku harus bagaimana? Menerima, menyayangi sepenuh hati lalu di kecewakan lagi?" gumam Aditama, pria tua itu masih berambisi jika keturunannya bisa menjadi seorang dokter, besarnya harapan yang di gantungkan pada Astrid membuat nya menelan kekecewaan yang teramat sangat.


"Jika saja dulu Dewi tidak keguguran, mungkin gelar dokter akan terus di sandang keluarga Praja" lirih Aditama, memang dari Kakek buyut keluarga Praja adalah seorang dokter, hal itu juga yang membuat Aditama sangat berambisi menjadikan Astrid seorang dokter, tapi apa mau dikata? Disamping Astrid tidak begitu berminat menjadi dokter, garis takdir juga tidak mengizinkannya menjadi dokter.


🌼🌼🌼


Risha berada di gazebo taman belakang, gadis itu baru saja mendapatkan kabar dari Tommy, jika Papi nya sudah berhasil menemukan Elea. Namun baik Papinya ataupun kakek Adnan tidak memberitahu apapun padanya.


"Sayang, kau disini?" Dewi menghampiri Risha, gadis itu mengembangkan senyumnya.


"Ada apa? Apa yang mengganggu pikiran mu?" tanya Dewi peka melihat wajah sendu Risha.


"Tidak ada Nek, Risha hanya lelah karena terlalu banyak tugas dari kampus" kata Risha tidak sepenuhnya bohong.


"Jangan terlalu memaksakan diri sayang, tidak harus sempurna tapi lakukanlah yang terbaik semampu mu" kata Dewi menasehati Risha, gadis itu hanya mengangguk.


"Bagaimana pernikahan Papi mu? Kau tidak keberatan dengan itu?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Awalnya Risha keberatan dan menolak keras"


"Oh ya? Kenapa?"


"Istri baru Papi hampir sebaya dengan Risha, dia gadis muda berusia 22 tahun" cerita Risha.


"Bagaimana bisa?" Dewi terkejut, ia memang tidak begitu tahu kehidupan mantan menantunya itu.


"Risha tidak begitu paham ceritanya, tapi Risha cukup bisa menerima kehadirannya dan dia perempuan yang baik" ujar Risha mengingat sosok Elea.


"Kalian pasti seperti teman, bukan ibu dan anak" kata Dewi.


"Hemm, Mami Elea tidak pernah memposisikan dirinya sebagai Ibu, tapi sebagai teman baik dan hal itu membuat Risha nyaman bersamanya" jujur Risha.


Dirumah keluarga Hariz, Asri cukup kelimpungan karena beberapa hari ini tidak bisa menghubungi Risha, bahkan cucunya itu sudah satu minggu tidak berkunjung kerumahnya.


"Mama kenapa?" tanya Adnan Hariz melihat istrinya mondar mandir dengan ponsel di tangannya.


"Mama menghubungi Risha, tapi tidak di angkat. Sudah tiga hari ini Mama tidak mendengar suara Risha" jujurnya terlihat gelisah.


"Risha kesana? Untuk apa?" Asri terlihat tidak suka mendengar cucunya berkunjung ke rumah mantan besannya.


"Risha mengunjungi rumah kakeknya, apakah ada yang salah?" Adnan melepaskan kacang nya dan merebahkan tubuhnya.


"Bahkan sejak lima tahun terakhir keluarga dokter itu tidak pernah perduli dengan Risha, lalu apa sekarang?" ujar Asri dengan nada sinis.


"Yang lalu biarkan berlalu Mah, kini Risha berusaha memperbaiki hubungannya dengan keluarga Praja. Bukankah itu hal yang bagus?"


"Tidak, itu sangat tidak bagus! naga jika Risha di paksa menjadi dokter? Papa tahu kan bagaimana Aditama begitu terobsesi dengan kata-kata dokter?" seru Asri tidak rela jika Risha menjadi dokter.


"Risha sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya"


"Papah!" serunya tak terima.


"Sudah Mah, jangan mendebat hal ini. Biarkan Risha memilih dan menentukan jalan hidupnya" kata Adnan.

__ADS_1


"Bukankah Papa dulu juga memaksa Risha untuk kuliah bisnis?" sinisnya.


"Ya, Papa memang memaksa Risha belajar bisnis. Tapi sekarang Papa menyadari jika apa yang Papa lakukan adalah sebuah kesalahan, dan sekarang Papa tidak akan menuntut apapun pada Risha" ucap Adnan menyadari kesalahannya.


"Apakah sikap Papa seperti ini karena kehamilan Elea? Papa masih punya pilihan cucu lainya meneruskan...."


"Aku tidak sepicik itu Asri, aku yakin jika kau sangat tahu bagaimana sifatku. Ada tidaknya Elea, aku tetap dengan keputusan ku, menyadari suatu kesalahan dan mengakuinya bukanlah hal yang mudah. Aku hanya ingin anak cucuku menjalankan hidupnya dengan bahagia" kesal Adnan.


"Lebih baik kau pikirkan sebuah cara untuk membuat Elea kembali kerumah ini, karena Martin sudah menemukan nya" ucap Adnan.


"Benarkah? Lalu dimana mereka? Aku akan minta maaf dan membujuk Elea agar kembali kerumah ini" kata Asri antuasias.


"Kau pikir itu hal yang mudah? Mungkin Elea bisa memaafkan mu, tapi untuk kembali kerumah ini. Aku bahkan tidak yakin" ujar Adnan.


"Mengapa begitu? Jangan mempersulit keadaan Pah, semuanya bisa selesai dengan kata maaf. Apalagi Mama sangat tulus dan menyesali perbuatan Mama" yakin Asri, jika dirinya bisa membuat Elea kembali kerumah dengan kata maaf dan bujukannya.


"Kau tidak belajar dari kesalahanmu rupanya. Kau tahu? Asri yang ku kenal 40 tahun yang lalu jauh lebih bijaksana dari pada Asri yang sekarang ada di depan mataku" kata Adnan tidak mengerti arah jalan pikiran istrinya.


"Apa maksud Papa?" Asri tidak paham dengan perkataan suaminya.


"Sudahlah, kita hentikan pembahasan ini" Adnan menarik selimut tebalnya dan bersiap untuk tidur.


Asri menatap kesal pada suaminya, ia merasa jika suaminya tidak menghargai niat baiknya untuk meminta maaf pada menantunya yang lebih muda. Namun Asri menyadari kesalahannya, hingga ia berniat dan bersedia minta maaf pada Elea. Tapi melihat respon sang suami, Asri merasa tidak di dukung bahkan terkesan semakin disalahkan juga di pojokan.


"Memangnya apa lagi yang harus aku lakukan selain minta maaf dan membujuk Elea agar mau tinggal dirumah ini? Apa aku harus bersujud di kaki wanita itu?" gerutunya dengan kesal. Adnan yang memang belum tidur tentu saja mendengar gerutuan istrinya itu, namun pria itu memilih diam karena merasa percuma jika bicara.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2