
Tommy duduk di tepi ranjang Citra, sedangkan sang adik tengah berdiri mengangkat kaki kanannya dengan kedua tangan menjewer telinganya sendiri. Benar, gadis itu tengah di hukum oleh Abang nya karena mulutnya terlalu sering mengumpat kata-kata kasar, dan tidak pernah berubah meskipun berulang kali Tommy peringatkan.
"Bang, udah dong. Citra capek, Citra benar-benar menyesal" ucap gadis itu memelas pada Tommy.
"Kamu harus merubah kebiasaan buruk mu itu Citra, kamu itu perempuan, tidak baik mengucapkan kata-kata kasar seperti itu" Tommy menasehati adiknya.
"Iya iya, Citra janji akan berubah" Citra mengucapkan janji untuk kesekian kalinya.
"Huhhh...ya sudah, kamu boleh duduk" Tommy bukanlah pria tega, apalagi pada saudari satu-satunya.
"Terima kasih Abang ku" Citra langsung menghambur memeluk Tommy.
"Ngomong-ngomong kenapa Abang masuk kamar Citra? Tumben" tanya Citra, karena Tommy lebih suka tinggal di apartment pribadi nya dengan alasan lebih nyaman dan tenang tanpa gangguan sang adik, dan tentunya tanpa harus menghadapi omelan ibunya jika pulang larut ataupun pagi hari.
"Ahh...hampir Abang lupa" ucap Tommy.
"Kamu tahu Mami barunya Risha?"
"Tante Elea? Kenapa?"
"Kamu sudah bertemu dengannya bukan?"
"Tentu saja, beberapa minggu yang lalu kami hang out bareng, kenapa?"
"Kamu tidak ingat dengan wanita itu?" Tommy menatap wajah adiknya.
"Pertama kali Citra lihat Tante El, sih emmmm.... Citra merasa gak asing, tapi Citra gak ingat sampai sekarang" ucap Citra, ia memang sejak lama mengingat tentang sosok Elea, namun tidak berhasil mengingatnya.
"Elea kan wanita bayaran yang Abang sewa atas rekomendasi kamu" ceplos Tommy mengingatkan Citra tentang Elea.
"Hahh...." gadis itu terkejut, namun langsung paham dang ingat segalanya.
"Eh..iya juga, kenapa Citra bisa lupa?"
"Tapi bagaimana Om Martin bisa menikahi wanita seperti itu? Dan Nenek Kakek Risha juga merestui nya" ucap Citra.
"Soal itu, Abang gak tahu"
"Apa jangan-jangan Tante Elea menyembunyikan identitasnya? maksudnya berbuih tentang pekerjaan nya?"
"Sepertinya begitu"
"Jadi, Tante Elea wanita" Citra menggerakkan kedua jarinya menyebut Elea adalah wanita yang dengan tanda kutip.
"Tapi katanya Elea tidak pernah sampai naik ranjang tamunya"
"Kata siapa?"
__ADS_1
"Abang lupa, tapi sebelum bertemu dengan Elea, Abang bertemu dengannya membicarakan soal bayaran dan lainya"
"Citra gak yakin kalau wanita bayaran seperti itu tidak pernah naik ranjang tamunya. Apalagi jika di janjikan bayaran lebih, pasti dia akan dengan senang hati melemparkan tubuhnya keranjang tamunya" Citra mengutarakan pendapatnya, meskipun kebanyakan wanita bayaran seperti itu, sayangnya tidak dengan Elea.
"Ya udahlah, Abang hanya mau memastikan sama kamu kalau kamu ingat tentang Elea. Ternyata kamu malah lupa"
"Iya, Citra benar-benar lupa. Tapi sekarang Citra sudah ingat semuanya, dan Citra akan mengatakannya pada Risha" ucap Citra menahan geram, ia mengira jika Elea menipu keluarga sahabatnya.
"Ehh...ngapain? Untuk apa mengatakan nya pada Risha? Biarkan saja, itu bukan urusan kita" larang Tommy.
"Gak bisa gitu dong Bang, Risha itu sahabat terbaik Citra, Citra gak rela kalau Risha dan keluarganya menjadi korban penipuan wanita murahan itu" ujar Citra menggebu.
"Tapi Risha sudah sangat bahagia dan dekat dengan Elea, sayang"
"Jika lebih lama lagi Risha tahu, maka rasa sakitnya akan semakin dalam Bang, karena Risha akan semakin menyayangi wanita itu"
"Tapi..."
"Udahlah, Abang diam saja. Biar citra yang memberi tahu Risha"
"Terserah kamu saja kalau begitu, tapi jika setelah kamu mengatakan hal itu membuat Risha sedih bagaimana?"
"Citra yakin kalau kesedihan Risha hanya sebentar, lagian ada Abang yang akan menjadi tempatnya bersandar" ucap Citra tersenyum penuh arti.
🌼🌼🌼
Elea melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan lemas, tidurnya tidak nyenyak karena pikirannya melayang kemana-mana. Namun wanita hamil itu harus tetap turun untuk melakukan rutinitas sehari-harinya, yaitu sarapan bersama.
"Pagi" sahut papa Adnan.
"Kamu kenapa El?" Mama Asri melihat ada kantung mata pada wajah menantunya itu.
"Elea gak apa-apa Mah" bohong nya.
"Kamu tidak bisa tidur semalam?"
"Itu...iya Mah" jujur Elea.
"Mami benar-benar merindukan Papi?" tanya Risha yang baru saja bergabung, sedangkan Elea hanya tersenyum canggung di depan mertuanya.
"Ini susunya Nyonya, masih panas" mbok Minah memberikan susu hamil itu pada Elea.
"Terimakasih Mbok" ucap Elea tersenyum, namun ia tidak mendengarkan apa yang mbok Minah katakan.
"Ahhh...." jerit Elea ketika tangannya memegang gelas susu itu.
Pyarrrrrrr.....
__ADS_1
Reflek Elea menjatuhkan gelas berisi susu coklat yang masih panas itu.
"Aduh...panas..." jerit Elea, kakinya tak luput dari tumpahan susu panas itu, bahkan pecahan gelas ada yang menggores kakinya.
"Mami, Elea" ucap tiga orang yang ada di dekat Elea.
"Maaf..maaf" ucap Elea menahan rasa panas, perih dan nyeri di kakinya.
"Ya ampun Mih...." Risha mendekati Elea.
"Ada darahnya" ucap Papa mertua.
"Minah...Minah...cepat ambilkan kotak obat" teriak Mama Asri.
"Kamu itu mikirin apa sih El? Kan Minah sudah bilang kalau susu itu masih panas" mama Asri menahan geram melihat kecerobohan menantu nya.
"Maaf mah, Elea tidak sengaja" ucap Elea dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah-sudah, jangan di omeli Elea nya Mah" kata papa Adnan.
Elea menangis sesenggukan seperti di tinggal mati orang terdekatnya, bukan karena sakit, tapi karena ia menahan kesal sejak tadi malam. Tidur tak nyenyak karena ketakutan tanpa alasan, seandainya Elea punya ibu, ingin rasanya Elea menangis di pangkuan ibunya, jika saja Elea memiliki Ayah, pasti Elea akan berlindung di punggung ayahnya dan bersandar di bahu kokoh itu. Namun semuanya adalah angan dan khayalan semata, Elea tidak memiliki keduanya, sedangkan suami? Bahkan Elea tidak bisa mengatakan dengan jujur apa yang ada dalam hatinya pada pria yang berstatus suaminya itu.
"Apakah sangat sakit?" tanya Risha melihat kaki putih Elea berubah menjadi merah karena tersiram susu panas, dan beberapa luka bekas serpihan gelas itu menancap.
"Hiks...hiks....iya huuu...huuu...." air matanya luruh dengan deras, tanpa malu lagi menangis di depan kedua mertuanya. Elea sungguh kesal.dan lelah dengan kehidupannya.
"Kita bawa ke rumah sakit saja kalau begitu" ucap papa Adnan melihat menantunya menangis tergugu.
"Ya..yaaa... Minah, bilang sama Umar untuk menyiapkan mobil, kita akan bawa Elea ke rumah sakit" titah mama Asri, ia juga ikut panik melihat Elea menangis seperti itu.
"Ba...baik Nyonya besar" mbok Minah langsung berlari mencari Umar, supir keluarga Hariz untuk menyiapkan mobil.
"Aduhhhh" keluh Elea memegangi perutnya.
"Kenapa Mih? Kenapa El?" tanya Risha dan mama Asri.
"Per...perut Elea kram Mah...hiks...hiks..." ucap Elea dengan terisak, nemanbah kepanikan mertua dan anak sambungnya.
"Tahan ya Mih....mami pasti kuat" ucap Risha yang juga ikut berkaca-kaca, melihat Elea menangis.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺