
Martin termenung didalam sebuah taksi yang membawanya pulang kerumah, setelah memastikan apa yang di katakan Fara adalah kebenaran, pria itu langsung bergegas pulang dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya merasa jika ada sesuatu yang salah, tapi Martin sendiri tidak mengerti apa itu.
"Kenapa Papa berbohong? Kenapa Papa bilang kalau Elea menginap di rumah temannya? Padahal dirumah Fara tidak ada Elea, lalu kemana istri ku?" gumam Martin sepanjang jalan.
🌼****Flashback On🌼****
Tut....Tut....Tut.....
Untuk kesekian kalinya Martin menghubungi ponsel Papa Adnan, ia sangat berharap jika kali ini panggilan nya akan di jawab oleh pemilik nomer itu. Dan seolah Dewi Fortuna berpihak padanya, karena Papa Adnan kini menjawab telepon nya.
📞
"*Hallo Martin, apa ada nak?" *
"Papa dari mana saja? Kenapa baru menjawab teleponku? Aku sudah menelepon papa dari subuh tadi"
"Maaf papa tidak tahu, ponsel Papa kan papa silent, ada apa?"
"Lalu bagai dengan ponsel Mama dan Risha? Apakah di silent juga?"
"Papa tidak tahu, memangnya kenapa?"
"Martin cemas dan khawatir karena tidak ada menjawab telepon Martin, bahkan telepon rumah juga tidak di jawab" keluhnya.
"Tapi telepon rumah tidak berdering sama sekali, Minah pasti akan mengangkat nya jika telepon rumah berdering" bohongnya.
"Lalu kenapa Risha dan Elea tidak menjawab teleponku Pah?"
"Risha tadi malam pulang larut karena ada tugas dari kampus nya, mungkin ponselku juga di silent makanya tidak di jawab. Bahkan gadis itu belum turun untuk sarapan"
"Lalu kemana Elea? Tidak mungkin jika Elea jam segini belum bangun?" Martin melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.55.
"Papa juga tidak tahu, Elea pamit pergi menginap di rumah sahabatnya karena beberapa hari ke depan Risha akan sibuk dengan kegiatan kampus nya, jadi karena bosan, Elea menginap di rumah sahabatnya"
"Sahabat? Fara?"
"Papa mana tahu sahabat istrimu?"
"Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa Pah, baiklah Martin meeting dulu" lalu pria itu mengakhiri panggilan nya
__ADS_1
Tut 📞.
🌼****Flashback Off🌼****
Papa Adnan terlihat sedang serius berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Pria tua itu terlihat kesal karena seseorang di ujung telepon sana mengatakan hal yang tidak ia harapkan.
"Saya tidak mau tahu, kalian harus menemukan nya dalam dua puluh empat jam. Saya tidak ingin mendengar kabar tidak berhasil atau kata maaf!" titahnya pada sang anak buah lalu mengakhiri panggilan itu. Sebenarnya tidak lama setelah Elea pergi dari rumah, pria itu sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan sang menantu, namun entah mengapa hingga kini belum juga ketemu, terlebih sejak tadi pagi sang putra terus-terusan menelpon nya. Ia tak tahu apa yang harus di katakan pada Martin tentang istrinya, hingga akhirnya memilih berbohong jika Elea menginap di rumah sahabatnya.
"Semoga Martin tidak pulang sebelum Elea di temukan" ucapnya penuh harap.
"Memangnya siapa yang mencari wanita itu sehingga Papa bilang ditemukan?" tanya Mama Asri yang tiba-tiba berdiri di belakang suaminya.
"Jangan bilang kalau Papa menyuruh orang untuk mencari wanita itu!" tebaknya sangat tepat.
"Papa mencari menantu Papa, Elea adalah istri Martin. Biarkan Martin yang menyelesaikan permasalah ini" ujarnya membuat mata istrinya membulat.
"Papa benar-benar keterlaluan! Hubungan Martin dan wanita itu sudah berakhir, Mama tidak sudi melihat wajahnya lagi! Bahkan menyebut namanya Mama jijik"
"Suka tidak suka Elea masih menjadi istri sah Martin dimata hukum dan agama. Dan Mama tidak bisa mengubah itu kecuali Martin ataupun Elea sendiri yang ingin mengakhiri pernikahan mereka" tegasnya, pria itu tidak percaya jika sang istri yang selama ini bersikap bijaksana menjadi kekanak-kanakan seperti ini.
"Tidak bisa! Martin itu putra Mama, Mama yang mengandung dan melahirkannya, Mama yang merawat dan membesarkannya, dan Mama tidak rela jika Martin mendapatkan istri seperti wanita itu! Dia tidak pantas menjadi istri Martin, dia wanita bayaran, wanita murahan, wanita malam, dia juga wanita rendahan, dia tidak pantas menjadi bagian keluarga Hariz!" serunya dengan amarah yang meluap-luap.
"Dan Mama akan mengusirnya lagi dari rumah ini!"
Brukkk....
Martin menjatuhkan kopernya saat mendengar ucapan Mama Asri 'akan mengusirnya lagi' hati Martin menjadi resah dan jantungnya berdebar-debar.
"Apa yang Mama maksud dengan kata mengusirnya lagi?" tanya Martin yang baru saja menginjakkan kaki dirumah.
"Martin" kata sepasukan suami istri itu bersamaan.
"Kau sudah pulang kenapa tidak memberi tahu Papa?" ucapan mendekati Martin.
"Mah, tolong jawab pertanyaan Martin?" mata pria itu terus menatap mama Asri yang terlihat kebingungan.
"Mart...." Martin mengangkat tangannya sebagai isyarat agar papanya diam.
"Mah" ulang Martin dengan nada rendah.
"Jangan bilang kalau yang mama usir adalah istriku" ucap Martin menekan hatinya, dan berharap jika memang bukan Elea yang di usir oleh mamanya.
__ADS_1
"Ya, tebakanmu memang benar. Mama telah mengusir wanita itu" ujarnya dengan sinis membenarkan tebakan Martin. Papa Adnan yang menyaksikan semua itu hanya bisa memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya.
Deg....
Dada Martin bergemuruh mendengar pengakuan dari wanita yang telah melahirkannya itu, wanita yang ia cintai dan tengah mengandung buah hatinya telah di usir oleh wanita yang begitu berjasa dalam hidupnya.
"Kenapa Mama mengusir Elea? kesalahan apa yang telah dilakukan oleh istriku sehingga Mama tega mengusir nya?" tanya Martin sebisa mungkin menahan emosi nya agar tidak meninggikan suara pada Mamanya.
"Dari awal Mama memang tidak suka dengannya, bibit bebet bobot nya tidak jelas! Dia bukan wanita yang bisa kita bangga sebagai menantu keluarga Hariz, dan lebih parahnya lagi, wanita itu adalah wanita bayaran, murahan, rendahan, wanita malam, jal..."
"CUKUP!!!" seru Martin tidak tahan mendengar istrinya dihina dan direndahkan.
"Mama tahu dari mana jika istriku seperti itu? MAMA TAHU DARI MANA??" teriak Martin membuat wanita 69 tahun itu terjingkat.
"Kau membentak Mama hanya karena wanita rendah..."
"ELEA MAH! ELEANOR BELVINA NAMANYA, DAN DIA ADALAH ISTRIKU!" sela Martin menatap wajah Mamanya.
"Mama tidak perduli dengan namanya, bagi Mama dia adalah wanita mur..."
"Elea istriku Mah, dan dia adalah wanita baik-baik"
"Jika dia wanita baik-baik lalu mengapa bekerja sebagai wanita bayaran? Dia pasti sama saja dengan ****** yang menjaj...."
"BERHENTI MAH! MAMA, TIDAK TAHU APA-APA TENTANG ISTRIKU" seru Martin tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Elea wanita baik-baik Mah, bagaimana bisa Mama menuduhnya seperti itu? Kemana pernah istri ku?" mata Martin suda memerah memikirkan kemana perginya sang istri.
"Hanya karena dia pernah menjadi wanita bayaran lalu Mama menyamakan nya dengan wanita malam di luar sana? Apa Mama pikir mudah menjalani hidup tanpa nama orang tua? Elea melakukan pekerjaan itu hanya untuk menafkahi dirinya, bukan untuk menimbun harta lalu hidup berfoya-foya. Dia juga tidak akan melakukan pekerjaan itu jika mendapatkan pekerjaan yang layak" tutur Martin air matanya mulai mengalir. Bersalah, pria itu merasa sangat teramat bersalah pada istrinya, Martin merasa gagal melindungi dan menjaga Elea juga buah hatinya. Ia hanya berharap jika di luar sana Elea bertemu dengan seseorang yang baik hati dan memberikan perlindungan hingga ia bisa menemukannya.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1