
Herman datang ke kediaman Hariz tepat setelah keluarga besar Tuan nya itu selesai makan malam, bahkan Elea dan Martin sudah kembali ke kamar, maka pertemuannya dengan papa Adnan dan Mama Asri tidak dapat di elak kan. Meskipun tidak bertemu dengan papa Adnan, Herman juga tetap akan memberikan laporan pada Tuan nya itu, namun sayangnya Herman juga bertemu sang Nyonya besar.
"Tumben kamu datang kesini Her" Mama Asri ikut duduk di samping suaminya.
"Saya ada kepentingan dengan Tuan Martin Nyonya"
"Dengan Martin? memangnya Anton kemana?" tidak biasanya Martin berurusan dengan orang kepercayaan suaminya itu, sebab jika menyangkut Martin, maka Anton lah yang akan menghandle nya.
"Anton masih berada di luar negeri untuk menghandle proyek di sana" jelas Herman.
"Ya sudah, ikut ke ruangan saya saja. Biar Martin yang menyusul kesana nanti" ajak papa Adnan, pria baya itu penasaran dengan kepentingan Herman dan Martin.
Herman melangkahkan kakinya mengikuti sang Tuan, dirinya cukup lama tidak bertemu dengan Boss nya itu. Terakhir kali bertemu adalah saat resepsi pernikahan Martin dan Elea, setelah itu dirinya sibuk di kantor sedang sang Boss sibuk jalan-jalan. Meski begitu, setiap bulan bahkan setiap minggu Herman tetap berkomunikasi dengan papa Adnan.
"Ada masalah apa sampai Martin minta bantuan mu?" tanya papa Adnan ketika sudah sama dalam ruangan kerjanya.
"Tuan Martin meminta saya untuk mencair kan uang Tuan" jujur Herman.
"Mencairkan uang? untuk apa? dan berapa banyak?" cecar papa Adnan.
"250juta Tuan, tapi untuk apa ya, silahkan anda tanyakan sendiri pada tuan Martin. Sebab saya tidak bertanya lebih jauh" bohong Herman, sebab ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan internal keluarga Hariz. Sudah cukup masalah kantor menyita perhatian dan waktu nya, Herman tidak ingin terlibat dengan masalah lain lagi.
Klek...
Suara knop pintu terbuka dan Martin tampak memasuki ruangan kerja sang Papa, Pria matang itu menghela nafas berat karena sudah pasti papa Adnan akan bertanya untuk apa uang itu, ahhh belum lagi besok Mama Asri akan ikut mengintrogasi.
"Kau sudah membawanya Her?" tanya Martin basa-basi.
"Sudah Tuan" Herman mengangkat sebuah koper kecil yang berisi uang tersebut.
"Anda bisa menghitungnya" sambung Herman menyerahkan koper itu pada Martin.
"Tidak perlu, karena aku percaya padamu" sahut Herman, jika Papa nya saja percaya, lalu kenapa Martin tidak percaya?.
__ADS_1
"Baiklah, saya izin pamit dulu Tuan, selamat malam" Herman keluar dari ruangan Boss nya, ia paham jika Adnan pasti akan berbicara empat mata dengan putra semata wayangnya itu.
"Tidak biasanya kamu mencairkan dana sebesar itu, untuk apa?" sebenarnya bukan masalah jika menantunya menggunakan uang sebanyak itu, sebab istrinya sendokan sering menghabiskan uang dua kali lipat dari itu hanya untuk membeli sebuah tas.
"El memintanya Pah, mungil bagian dari ngidamnya" sahut Martin menjawab dengan jawaban yang aman agar tidak di tanyai lebih banyak lagi.
"Ngidam?" mungkin terdengar aneh dan tidak masuk akal, tapi akan sangat sulit di sangkal karena wanita ngidam memang keinginan nya kadang-kadang di luar nalar.
"Apa Papa keberatan jika Martin memberi uang ini pada Elea?"
"Bagaimana Papa keberatan jika Mama mu saja pernah menghabiskan uang papa satu miliar lebih dalam sehari" papa Adnan masih sangat ingat saat dirinya mengajak sang istri untuk berlibur di Paris, Mama Asri yang kala itu kalap melihat banyaknya barang-barang branded, berbelanja tanpa memikirkan berapa banyak uang yang harus di keluarkan oleh suaminya untuk membayar belanjanya itu.
"Papa tidak marah kan?" Martin menatap intens Papa nya.
"Tentu saja tidak, asalkan menantu papa bahagia" jawab papa Adnan bijak.
"Kalau begitu, Martin kembali ke kamar dulu Pah" pamitnya dengan membawa koper itu keluar dari ruang kerja Papa nya.
🌼🌼🌼
Martin memasuki kamar dan melihat Elea yang mondar-mandir di depan meja rias dengan wajah cemas, bahkan kedatangannya tidak disadari oleh sang istri, entah apa yang ada dalam pikiran sang istri, sehingga terlihat begitu gelisah. Apakah Elea benar-benar membutuhkan uang itu?.
"El" panggil Martin karena sudah tak tahan melihat kegelisahan di wajah istrinya.
"Om" Elea terkejut, lalu segera menghampiri Martin.
"Ini uang yang kami inginkan" Martin menyerahkan koper berisi uang itu pada Elea.
Greppp....
Elea membenturkan tubuhnya memeluk Martin tanpa mengambil koper yang ada di tangan Martin.
"Terimakasih banyak Om, aku tidak akan melupakan kebaikan Om" Elea sangat bersyukurlah karena Martin mau membantunya tanpa bertanya-tanya lebih detail.
__ADS_1
"Terimakasih sudah membantu ku" sambung Elea menitikkan air matanya. Tak mengapa jika Elea harus selamanya menjadi istri Martin meskipun tanpa di cintai sekalipun. Bantuan dari Martin ini sangat berarti bagi Elea, karena dengan bantuan Martin, dirinya bisa menyelamatkan hidup sahabatnya.
"Sudah menjadi kewajiban ku untuk menuruti semua keinginan mu" Martin memeluk punggungku Elea dengan tangan kirinya.
"Ambillah, kalau perlu kamu bisa menghitungnya terlebih dulu" Martin menyerahkan koper itu pada Elea.
"Tidak perlu Om, aku percaya dengan Om Martin" Elea menerima koper kecil itu.
"aku akan menyimpannya dulu" ucap Elea, membawa koper itu masuk ke dalam walk in closet kamarnya, mungkin wanita itu akan menyimpan di sela-sela baju atau disudut walk in closet nya.
"Kamu senang?" tanya Martin, saat Elea menyusulnya naik ke atas ranjang.
"Bukan senang Om, tapi lebih tepatnya lega" sahut Elea mendekat kan tubuhnya pada Martin.
"Suatu hari nanti, aku akan menjelaskan untuk apa uang itu. Tapi saat ini, aku belum bisa memberi tahukan nya pada Om. Yang jelas, uang itu tidak akan ku salah gunakan" tutur Elea menyandarkan kepalanya di dada bidang Martin.
"Hem, bukan masalah" jawab Martin mengelus-elus perut Elea dan sesekali mengecup puncak kepala Elea.
"Bisa kita tidur?" lirih Elea, jika tidak, bukan tidak mungkin Martin akan menuntut sesuatu yang lebih.
"Kamu sudah mengantuk?"
"Hem, karena seharian aku tidak kemana-mana, jadi hari ini aku menyibukkan diri di taman belakang dan tidak sempat tidur siang" bohong Elea, padahal hari ini dirinya tidur siang dengan sangat cukup.
"Baiklah, ayo kita tidur" ucap Martin tidak tega jika mengajak Elea terbang ke nirwana.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺