Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Mengulang Kembali


__ADS_3

Elea masuk kedalam kamar dengan bersimbah air mata, pertemuan tidak sengaja dengan ibu mertuanya kini menguak luka dalam yang sedang berusaha ia sembuhkan.


Elea bukalah wanita kuat, namun keadaan memaksa nya menjadi kuat, sedari kecil tidak ada pundak untuk bersandar, tidak ada pelukan yang menenangkan, tidak ada suara yang merindukan, tidak ada nama yang dia andalkan.


Setiap Elea terluka, ia harus membalut dan menyembuhkan luka itu sendiri, setiap kali menangis Elea juga harus menghapus air matanya sendiri, dan saat terjatuh, Elea juga harus bangun sendiri tanpa ada uluran tangan dari orang lain.


"Aku tidak tahu harus apa?" lirih Elea bingung, sungguh Elea takut salah langkah. Atau lebih tepatnya takut jika seseorang menyalahkannya.


Ceklek.....


Pintu kamar di buka oleh Martin, pria itu langsung memeluk Elea yang duduk di samping ranjang dengan memeluk lututnya.


"Semua akan baik-baik saja" bisik Martin, pria itu tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan istrinya. Tiwi menghubunginya saat sudah di dalam mobil, itu sebabnya Martin sekarang ada dirumah.


"Tolong jangan menyalahkan ku Mas" lirih Elea terdengar memilukan.


"Tidak akan" kata Martin mengecup kening Elea.


"Apakah aku salah? Aku egois? Aku takut, Aku, aku..." Elea terisak dalam pelukan Martin.


"Tidak ada yang menyalahkan mu sayang, dan kamu tidak perlu takut" kata Martin membawa Elea naik keatas ranjang dan merebahkan wanita itu.


"Aku selalu disampingmu, dan tidak akan meninggalkanmu, apalagi menyalahkan mu" bisik Martin berbaring dan memeluk Elea.


Cukup lama Martin memeluk Elea hingga wanita itu tertidur karena lelah menangis. Martin membelai wajah cantik Elea dan melabuhkan beberapa kecupan di wajah ayu itu, lalu ia keluar dari kamarnya.


"Bagaimana Dave?" tanya Martin masuk kekamar putranya.


"Tuan muda Dave tidur, Tuan" jawab Tiwi yang bertugas menjaga Dave.


"Tolong jaga Dave, dan jangan meninggikan nya. Minta bantuan pada yang lain jika kau akan ke kamar mandi atau pergi makan" kata Martin melihat putranya terlelap, lalu kembali ke kamarnya.


Dirumah keluarga Hariz, Asri masih menangis di dalam kamar, ia merasa tidak di hargai dan tidak di anggap oleh Elea.


"Apa yang Mama tangisi?" tanya Adnan membuat tangis Asri semakin menjadi.


"Papa kenapa tidak peka sekali? Mama merasa direndahkan oleh Elea, dia tidak memaafkan Mama, padahal Mama sudah bersimpuh di kakinya" kata Asri mengadu.


"Bukankah Minah bilang kalau Elea sudah memaafkan mu, lalu kenapa kamu bilang kalau Elea....."


"Dia tidak tulus Pah, bahkan kata-katanya terdengar sangat dingin" sergahnya.


"Bahkan Mama tidak diizinkan untuk melihat cucu Mama, bukankah itu sangat keterlaluan?" sambungnya.


Adnan menghela nafas berat lalu memeluk wanita yang sudah lama mendampingi nya sebagai istri.

__ADS_1


"Mama ingat kesalahan Mama?" tanyanya pelan, Asri mengangguk.


"Mama menghina Elea, Mama juga memfitnah nya jika anak yang di kandung ya bukanlah anak Martin..."


"Papa masih menyalahkan Mama?" selanya.


"Dengarkan papa dulu" kata Adnan.


"Papa tidak menyalahkan Mama, Papa hanya mengingatkan Mama. Bisa Mama bayangkan betapa sakit hatinya Elea saat itu? Mama mengusirnya, bahkan Mama mengharamkan Elea menginjakkan kaki di rumah ini lagi" kata Adnan membuat Asri berhenti menangis dan mengingat seberapa fatal kesalahannya.


"Maksud Papa apakah menantu kita tidak akan kembali kerumah ini lagi?" tanyanya.


"Papa tidak tahu itu, tapi yang pasti Elea akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali kerumah ini. Tapi poin nya bukan itu Mah"


"Lalu apa?"


"Entah kembali kerumah ini atau tidak, yang pasti Elea tetap menantu kita. Dan papa juga yakin jika Elea memang sudah memaafkan Mama, tapi untuk sekarang biarkan keadaan seperti ini, beri Elea sedang waktu untuk menyembuhkan lukanya. Yang terpenting kita tahu jika Elea, Martin dan putra mereka sehat dan baik-baik saja" kata Adnan.


"Tapi Mama sangat ingin memeluk dan mencium cucu Mama, dia sangat tampan dan mirip dengan Martin saat bayi" kata Asri kembali menangis.


"Akan ada saatnya, berdoalah agar Tuhan mempermudah segalanya" Adnan memeluk istrinya.


🌼🌼🌼


"Sudah bangun?" kata Martin tanpa mengalihkan pandangannya.


"Bagaimana Mas bisa tahu?" Elea mengerutkan keningnya heran.


"Karena aku mencintaimu" jawab Martin, Elea mencebikkan bibirnya.


"Jam berapa ini?" tanya Elea menyibakkan selimut nya.


"Hampir jam sepuluh malam" sahut Martin.


"Benarkah? Pantas saja dadaku terasa penuh dan sakit" Elea melewatkan waktu menyusui putranya, wanita itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Martin tersenyum penuh misteri melihat Elea masuk kamar mandi, lalu ia melanjutkan pekerjaannya memastikan semua selesai dan melakukan pekerjaan lainya.


Dua puluh menit berlalu, Elea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan sebuah handuk kecil di kepalanya, lalu wanita itu masuk dalam walk in closet untuk memakai baju.


"Mau kemana sayang?" tanya Martin melihat Elea tergesa-gesa keluar dari walk in closet, dan langsung memegang handle pintu.


"Menyusui Dave, dia pasti sangat kelaparan" kata Elea langsung keluar kamarnya.


Namun begitu masuk ke kamar putraku, Elea melihat bayi itu terlelap dan ada Tiwi tertidur di ranjang samping nya.

__ADS_1


"Tiwi" panggil Elea.


"Emmhhh Nyonya" gadis berusia 19 tahun itu bangun.


"Maaf membangunkan mu, apa Dave tidak menangis?" tanya Elea.


"Tuan Dave menangis saat minta susu tadi, dan badannya juga tidak demam" kata Tiwi yang terlihat masih mengantuk.


"Kenapa tidak membangunkan ku tadi?"


"Tuan Martin bilang kalau Nyonya masih tidur dan tidak boleh di ganggu" jelas Tiwi.


"Baiklah, tidurlah kembali. Aku akan mempumping ASI untuk Dave" kata Elea mengambil sebuah alat untuk memerah ASI nya yang terasa penuh.


Setelah hampir dua jam, Elea keluar dari kamar Dave, dan kembali kekamar nya, Martin masih belum tidur, tapi kini memegang smartphone miliknya.


"Sudah selesai?" tanya Martin, Elea mengangguk dan bergabung ke atas ranjang.


"Mas sudah makan?" tanya Elea.


"Sudah tadi, kamu mau makan?" Martin meletakkan ponselnya dan memeluk Elea.


"Aku tidak lapar, tadi sudah makan dua buah pisang saat di kamar Dave" kata Elea, tubuhnya meremang saat tangan Martin mulai nakal menjelajah tubuhnya.


"Boleh aku melakukannya malam ini?" bisik Martin nafasnya mulai memburu menahan gejolak dalam tubuhnya.


Elea yang memang sangat merindukan sentuhan Martin hanya pasrah saat pria itu memulai pemanasan.


"Enghhhh....." rintih Elea menikmati permainan Martin yang ******* habis puncak bukitnya secara brutal dan bergantian.


"Ahhh.... pelan-pelan Mas..shhhh" desis Elea, namun tidak mengehentikan kegiatan Martin, wanita itu malah sengaja membusungkan dadanya seolah menyambut lidah hangat Martin.


"Ahh...aku sangat merindukanmu sayang, lihatlah dia semakin besar dan kenyal" puji Martin menikmati perbukitan indah milik Elea, yang kini sudah di kuasai oleh putranya. Mungkin terasa aneh, namun Martin merasa sedikit cemburu mengingat putranya menghisap dua boba favoritnya kapanpun dan setiap saat. Hal itu membuat Martin geram dan menghisap sangat kuat hingga membuat Elea merintih kesakitan.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2