JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 12 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Ammar ingin berjalan menuju ke meja makan, tetapi saat dia melewati kamar milik Amman dirinya melihat Audrey yang hendak keluar dari kamar.


Grep.


Ammar yang bersembunyi langsung menarik lengan Audrey ketika Audrey baru keluar beberapa jengkal dari pintu.


Audrey terkejut dan matanya membulat ketika dia melihat ternyata Ammar yang menarik tangannya.


"Kak, apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika sampai kak Amman dan kedua orang tua kamu tahu?"


"SST!" Ammar meletakkan jari telunjuknya dibibir Audrey. "Diam-lah, jika kamu terus berbicara maka mereka semua pasti akan tahu."


Audrey memutuskan untuk diam. "Ada apa?"


Ammar melirik pintu dan dia menutup pintu terlebih dahulu sebelum berbicara.


"Mengapa kakak menutup pintunya?" Audrey menjadi takut.


"Karena aku tidak ingin orang lain melihat kita berduaan dikamar seperti ini."


Audrey menatap wajah Ammar. "Kak, aku mohon agar kamu bisa bersabar dan berbesar hati untuk menerima semua ini."


"Bagaimana bisa, Audrey? Aku mencintai kamu, sangat-sangat mencintai kamu."


"Tapi aku sudah menjadi kakak iparnya!" titah Audrey untuk menyadarkan Ammar.


"Tidak! Kamu hanya milikku, aku mohon bercerai-lah dari kak Amman setelah pernikahan kalian berjalan enam bulan. Apa kamu sudah tidak cinta padaku lagi? Apa jangan-jangan, kak Amman sudah—" ucapan Ammar terputus.


"Kak Amman sama sekali belum menyentuhku!" Audrey langsung menjawab seakan tahu apa yang ingin Ammar katakan.


"Lalu? Apa kamu juga sudah mencintai kak Amman sehingga kamu sulit untuk berpisah darinya?" Ammar menangkup wajah Audrey.


"Kamu salah, kak. Aku sangat mencintaimu tetapi aku sudah menjadi istri kak Amman, pernikahan itu bukanlah hal main-main kak.''


"Ceraikan dia dan menikahlah denganku, Audrey." pinta Ammar untuk kedua kalinya.


Audrey menggeleng dan melepaskan tangan Ammar yang berada di pipinya, Audrey berjalan mundur dan menjauhkan tubuhnya dari Ammar.


"Aku tidak bisa bercerai, aku tidak ingin mengecewakan Papa. Dan aku rasa kak Amman adalah sosok pria yang baik juga dewasa. Kak, carilah kebahagiaanmu sendiri, aku mohon jangan memaksaku." Audrey berkata dengan lirih.


Ammar memeluk tubuh Audrey. "Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Audrey." Ammar berbicara dengan nada sedih.


"Kak, tadi malam aku sama sekali tidak melihatmu. Aku tau kamu pasti tidak sanggup melihat aku dan kak Amman yang harus menikah, tapi kemana kamu tadi malam kak?" Audrey melerai pelukan.


"Aku pergi ke diskotik."


"Apa!" Audrey memekik kaget.

__ADS_1


"Ya, aku ingin menenangkan pikiran dan tanpa sengaja aku terlalu banyak minum hingga mabuk."


"Aku harap kamu bisa segera merubah pola hidup kamu itu, kak. Aku tidak suka jika kamu harus mabuk-mabukan seperti itu."


"Jika kamu yang meminta maka aku akan menurutinya." Ammar tersenyum tipis.


"Baiklah, aku rasa kita bisa berteman saja tanpa ada perasaan yang ikut andil dalam pertemanan kita ini." tutur Audrey dengan tulus.


Ammar hanya menghela nafas pelan tanpa menjawab ucapan Audrey.


"Audrey, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Katakanlah, aku akan mendengarkannya." Audrey menatap Ammar dengan tulus.


"Malam itu, aku melampiaskan segala dendamku kepada seorang wanita yang sangat dicintai kak Amman."


Dahi Audrey sukses mengerut hingga alis indahnya hampir menyatu.


"Aku, aku melecehkan Anisa."


BRAK!


Pintu di dobrak dari luar.


Audrey kaget karena Amman masuk ke dalam kamar dengan wajah yang merah padam.


Amarah Amman muncul ketika Ammar mengatakan jika dirinya sudah melecehkan Anisa, gadis baik itu harus menanggung kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.


"APA YANG KAU KATAKAN!" bentak Amman tepat di depan wajah Ammar.


Ammar hanya merutuki kebodohannya dalam hati, dia pikir dirinya akan jujur kepada Audrey tentang masalah apapun tetapi ternyata Amman mendengarnya.


Bugh!


Amman memberikan bogeman di pipi Ammar.


"JAWAB PERTANYAANKU, APA YANG KAU KATAKAN TADI BAJINGAN!"


"AKU SUDAH MELECEHKAN WANITA YANG SANGAT BERHARGA DIHATIMU!" Ammar menjawab dengan berteriak pula.


PLAK!


Amman menampar pipi Ammar dengan segala emosi yang sudah memuncak, untung saja kamar kedap suara jadi otomatis tidak akan ada yang mendengar pertengkaran mereka.


"KAU KETERLALUAN, AMMAR! KAU BENAR-BENAR BRENGSEK! APA KESALAHAN ANISA HINGGA KAU BERANI MENYENTUHNYA?" Amman menatap Ammar dengan mata mendelik.


"Gadis malang itu tidak punya salah, tetapi kau!" Ammar menunjuk wajah Amman. "Kau lah yang bersalah karena sudah berani merebut calon istriku!" Ammar berbicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


Bugh!


Amman mendorong tubuh Ammar hingga Ammar terjatuh dilantai.


Amman kembali memberikan bogeman di wajah Ammar.


"Itu semua bukan keinginanku tetapi keinginan orang tua kita berdua!"


"SIAL! KENAPA KAU TERUS MEMUKULKU?"


Bugh!


Ammar membalas pukulan dari Amman.


Terjadilah perkelahian antara saudara kembar tersebut.


Audrey hanya terdiam di pojokan, dia sangat takut karena melihat pertengkaran kedua kakak-beradik kembar itu.


Setelah dirasa suasana semakin panas dan mencekam, Audrey langsung berlari dan berteriak.


"STOP!"


Saudara kembar itu langsung mengehentikan laju tangan mereka yang ingin memberikan bogeman.


Audrey menangis. "Aku mohon berhenti, kalian berdua membuatku takut."


Ammar menurunkan tangannya dan dia segera menghampiri Audrey.


"Jika terjadi sesuatu dengan Anisa, maka aku tidak akan memaafkanmu! Aku pasti akan menghancurkan hidupmu! Dasar sialan!" Amman memaki lalu pergi dari hadapan Ammar, tujuan Amman saat ini ialah rumah Anisa.


Ammar dan Audrey hanya menatap kepergian Amman.


"Audrey maafkan aku." Ammar memeluk tubuh Audrey dari samping.


Audrey hanya terisak di dalam pelukan Ammar, ada rasa benci dihatinya untuk Ammar ketika Ammar mengatakan telah melecehkan wanita lain.


Audrey tidak menyangka jika sang mantan kekasih mempunyai sifat tega dan jahat.




**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**

__ADS_1


__ADS_2