JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 20 jerat cinta si kembar


__ADS_3

Amir menatap Ammar dengan mata menyalang.


"Kak Amman sudah mengatakan jika dia ingin menikahi wanita lain tetapi Ayah tetap bersikeras untuk menjodohkannya dengan Audrey! Ini semua Ayah yang salah, bukan aku!"


Plak!


Tamparan melayang kembali di pipi Ammar. "Jangan pernah membentak orang tua, Ammar! Jaga sopan santunmu!" Jika kamu mengatakan bahwa Audrey adalah calon istrimu pasti Ayah akan berubah pikiran!" teriak Amir.


"Tapi—" ucapan Ammar terpotong karena Anisa menyelanya.


"CUKUP!" teriak Anisa sambil menutup telinga. "Jika Tuan Ammar tidak ingin bertanggungjawab maka itu tidak jadi masalah, aku akan membesarkan anak ini sendirian dan pergi jauh dari kehidupan kalian." keputusan yang Anisa yakini.


"Bagus, sebaiknya kau melakukan hal itu. Atau tidak, kau gugurkan saja kandunganmu."


Semua mata menatap tidak suka ke arah Ammar.


Anisa menggeleng dan dia ingin berlalu pergi, tetapi Amman dengan cepat mencekalnya.


"Nisa, izinkan aku mempertanggungjawabkan semuanya. Aku mohon menikahlah denganku." pinta Amman dengan wajah memelas.


"Tidak bisa, Tuan! Maaf." ucap Anisa sambil melepaskan cekalan Amman.


Anisa melangkah pergi.


"Tunggu!" seru Audrey menghentikan langkah Anisa.


Anisa menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Menikahlah dengan kak Amman, aku bersedia untuk dimadu."


Semua orang menatap Audrey dengan rasa tidak percaya, mudah sekali seorang istri mengatakan siap dimadu.


"Audrey, apa yang kamu katakan nak?" Aresha menghampiri Audrey.


"Aku siap untuk menerima keputusanku ini, Ma. Biarkan kak Amman bertanggungjawab atas kesalahan fatal yang telah kak Ammar lakukan. Jika aku berada diposisi kak Nisa, pasti aku akan sangat terpuruk dan tidak ingin hidup lagi di dunia ini." ucap Audrey dengan menitikkan air mata. "Aku juga kasihan dengan bayi yang ada dalam kandungan kak Anisa, aku tidak ingin dia lahir tanpa seorang Ayah." lanjutnya dengan bijak.

__ADS_1


Brugh.


Aresha pingsan dan semua terkejut, Amir segera berlari menghampiri istrinya.


"Re! Rere bangun!" Amir menepuk pipi Aresha dengan perlahan.


Amir bergegas menggendong tubuh Aresha dan membawanya ke kamar.


🌺🌺🌺


Pagi hari.


Pernikahan Amman dan Anisa akan dilaksanakan hari ini, meskipun Papa Audrey tidak setuju dan marah besar hingga meminta Audrey agar bercerai dari Amman tetapi itu semua bisa di urus oleh Audrey seorang. Audrey mengatakan banyak hal kepada sang Papa, dia tetap gigih untuk membujuk sang Papa agar membiarkan Amman menikah lagi dan dirinya mempunyai madu.


Brian tidak tega melihat wajah sedih sang Putri, dia akhirnya luluh dan menyampaikan satu pesan. Brian tidak ingin putrinya menderita ataupun tersakiti jika nanti Amman menikah lagi, Brian ingin Amman bersikap adil seadil-adilnya.


Pak penghulu sudah datang dan ijab kabul segera dimulai.


Anisa yang memang malu karena dirinya pasti sudah sangat jelek dimata keluarga Arsalaan hanya mampu menangis batin. Sebenarnya Anisa menolak untuk menikah tetap Amman dan Audrey memaksanya, Aresha juga sudah setuju sementara Amir masih belum memberikan restu.


Amman senang bisa menikah dengan Anisa tetapi dia sedih ketika mengingat kondisi Anisa saat ini.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Amman Arsalaan bin Amir Arsalaan dengan Anisa Maharani binti Aryanto, mas kawin uang sebesar seratus juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Maharani binti Aryanto dengan mas kawin tersebut tunai!"


"Bagaimana para saksi, sah?"


Sah!


Sahut Aresha dan Audrey bersamaan, sementara Amir hanya diam aja dan Ammar pergi entah kemana.


Anisa akhirnya resmi menjadi istri siri seorang Amman Arsalaan, dia tidak menyangka jika perjalanan hidupnya akan sangat berat seperti ini. Mejadi pelakor bukanlah impiannya tetapi sepertinya Allah memberikan jalan lain untuknya.


Pernikahan selesai dan mereka duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Ayah harap kamu bisa adil dengan kedua istrimu, Amman. Jika kamu tidak bisa adil maka Ayah akan memberikan pelajaran padamu."


"Baik, Ayah. Aku akan bersikap sebaik mungkin dan adil untuk kedua istriku."


"Mama harap kalian berdua bisa akur." Aresha tersenyum tipis karena tidak ingin membuat Anisa sedih atau merasa bersalah. "Audrey, kamu yang sudah memberikan izin kepada suamimu, jadi Mama minta jangan pernah menyesal dengan keputusan kamu ini. Jika kamu tidak tahan, maka pulanglah dan katakan pada Amman. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian bertiga." ujar Aresha panjang lebar.


"Maafkan saya, Bu." Anisa menunduk malu.


"Tidak-tidak, jangan memanggil saya Bu karena saat ini saya sudah menjadi Mama kamu. Tidak ada yang perlu disalahkan dan disesali karena semua ini sudah takdir."


Anisa hanya menangis.


Audrey mendekati Anisa dan dia memeluk tubuh Anisa dari samping. "Kak Anisa tidak perlu merasa bersalah seperti ini, aku mohon jangan setres karena kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kakak." Audrey mencoba menenangkan.


Anisa melirik wajah cantik Audrey yang kala itu tersenyum ke arahnya.


Amman sendiri tidak menyangka jika Audrey memiliki hati yang sangat baik dan penyabar.


"Yah, Mah. Aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Amman kepada kedua orangtuanya.


"Katakan." sahut Amir dengan datar


"Aku memutuskan untuk tinggal di luar negeri dengan membawa kedua istriku, aku akan mengurus perusahaan yang berada disana dan aku juga tidak ingin jika Ammar mengganggu kehidupan kami."


Amir hanya terdiam sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. "Jika itu keputusan kamu, maka pergilah."


Aresha sebenarnya sangat berat melepaskan sang Putra pergi jauh darinya, tetapi dia tidak boleh egois karena ini semua demi kebaikan mereka bersama.




**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**


__ADS_2