
Anisa tanpa sengaja menabrak Zaky yang saat itu kebetulan sedang menjenguk rekan kerjanya yang sakit dan rekan kerja Zaky di rawat di rumah sakit tersebut.
"Aw, maaf Tuan!" seru Anisa dan dia langsung berjongkok untuk mengambil ponsel Zaky yang terjatuh.
Anisa menegakkan tubuhnya dan dia berdiri saling berhadapan dengan Zaky, manik mata keduanya saling bersitubruk, mereka menatap seperti sedang mengingat-ingat.
"Kamu?'' Zaky Ingat jika dia bertemu dengan Anisa sewaktu dirinya jogging waktu itu.
Anisa pun akhirnya mengingat siapa pria yang ada di depannya itu.
"Maafkan saya, Tuan." Anisa menunduk.
"Tidak masalah. Apa yang sedang kamu pikirkan sehingga bisa menubruk saya seperti ini?" Zaky melihat ponselnya yang hanya tergores sedikit.
"Saya tadi sedang melamun." ucap Anisa jujur.
"Melamun? Lain kali jangan membawa masalah saat kamu sedang berjalan ataupun berada di tempat terbuka seperti ini."
Anisa mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, sekali lagi maaf.'' Nisa ingin melangkah tetapi Zaky mencekal lengannya.
Anisa mengangkat tangan yang Zaky cekal, dia tidak ingin pria yang bukan muhrimnya menyentuh dia.
"Maaf." ucap Zaky gantian. "Boleh saya tau siapa nama kamu? Kita sudah dua kali bertemu meskipun tanpa sengaja tetapi saya belum tahu siapa nama kamu."
"Saya Anisa." jawab Anisa dengan lembut karena sifatnya memanglah lemah lembut.
"Saya Zaky. Kamu mau kemana?''
"Saya ingin pulang ke rumah, tadi dari dalam habis cek kandungan."
Zaky membolakan matanya. '****! Ternyata wanita ini sudah menikah bahkan dia tengah mengandung, aku pikir dirinya masih gadis. Sepertinya aku salah karena mengincar seorang wanita yang sudah bersuami.' batin Zaky dengan hati sedih.
__ADS_1
"Kebetulan saya juga ingin pulang, jika kamu berkenan maka saya bisa sekalian mengantar kamu."
"Tidak perlu, Tuan! Saya bisa pulang menggunakan taksi, saya tidak ingin suami saya salah paham dan akhirnya menimbulkan masalah." tolak Anisa dengan halus.
Zaky hanya bisa pasrah.
"Permisi." Anisa pun melangkah pergi dari hadapan Zaky.
Setelah Anisa menjauh, Zaky terus menatap punggung belakang Anisa tanpa mengalihkannya.
"Beruntung sekali pria yang mendapatkan wanita seperti dia. Sudah cantik, baik, lemah lembut, sopan, Sholehah, dan bisa menjaga diri." Zaky tersenyum tipis dan dia langsung pergi menuju mobilnya.
Zaky berharap ada wanita yang seperti Anisa agar dia bisa menjadikannya sebagai istri.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Anisa sampai di rumah, dia langsung masuk dan tujuannya saat ini adalah kamar. Anisa sangat lelah baik fisik, hati ataupun pikiran.
"Kak?" Audrey tiba-tiba muncul dari dapur dan itu membuat Anisa terkejut.
"Maaf, kak. Kak Anisa darimana?" Audrey meletakkan piring berisi potong buah apel di atas meja.
"Aku, aku dari rumah sakit."
"Rumah sakit? Memangnya ada apa? Apa ada masalah dengan kandungan kakak? Mengapa kakak tidak mengajakku?" Audrey mencecar Anisa dengan beberapa pertanyaan.
"Audrey, bertanya itu satu-satu. Kepalaku sakit karena mendengar begitu banyak pertanyaan yang kamu lontarkan." Anisa menatap Audrey dengan sendu.
"Maafkan aku kak, aku sangat khawatir dengan kakak dan kandungan kakak." Audrey menuntun Anisa agar duduk di kursi.
"Jadi bagaimana keadaan kandungan kakak?" Audrey menatap Anisa dengan lekat.
"Jangan menatapku seperti itu, kamu seperti sedang menginterogasi seorang penjahat." Anisa tersenyum tipis dan itu dibalas oleh Audrey.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang katakan bagaimana keadaan kandungan kakak? Dia baik-baik saja di dalam sana 'kan?" Audrey mengelus perut Anisa dengan lembut.
"Alhamdulillah keadaannya baik dan sehat." Anisa mencoba tersenyum meskipun dadanya terasa sesak. 'Bayiku baik-baik saja, tetapi hanya akulah yang tidak baik.' batin Anisa bersedih.
"Syukurlah. Aku sampai takut jika terjadi sesuatu dengan kandungan kakak, kakak harus bisa jaga diri, jangan kelelahan ataupun banyak memikirkan hal yang terlalu berat karena itu bisa menjadi masalah untuk tumbuh kembang bayi kakak."
Anisa tersenyum dan dia mengelus kepala Audrey dengan lembut. "Kamu sudah seperti seorang adik kandung yang sangat memperhatikan kakaknya sendiri."
Audrey juga tersenyum dan dia tetap mengelus perut Anisa yang sudah terlihat membuncit.
"Apa Mas Amman sudah pulang dari kantor?''
Pertanyaan Anisa sukses menghentikan gerakan tangan Audrey.
"Belum. Aku juga tidak mengerti mengapa kak Amman belum pulang."
Anisa hanya mengangguk. "Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu, tubuhku rasanya sangat lelah padahal hanya perjalanan beberapa menit saja."
Audrey mengangguk dan Anisa pun pergi dari hadapan Audrey.
Sesampainya di dalam kamar.
Anisa segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam, dia berlari ke ranjang sambil membekap mulutnya sendiri.
"Hiks, ya Allah tolong selamatkan bayiku. Aku ingin bayiku selamat meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya." tangisan Anisa semakin menjadi-jadi.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK π**