
Malam hari pun tiba, Celline sedang duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumah. Entah mengapa dia masih memikirkan kejadian tadi siang saat pelemparan bunga, sementara Ammar yang masih berada di pesta berjalan menghampiri Celline.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?"
Celline menoleh dan dia menatap Ammar yang sudah berdiri di belakangnya.
Celine memberikan Ammar senyum tipis. "Kak Ammar, kamu ada di sini?"
"Ya, seperti yang kamu lihat. Pesta belum usai dan tentu saja aku masih ada di sini."
Ammar pun berjalan, dia duduk di samping Celline.
"Ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada kak, aku hanya ingin sendiri saja."
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." ucap Ammar dengan serius.
Celline menatap Ammar dengan tanda tanya yang sangat banyak di kepalanya.
"Celine, apa kau sudah memiliki kekasih?"
Celine pun menatap Ammar dengan heran.
"Apa yang kau katakan? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu.'' Celline mengalihkan pandangan.
Ammar menatap Celine dengan lekat. "Apa saat ini kamu sedang mencintai seseorang?"
Cellne tercengang mendengar pertanyaan dari Amar. 'Apa kak Ammar mengetahui jika aku mencintainya? Tidak-tidak, bagaimana dia bisa tahu.' batin Celline menduga.
Celline pun berkilah. "Aku tidak mencintai siapapun."
"Seriously?"
"Ya, tentu saja. Aku tidak percaya dengan yang namanya cinta."
Dari kejauhan terlihat Adis menghampiri Ammar dan Celline.
__ADS_1
"Apa aku boleh bergabung?" ucapnya saat sudah berada di dekat Ammar.
Sontak Celline dan Ammar menoleh secara bersamaan.
"Silahkan." jawab Ammar dengan ramah.
Adisti pun memilih duduk di tengah antara Ammar dan Celline.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Tidak ada, kami hanya—" ucapan Ammar terpotong karena Celline yang tiba-tiba berdiri.
"Aku permisi, kalian lanjutkan saja mengobrolnya."
Celline pun segera bergegas pergi meninggalkan Ammar dah Adisti.
"Ada apa dengannya?" Adisti bertanya dengan nada bingung.
Ammar mengurungkan niatnya untuk mengejar Celline.
Adisti hanya mengedikkan bahu.
"Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Ammar pun mengangguk.
"Tipe wanita idaman kakak itu yang seperti apa sih?"
"Cantik, baik, sedikit manja, dan bisa menuruti ucapan suaminya."
"Hanya itu?" Adisti semakin penasaran untuk mengorek ciri-ciri perempuan idaman Ammar.
"Sebenarnya masih banyak lagi, tapi aku tidak bisa mengatakan semuanya."
"Lalu, jika ada yang ingin menjadi calon istrimu harus bagaimana? Apa ada syaratnya?"
"Hal penting yang aku katakan tadi, dan poin paling penting adalah mau menerima putriku dengan tulus."
__ADS_1
'Akh, sepertinya aku masuk dalam kriteria wanita idaman kak Ammar ' batin Adisti dalam hati.
"Mengapa kau menanyakan hal seperti itu?" Ammar pun menjadi heran.
"Tidak apa, aku hanya penasaran dengan seputaran wanita idaman kakak." Adis menjadi salah tingkah.
Ammar melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Adisti, aku permisi pulang karena sudah pukul sepuluh malam."
Mereka berdua beranjak dari bangku.
"Loh kak, tetapi ini 'kan acara sepupu kamu! Apa kamu tidak mau menunggu hingga acara selesai?"
"Sebentar lagi acaranya pasti akan selesai, karena itu aku ingin mengajak Putriku pulang ke rumah." sahut Ammar berjalan pergi dari hadapan Adisti.
Setelah Ammar pergi, Adisti hanya tersenyum dan bersorak riang.
"Yes! Aku yakin pasti diriku bisa mendapatkan kak Ammar, buktinya tadi dia bilang kriteria wanitanya seperti diriku. Atau jangan-jangan, kak Ammar memang mempunyai perasaan lebih kepadaku? Oh ya Tuhan, bahagianya."
Adisti terus berbicara dan berangan-angan sendiri, dia sangat ingin jika Ammar kelak akan menjadi suaminya. Saat ini ini rasanya Adisti ingin sekali meloncat tetapi dia masih mempunyai malu, takut ketahuan oleh semua para tamu undangan.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏
🏵️🏵️🏵️🏵️
JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL KARYA TEMAN OTHOR YA 😍**
__ADS_1