JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 51 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ammar telah sampai di kantor, dia segera membuka dokumen penting yang akan menjadi pekerjaannya hari ini.


Tok tok tok.


Baru juga duduk ternyata sudah ada yang mengetuk pintu.


"Masuk!" teriak Ammar dari dalam.


"Permisi, Tuan." office girl masuk dengan membawa kopi pesanan Ammar.


"Letakkan saja disana.'' Ammar menunjuk meja tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen miliknya.


Setelah meletakkan, OG itu langsung pergi dari dari ruangan Ammar.


Ammar menghubungi sekretaris nya menanyakan ada meeting penting atau tidak hari ini.


Tut Tut


"Halo, Angel. Apa kita ada meeting penting hari ini?"


πŸ“²"Meeting kita hari ini pukul sepuluh siang, Tuan. Di restauran Jami's dengan klien dari luar negeri."


"Baik, persiapkan semuanya saya akan menuntaskan pekerjaan saya terlebih dahulu."


Setelah mengatakan 'ya' panggilan pun terputus.


'Aku harus bekerja keras demi kehidupan putriku kelak. Aku harus bisa membuat perusahaan ini menjadi perusahaan terbesar nomor satu di Asia.' batin Ammar dengan penuh semangat.


...


Pukul 10.10 Wib.


Ammar telah di restauran yang menjadi lokasi tempat pertemuan dengan klien nya.


"Lantai nomor berapa?" Ammar bertanya kepada Angel sang sekretaris.


"Lantai nomor tujuh VVIP, Tuan." jawab Angel.


Ammar mengangguk dan mereka mulai pergi ke lantai VVIP.


Sesampainya di lantai VVIP, Ammar dan Angel segera mencari ruangan nomor tujuh. Setelah menemukan mereka pun bergegas masuk ke dalam sana.


"Selamat siang." sapa Ammar ketika sudah masuk ke dalam ruangan tersebut.


Wanita dengan paras cantik, hidung mancung, bibir mungil dan rambut bergelombang berwarna cokelat menoleh ke asal suara.


"O, halo Tuan Ammar." jawab wanita itu langsung sambil tersenyum tipis.


"Syukurlah saya tidak salah tempat." ucap Ammar.


"Silahkan duduk agar kita bisa nyaman untuk mengobrol dan memulai meeting nya." wanita itu mempersilahkan Ammar dan Angel.


Ammar dan Angel duduk di sofa yang berseberangan dengan Angel.


"Apakah Anda Nona Mona?" Angel bertanya untuk mewakili Ammar.

__ADS_1


"Ya benar, saya Mona pemilik perusahaan NAN GROUP. Apa kita akan memulai meeting, atau berbincang sejenak?" tanya Mona dengan ramah.


"Kita mulai saja meeting nya karena saya banyak pekerjaan." ucap Ammar tanpa ingin berbasa-basi.


"Baiklah, Tuan." Mona meminta sebuah dokumen kepada sekretaris nya dan mereka memulai percakapan untuk membahas kerjasama antar perusahaan.


🌺🌺


Adisti berjalan menuruni anak tangga dengan sudah bersiap seperti ingin pergi ke suatu tempat.


Sesampainya dilantai bawah, sang Mama langsung bertanya kepadanya.


"Adis, kamu mau kemana kok sudah rapi?" Lidia menatap koper yang Adisti bawa. "Kamu bawa koper segala?" lanjutnya dengan heran.


"Maaf ya, Ma. Adis lupa menyampaikan pada Mama dan Papa kalau hari ini Adis akan pergi ke luar negeri untuk sebuah pekerjaan. Bos di tempat Adis bekerja meminta Adis untuk menggantikan koki yang berada di Indonesia dan hari ini Adis akan terbang ke negara itu."


"Kenapa mendadak?" Leon angkat bicara. "Papa gak setuju, sebaiknya kamu berhenti dari pekerjaanmu itu dan tetap berada disini untuk membantu Papa mengurus perusahaan."


"Gak mau! Pa, Adis harus profesional dalam bekerja, bagaimana mungkin Adis bisa seenaknya keluar dari pekerjaan ini?" Adisti tidak mengerti dengan cara berpikir Leon.


"Adis, di Indonesia kita sudah tidak memiliki siapapun. Papa khawatir jika kamu harus pergi sendirian, atau Papa akan menyewa bodyguard saja untuk menjagamu disana?"


"No! No, Pa! Adis bukan anak kecil lagi, Adis tau mana yang baik dan mana yang buruk." Adisti sangat kesal dengan ucapan Leon.


"Bang, kamu ingat kalau Mbak Aresha masih ada di Indonesia 'kan? Kenapa kamu tidak meminta tolong saja kepada mereka agar memberikan tempat tinggal pada Adisti? Aku masih punya nomor Mbak Rere dan kami juga sering kabar-kabar'an." ucap Lidia saat ide terlintas di benaknya.


Leon terdiam dan dia mengangguk. "Boleh juga, aku akan menghubungi Aresha dan mengatakan untuk memberikan tempat tinggal pada Adisti selama dia di Indonesia."


Lidia mengambil ponsel dan memberikan kepada Leon.


Tut Tut


"Halo, selamat pagi Re."


πŸ“²"Halo, ini siapa ya?'' Aresha heran karena dia menjawab panggilan dari Lidia tetapi mengapa yang timbul malah suara seorang pria.


"Ini aku, Leon. Aku ingin meminta tolong padamu, apa kamu bisa membantuku?"


πŸ“²"Oh, kak Leon. Tentu saja kak, selagi aku bisa bantu pasti aku akan membantunya."


"Begini, Putriku ada pekerjaan di Indonesia. Aku sangat khawatir karena dia pergi ke Indonesia hanya sendirian dan dia juga seorang perempuan, aku ingin agar kamu memberikan tempat tinggal untuk putriku daripada dia harus tidur di hotel."


πŸ“²"Oh, jadi begitu. Apa dia sudah berangkat? Jika sudah, maka katakan saja padanya untuk menunggu di bandara karena Putraku akan menjemputnya nanti. Berikan aku nomor ponselnya agar aku bisa menghubungi dia."


"Baiklah, terima kasih banyak Aresha. Aku mohon agar kamu membantu menjaga Putriku."


"Papa!" lirih Adisti dengan pelan, dia tidak suka karena Leon selalu menganggapnya seperti anak kecil.


Panggilan pun terputus.


"Semuanya sudah beres dan kamu bisa pergi ke Indonesia, tunggulah di bandara dan jangan pergi kemanapun sampai anak Tante Aresha menjemputmu." jelas Leon dengan penuh peringatan.


Adisti hanya mendengus. "Ya sudah, Adis pamit."


Adisti mencium pipi kedua orang tuanya dan dia pergi keluar dari rumah.


"Aku tidak mengerti mengapa Papa selalu saja menganggapku seperti anak kecil. Aku ini 'kan sudah besar dan tau mana yang harus aku lakukan ataupun tidak." Adisti terus saja menggerutu sambil berjalan ke mobil.

__ADS_1


Sopir hari ini yang mengantar Adisti karena Adisti akan pergi ke Indonesia.


🌺🌺🌺🌺


Hari ini Maura akan membantu para tim untuk mencari komplotan perampok yang masih belum diketahui identitasnya.


"Apa sangat sulit untuk membongkar identitas mereka?" Maura bertanya kepada salah satu tim yang ditugaskan untuk mencari perampok tersebut.


"Ya, sudah berapa kali kami gagal menangkapnya. Dia sangat cerdik, licik dan sedikit lincah."


Mereka saat ini berada di dalam mobil karena atasan mereka mengatakan jika perampok akan beraksi di sebuah bank besar yang letaknya tak jauh dari kota.


"Jika aku berhasil menangkapnya maka izinkan aku untuk menghajar dirinya terlebih dahulu."


Ucapan Maura mampu membuat semua yang berada di dalam mobil tertawa pelan.


''Kau benar-benar sangat tomboi, Maura." ucap pria yang sedang fokus menyetir mobil.


Maura melihat ke samping karena dia saat ini duduk di kursi samping kemudi.


"Beginilah aku, kalian tidak perlu heran." ujar Maura dengan sedikit angkuh.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka semua langsung turun dan bergegas ke formasi masing-masing.


"Ingat! Jalankan tugas dengan baik dan jangan pernah lengah sedikitpun. Aku dan Maura akan memantau lewat CCTV yang sudah terpasang di seluruh sudut dalam bank, jika kami melihat tersangka maka kami akan menghubungi kalian. Selalu aktifkan headphone agar kita bisa saling berkabar dan itu memudahkan kita semua dalam bekerja."


"SIAP KOMANDAN!" teriak semua anggota dengan tegas dan bubar jalan.


Maura dan sang Komandan berjaga diluar, mereka akan menangkap perampok itu jika nanti sang perampok keluar dari bank.


"Ayo Maura, kita masuk."


Mereka berdua masuk ke dalam mobil box yang seperti digunakan untuk membawa surat pos.


Para tim sengaja membawa mobil itu agar tidak di curigai oleh sang perampok licik.


β€’


Kenalan dengan Adisti sang koki hebat dulu yuk πŸ€—



**Adisti Richard


β€’


TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK πŸ™


JADIKAN DUKUNGAN KALIAN SEMANGAT BAGI OTHOR πŸ€—


🏡️🏡️🏡️


MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR JUGA YUK ❣️**

__ADS_1



__ADS_2