JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 31. Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Tiga Bulan kemudian.


Anisa merasakan perutnya sakit dan dari area sensitifnya mengeluarkan cairan berlendir bercampur darah, dia terkejut dengan yang terjadi saat ini.


"Ini seperti ciri-ciri ingin melahirkan, tapi tidak mungkin karena usia kandunganku baru menginjak tiga bulan." ucap Anisa terus berpikir.


Anisa bergegas pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya dan dia takut terjadi sesuatu pada buah hatinya.


Audrey yang melihat Anisa seperti sedang terburu-buru langsung menegur.


"Kak! Kak Anisa mau kemana? Kok sepertinya buru-buru sekali?" tegur Audrey.


"E, aku ingin pergi keluar sebentar." jawab Anisa mencari alasan.


"Keluar? Kemana? Tidak biasanya kakak pergi sendirian, kalau begitu biar aku temenin ya?" Audrey ingin beranjak dari sofa tetapi Anisa mencegahnya.


"Tidak perlu Audrey! Aku bisa pergi sendiri." Anisa pun langsung pergi dari hadapan Audrey.


Setelah Anisa pergi, Audrey hanya mengerutkan dahi karena heran dengan sikap Anisa.


"Ada apa dengannya?" gumam Audrey sambil terus menatap ke pintu utama.


Anisa segera menaiki taksi dan taksi pun melaju pergi ke rumah sakit.


Lima belas menit kemudian.


Taksi itu telah sampai di rumah sakit terdekat.


Anisa segera keluar dan membayar lalu pergi masuk ke rumah sakit.


Sesampainya di meja administrasi, Anisa langsung bertanya kepada perawat yang menjaga administrasi.


"Entschuldigung, darf ich zum Frauenarzt?"


(Permisi, apa saya bisa bertemu dengan dokter kandungan?)


Ya, bahasa di Zurich adalah bahasa Jerman jadi Anisa harus bisa berbahasa itu agar para mereka mengerti apa yang Nisa katakan.


Sang perawat menjawab. "Ja, natürlich. Lass mich dich dort hinbringen."


(Ya, tentu saja. Mari saya antar.)


Mereka berdua berjalan ke ruangan Dokter kandungan.

__ADS_1


Tok tok


Perawat tersebut mengetuk pintu.


"Entschuldigung Doktor! Jemand möchte dich treffen." perawat itu sedikit berteriak.


(Permisi Dokter! Ada yang ingin bertemu dengan Anda.)


Setelah Dokter mengatakan masuk, Anisa pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Guten Abend, Doktor."


(Selamat sore, Dokter.)


Sapa Anisa setelah melihat seorang wanita cantik duduk di kursi kebesarannya.


"Selamat sore." sahut sang Dokter


Mereka berdua berbicara dalam bahasa Jerman.


"Ada yang bisa saya bantu?" lanjut Dokter tersebut bertanya kepada Anisa.


"Begini, Dok. Tadi sewaktu saya buang air kecil, dari area sensitif saya mengeluarkan cairan kental bercampur darah. Saya sedang hamil dan saya takut terjadi sesuatu dengan bayi saya." Anisa menjelaskan keluhannya.


Mereka berdua berjalan ke brangkar pasien dan Dokter mempersilahkan Anisa berbaring di ranjang tersebut.


"Apa sebelumnya sudah pernah periksa kandungan?"


"Sudah, Dok. Tapi Dokter itu mengatakan jika semua baik-baik saja."


"Kapan terakhir Anda periksa?" Dokter mulai membaluri perut Anisa dengan cairan seperti gel.


"Satu bulan yang lalu."


Dokter kembali mengangguk. "Permisi, saya periksa dulu ya?"


Dokter tersebut menjalankan sebuah alat seperti microfone di atas perut Anisa.


Raut wajahnya terlihat tidak meyakinkan dan sedikit ada keganjalan.


Beberapa saat kemudian.


Dokter telah selesai memeriksa dan mereka kembali duduk di kursi.

__ADS_1


"Hasil dari pemeriksaan saya tadi, Nyonya mengalami penyakit kanker serviks. Cairan kental bercampur darah, panggul sakit, sering lelah dan saat berhubungan intim pasti juga akan terasa sakit. Itulah besar kecilnya kemungkinan Anda mengalami kanker serviks."


Deg!


Anisa membolakan mata, jantungnya sangat sesak dan dia tidak tahu harus berkata apa.


"Saya menyarankan agar Anda operasi pengangkatan rahim agar kanker tidak menyebar karena bisa mengalami angka kematian." jelas Dokter tersebut dengan hati sedih.


"T—tapi bagaimana mungkin? Satu bulan yang lalu saya baru periksa dan Dokter disana tidak mengatakan hal apapun." ucap Anisa masih tidak percaya.


"Begini saja, kita akan melakukan beberapa tes untuk mengecek di laboratorium apakah Anda mempunyai kanker atau tidak. Bagaimana? Apa Anda bersedia?" Dokter meminta izin agar bukti akurat.


Anisa mengangguk. "Saya bersedia." ucapnya dengan raut wajah sedih bercampur takut.


Dokter mulai mengambil sesuatu yang dia perlukan untuk mengecek di laboratorium.


Setelah selesai, Anisa pamit pulang dan Dokter mengatakan akan menghubungi Anisa jika hasil tes sudah keluar.


Di parkiran.


Anisa menitikkan air mata, dia takut bayinya tidak bisa diselamatkan.


"Aku tidak peduli dengan nyawaku, yang aku pikirkan adalah bayiku." Anisa menunduk.


Dia berjalan dengan langkah gontai menuju jalan raya untuk mencari taksi.


Brugh!




**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN


TERIMA KASIH BANYAK 🙏


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️**


HALLO TEMAN-TEMAN SEMUANYA, MAMPIR KE NOVEL TEMAN AKU YUK, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN 🥰

__ADS_1



__ADS_2