
----------- LIMA BULAN KEMUDIAN -------------
Celline bersiap untuk pergi berangkat ke Indonesia, dia mengatakan pada sang Mommy jika ingin bertemu dengan Deana.
"Mom, entah mengapa aku sangat merindukan Deana. Apa aku boleh pergi ke Indonesia dan melihat keadaan Deana?" itulah yang Celline katakan kepada Nindi sang Mommy.
Nindi mengizinkan Celline pergi karena ada Zaky yang akan menjaga Celline di Indonesia nanti.
"Pergilah, jaga dirimu dan jangan lupa kabarin kakakmu jika kamu sudah sampai."
Celline pun sangat bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan Ammar dan Deana.
'Deana, Mommy baru kamu akan datang...' sorak Celline dalam hati dengan gembira.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam sampailah Celline di tanah kelahiran sang Mommy yaitu Indonesia.
Celline segera mencari taksi, dia langsung memutuskan untuk pergi ke rumah Aresha dibandingkan ke rumah kakaknya.
Didalam taksi hati Celline sudah tidak karuan, ada rasa bahagia, grogi dan gugup.
"Duh, kenapa aku deg-degan banget ya? Seperti ingin menonton konser Hrithik Roshan." gumam Celline dengan perlahan.
Perjalanan dua puluh lima menit sampailah Celline di depan gerbang keluarga Arsalaan, dirinya memberikan uang pada sopir taksi dan langsung mengetuk gerbang.
Satpam datang menghampiri Celline.
"Cari siapa, Nona?"
"Saya Celline Alexander, sepupunya kak Ammar."
Satpam melihat Celline dari atas sampai bawah dan dia langsung segera membukakan gerbang agar Celline bisa masuk.
Celline masuk ke dalam dan dia mengucapkan terima kasih terlihat dahulu sebelum pergi.
Ketika satpam telah menjawab sama-sama, barulah Celline berjalan masuk ke dalam rumah.
"TANTE!!!" teriaknya saat baru memasuki rumah Arsalaan.
Aresha terkejut saat ada yang memanggilnya dengan sangat kuat, tak hanya Aresha rupanya Deana pun ikut terkejut sampai dia menangis.
"Cup cup cup, sayang anak Oma. Kaget ya? Lagian siapa sih teriak-teriak kayak begitu." Aresha beranjak dari ranjang lalu dia keluar dari kamar dengan menggendong Deana.
Sesampainya dilantai bawah, Aresha kaget bukan kepalang ketika melihat Celline yang sudah menunggu di bawah.
''Celline?"
Celline tersenyum manis dan dia segera berjalan menghampiri Aresha.
"Tante, Celline kangen." ujarnya seraya memeluk tubuh Aresha dengan erat.
Aresha membalas pelukan Celline dengan sebelah tangannya sementara tangan sebelahnya untuk menggendong Deana.
"Tante juga kangen sama kamu. Kamu datang kemari kok gak ngomong-ngomong? Harusnya 'kan Ammar bisa menjemput kamu di bandara."
__ADS_1
Pelukan terurai.
"Gak pa-pa kok, Tante. Lagian ini bukan pertama kalinya aku tiba di Indonesia."
Aresha hanya tersenyum tipis.
Celline beralih menatap Deana. "Uluh-uluh, ponakan Aunty yang menggemaskan." dirinya mengambil Deana dari gendongan Aresha.
Mereka berdua duduk di sofa.
"Mommy kamu gak ikut?"
Celline menggeleng. "Daddy sedang banyak pekerjaan jadi Mommy tidak bisa meninggalkan Daddy sendirian."
"Kamu tinggal saja dirumah Tante, mau 'kan?"
"Gak usah, Tante. Kak Zaky juga ada di Indonesia bukan? Jadi aku akan tinggal bersama dengan kakakku saja."
"Kenapa kamu tidak mau tinggal dirumah ini? Padahal Tante berharap kamu mau supaya Tante ada teman kalau semuanya pada sibuk bekerja." Aresha berbicara dengan nada sedih.
Celline tidak sanggup melihat wajah sedih Aresha. 'Padahal aku hanya berpura-pura saja menolak permintaan Tante, tentu aku tidak akan menolak jika harus tinggal disini karena bisa setiap hari bertemu dengan kak Ammar dan Deana.' batinnya bergumam.
"Baiklah, aku akan tinggal disini bersama dengan Tante." jawab Celline dengan tersenyum.
"Benarkah? Akhirnya Tante tidak akan kesepian lagi kalau Paman dan Ammar pergi bekerja." Aresha terlihat senang karena pasalnya dia memang kesunyian jika hanya berdua saja dengan Deana.
Aresha ingin membawa Deana jalan-jalan keluar rumah tetapi Ammar melarangnya, Ammar tidak ingin sang Putri terkena debu lalu setelah itu sakit.
πΊπΊπΊ
Audrey sedang berada di dapur, hari ini dia akan membuatkan makan malam kesukaan Amman.
Sebelum menyiapkan makanan di meja, Audrey melirik jam dinding sejenak.
"Sudah hampir pukul enam, mengapa kak Amman belum pulang juga?'' gumamnya dengan hati gelisah.
Tak selang beberapa lama, terdengar suara deru mobil di halaman rumah, Audrey pun tersenyum dan dia bergegas membukakan pintu untuk Amman.
Ceklek.
Wajah tampan Amman muncul dengan senyum manis.
"Sayang, kamu nungguin aku ya?'' Amman mengecup dahi Audrey.
Audrey menutup pintu saat Amman sudah masuk ke dalam rumah.
"Iya kak, aku tadi sudah membuatkan makanan kesukaan kakak." ujar Audrey sambil menggandeng lengan Amman.
Audrey sudah pintar memasak karena dia belajar kursus memasak.
"Kenapa kamu harus repot-repot memasak makanan sebanyak ini? Kamu jangan terlalu kelelahan sayang, harusnya kamu bisa meminta bantuan kepada Bi Imah agar memasak semua makanan ini." Amman memeluk tubuh Audrey dari samping.
"Sudah, tidak masalah kak. Sebaiknya kakak mandi dulu setelah itu kita makan malam bersama."
__ADS_1
Amman mengangguk dan sebelum pergi dia mencium pucuk kepala Audrey terlebih dahulu.
Audrey hanya tersenyum sambil menatap Amman yang sudah berjalan ke arah kamar mereka.
Keadaan Audrey yang sedang hamil besar membuat Amman berinsiatif agar mereka pindah ke kamar yang terletak di lantai bawah, Amman kasihan jika Audrey harus naik-turun tangga.
Beberapa menit kemudian.
Audrey ingin menyusul Amman masuk ke dalam kamar, tetapi dia merasakan perutnya yang sangat melilit.
"Aw, kenapa perutku sakit sekali?" Audrey meringis kesakitan.
Dia tidak tahan merasakan sakit yang terus melanda di bagian perutnya.
"Kakak! Kak Amman!'' teriak Audrey sambil berdiri dengan tangan berpegangan pada ujung meja.
Amman segera berlari keluar dari kamar setelah mendengar panggilan dari Audrey, terlihat dia masih memakai handuk yang mengatakan dirinya baru saja selesai mandi.
"Sayang, ada apa?" Amman menatap wajah Audrey yang terlihat menahan sakit.
"Kak, perutku. Perutku sakit!" seru Audrey seraya mengambil nafas dan menghembuskannya pelan.
"Sakit? Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?" Amman menjadi bingung.
"Aku rasa, ayo kak kita ke rumah sakit. Aku tidak tahan merasakan sakit yang terus melanda ini." Audrey mencengkeram lengan Amman dengan kuat.
Amman mengangguk dan dia menuntun Audrey untuk berjalan keluar dari rumah.
"Tunggu!" Audrey berhenti begitupun dengan Amman.
Amman menaikkan sebelah alisnya guna bertanya ada apa.
"Apa kakak akan pergi ke rumah sakit dengan memakai handuk saja dan bertelanjang dada?"
Amman menepuk dahinya. "Maaf, aku sampai lupa jika belum memakai pakaian. Tunggulah disini, aku akan berpakaian terlebih dahulu." lanjutnya sambil berlari masuk ke dalam kamar dan bergegas memakai baju.
Beberapa detik kemudian Amman kembali dengan sudah memakai pakaian lengkap.
Mereka berdua keluar dari rumah, tak lupa dengan membawa baju-baju bayi yang sudah mereka persiapkan di dalam tas besar dari jauh hari.
Mobil melaju pergi dan tujuan mereka saat ini adalah rumah sakit.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK π
BANTU TAP FAVORIT DAN RATEπ5 nya ya teman-teman π€ Supaya novel ini tembus 100K Popularitas sebelum awal bulan π₯°**
__ADS_1