
Satu minggu kemudian.
Anisa sudah terlihat sedikit membaik, dia juga sudah mulai bekerja di butik milik Aresha.
Tepat pukul sembilan malam dirinya baru keluar dari butik tersebut.
"Bismillah, semoga selamat sampai tujuan. Amin."
Sebelum melajukan motor, Anisa berdoa terlebih dahulu agar dia selamat sampai di rumah.
Motor pun melaju dengan kecepatan sedang karena lalu lintas juga tidak terlalu padat.
Dua puluh lima menit.
Cit!
Anisa mengerem motornya dengan sangat dalam, dia kaget karena tiba-tiba sebuah mobil berhenti untuk menghalangi laju motornya.
Anisa melihat mobil itu dan dia teringat akan sesuatu.
"Itu?" ucapnya sambil bergegas menstater motor.
Nasib baik tidak berpihak kepada Nisa karena Ammar dengan cepat menghentikan laju motor tersebut.
Jantung Nisa sudah berdegup tidak karuan, dia teringat akan apa yang sudah Ammar lakukan padanya.
Ammar menarik tangan Nisa dengan kasar.
"Turun!" perintah Ammar dengan berteriak.
"Tidak! Lepaskan aku!" Anisa pun menjawab dengan berteriak pula.
Keadaan sangat sepi, biasanya banyak pengendara lewat tapi saat ini entah mengapa tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
"Ikut denganku!" Ammar menyeret Anisa ke arah mobilnya.
"Lepaskan! TOLONG! TOLONG!"
Plak!
__ADS_1
Ammar menampar pipi Nisa dan Nisa langsung bungkam sambil menangis.
"Tuan aku mohon biarkan aku pergi." lirih Anisa.
Ammar tidak peduli dengan perkataan Anisa, dia mendorong tubuh Anisa masuk ke dalam kursi penumpang dan Ammar dengan cepat menyusul masuk ke dalam mobil.
Ammar melajukan mobil dengan kecepatan sedang, tujuannya saat ini adalah apartemen. Sudah dari tadi Ammar mengintai Anisa saat di butik, dan sepertinya inilah buah dari kesabarannya menunggu Anisa keluar.
"Tuan, aku mohon keluarkan aku dari mobil ini! Apa salahku pada Anda hingga Anda berbuat jahat seperti ini padaku."
"DIAM! JIKA KAU MASIH BERSUARA MAKA AKU AKAN MEROBEK MULUTMU ITU!" gertak Ammar menakut-nakuti Anisa.
Anisa akhirnya memilih untuk bungkam karena takut dengan ancaman Ammar.
Tiga puluh menit kemudian.
Mobil Ammar sudah sampai di parkiran apartemen dan Ammar menarik tangan Anisa agar keluar dari mobil.
"Tuan, Anda ingin membawaku kemana?" tubuh Anisa bergetar hebat ketika Ammar menariknya masuk ke dalam sebuah gedung.
"Aku ingin menjualmu! Puas?" bentak Ammar tepat di depan wajah Anisa.
Ceklek!
Ammar membuka pintu kamar dan dia masuk ke dalam kamar bersama dengan Anisa.
Anisa sudah berontak tetapi Ammar tetap memaksanya masuk.
Ammar mengunci pintu dan dia menghempaskan tubuh Anisa dengan kasar di atas ranjang.
"Hiks... Tuan, tolong biarkan aku pergi." Anisa memohon dengan tubuh yang beringsut ke belakang.
"SST! Diam-lah, aku semakin berg*Airah jika melihat wajah malangmu ini." Ammar merangkak untuk menggapai tubuh Anisa.
Anisa menggeleng takut, trauma satu Minggu yang lalu saja belum hilang dan sekarang Ammar menambahnya lagi.
Dugh!
Nisa menendang Ammar dan dia segera bergegas turun dari ranjang.
__ADS_1
Ammar memegangi senjatanya dengan menahan sakit. "Argh! Sial, berani sekali kau!" ucapnya dan segera turun dari ranjang untuk mengejar Anisa.
Anisa membuka pintu tetapi dia lupa jika pintu dikunci oleh Ammar.
"Haha.. Mau lari kemana, sayang? Kemari-lah, tugasmu cukup memuaskan aku dan setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang dalam keadaan selamat." Ammar tersenyum smirk sambil berjalan perlahan ke arah Anisa.
"Anda sudah gila, Anda benar-benar gila Tuan Ammar! Aku tidak punya salah dan Anda melecehkan aku! Anda benar-benar tidak punya hati!" teriak Anisa emosi.
"Kau berani membentakku? Jadi lewat siapa lagi aku membalaskan dendam? Hanya kaulah wanita yang sangat berharga di hati Amman, dan aku puas jika melihat Amman terpuruk apalagi menderita!" Ammar tertawa jahat.
"Bukalah sedikit mata hati Anda, Tuan! Coba pikirkan apa yang Anda perbuat ini benar atau tidak? Anda hanya diselimuti oleh amarah dan dendam sehingga Anda tidak bisa berpikir jernih."
"Aku tidak perlu ceramah darimu!" Ammar kesal dan dia berjalan cepat mendekati Anisa.
"Stop! Jika Anda berani maju, maka vas bunga ini akan mengenai kepala Anda." Anisa mengambil ancang-ancang dengan sebelah tangan yang memegang Vas bunga terbuat dari kaca.
Ammar terdiam sambil mengangkat kedua tangan, dia juga mengentikan langkahnya. 'Aku tidak boleh gegabah, pastikan dia lengah terlebih dahulu barulah aku akan menyantapnya.' batin Ammar berpikir.
Anisa mencari kunci di dalam laci tetapi tidak ketemu. 'Ya Allah, dimana Tuan Ammar menyimpan kuncinya? Apa jangan-jangan dia masukkan kunci itu ke dalam saku celana?' batin Anisa sambil berdoa agar kunci itu ketemu.
Grep!
•
•
**Yuk kenalan dengan Anisa 🥰 (Yang sabar ya Nisa, kamu pasti bisa melawan Ammar 🥲)
•
TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**
***KIRA-KIRA KALAU DI KEHIDUPAN NYATA ADA PRIA SEPERTI AMMAR ENAKNYA DI APAIN YA?
__ADS_1
DUH, TAPI KALAU BISA JANGAN SAMPAI ADA DEH, AMIT-AMIT 🥲***