JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 61. Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Hujan turun dengan sangat lebat, petir pun ikut datang menemani sang hujan turun ke muka bumi.


Ammar, Celline dan Adisti berada di dalam rumah.


Sebenarnya Adisti dan Celline ingin pamit pulang tetapi entah mengapa cuaca sangat gelap karena mendung dan turunlah hujan lebat.


Di rumah hanya ada mereka bertiga karena Amir dan Aresha sedang berlibur di luar negeri.


Krucuk.


Perut Celine berbunyi karena menahan lapar. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tetapi mereka semua belum juga makan.


Celline mengigit bibir bawahnya karena malu. "Apa tidak ada bahan makanan apapun di dalam kulkas?" lanjutnya.


"Sepertinya hanya ada beberapa, itupun harus dimasak dengan ribet. Aku kehabisan stok Indomie dan telur." ujar Ammar menjawab.


Tanpa berbicara apapun, Adisti beranjak dari sofa dan berjalan menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Adisti segera membuka kulkas dan lemari. Di dalam kulkas dia menemukan sayuran yaitu wortel dan kentang.


"Hanya ada wortel dan kentang." gumamnya terdiam sejenak untuk memikirkan akan membuat cemilan apa.


Senyumnya terbit ketika ide mulai muncul di benaknya, Adisti mengambil wortel dan kentang.


"Kak, apa kau punya simpanan tepung terigu?" Adisti berkata dengan setengah berteriak.


"Di lemari!" jawab Ammar dengan sedikit berteriak pula.


Ammar dan Celline hanya saling pandang karena heran mengapa Adisti menanyakan tepung terigu.


Adisti pun berjalan ke lemari dan dia segera mencari tepung terigu.


"Akhirnya ketemu." ucapnya dengan senang lalu membawa tepung ke meja.


Adisti melenturkan leher dan tangannya dulu karena dia sekarang ingin memasak cemilan penunda lapar.


Dia mulai meracik semuanya mulai dari sayuran dan bumbu-bumbu.


Beberapa saat kemudian.


Setelah selesai membuat cemilan, Adisti segera membawanya ke meja.


"Makanan datang!" serunya dengan riang sambil membawa nampan berisi satu buah piring dan tiga gelas teh hangat.


Adisti meletakkan nampan di meja.


"Wah, samosa!" pekik Deana girang.


Deana langsung mengambil satu buah samosa buatan Adisti.



"Aduh, panas." ucap Deana dengan wajah sedih.


Adisti mengambil samosa yang tadi Deana lempar.


"Onty baru selesai menggorengnya, tentu saja masih panas." ucap Adisti seraya memotong samosa dan meniupnya.


"Ayo, buka mulutmu." Adisti menyuapkan sepotong samosa ke dalam mulut mungil milik Deana.


"Bagaimana, enak tidak?"

__ADS_1


"Enak, Onty. Onty emang pintel." Deana tersenyum lebar.


"Jelas saja Onty nya pinter, dia 'kan seorang koki." sambung Ammar sembari mengambil satu buah samosa begitupun dengan Celline.


Mereka makan bersama dengan diselingi obrolan ringan dan juga gurauan.


Celline merasa jika Adisti lebih pantas bersanding dengan Ammar dibandingkan dirinya.


'Adisti lebih baik segalanya daripada aku. Dia cantik, jago masak, dan pekerja keras. Sementara aku? Aku hanya wanita malas yang selalu suka meminta kepada orang tua, aku tidak pintar memasak.' batin Celline tidak percaya diri.


Selesai makan, mereka sudah cukup kenyang merasakan samosa yang Adisti buat.


"Aku sudah memasak lebih dan menyisihkan di kulkas, jika sewaktu-waktu Deana ingin memakannya tinggal goreng saja. Tapi ingat, jangan disimpan sampai satu Minggu karena tidak baik untuk kesehatan. Sebenarnya makanan Frozen food kurang sehat tetapi tergantung kita bagaimana cara mengkonsumsinya."


Deana mengangguk. "Telima kasih, Onty." ucapnya seraya memeluk tubuh Adisti.


"Semuanya sudah kenyang, waktunya tidur." perintah Ammar dengan nada lembut.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh tetapi hujan tidak kunjung reda dan malah semakin lebat.


Ammar meminta agar Adisti dan Celline menginap dirumahnya.


Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing, Ammar masuk ke dalam kamarnya bersama sang Putri sementara Celline dan Adisti ke dalam kamar tamu.


Adisti merebahkan tubuhnya di ranjang dengan memejamkan mata sejenak.


Drtt Drtt


Ponsel Adisti yang berada di dalam tas bergetar dan menandakan ada panggilan masuk.


Adisti segera mengambil ponsel, dia melihat siapa yang meneleponnya. Seketika senyumnya terbit saat tahu ternyata sang Mama yang menghubungi.


"Halo, Ma. Selamat malam, Mama belum tidur?" sapa Adisti ketika panggilan sudah tersambung.


Adisti menghela nafas pelan, sebenarnya dia juga sangat merindukan sang Mama tetapi mau bagaimana lagi karena pekerjaan yang menghalangi dirinya untuk pulang.


"Nanti kalau ada libur, Adis pasti pulang. Mama jangan terlalu banyak pikiran, Adis gak mau Mama jadi sakit nantinya."


Terdengar kekeh'an Lidia dari seberang sana. πŸ“²"Iya sayang, Mama akan jaga kesehatan."


"Oh ya, Mam. Adis ingin mengatakan sesuatu."


πŸ“²"Ada apa, sayang?" Lidia heran.


"Adis sepertinya jatuh cinta pada seorang pria."


πŸ“²"Benarkah? Ya Tuhan, jika itu benar maka Mama dan Papa akan sangat bahagia sekali. Coba katakan siapa pria itu?"


"Maaf Adis belum bisa kasih tau, soalnya Adis dan pria itu masih dalam tahap pendekatan. Mama doain aja supaya pendekatan kami ini berjalan lancar dan Adis berjodoh dengan dia."


πŸ“²"Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, nak." hati Lidia terasa damai ketika Adis mengatakan sedang mencintai seorang pria.


"Tapi, Ma. Ada satu hal yang Adis takutkan."


Di seberang sana raut wajah Lidia berubah menjadi khawatir.


Adis langsung membuka suara ketika menyadari keterdiaman orang tuanya. "Pria itu duda beranak satu."


πŸ“²"Apa!" pekik Lidia kaget.


"Adis harap agar Papa dan Mama tetap menyetujui keinginan Adis untuk mendekati pria itu."

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari seberang sana, Lidia terdiam tanpa suara sedikitpun.


Sementara di dalam kamar Celline.


Celline sedang berbicara dengan sang kakak melawati sambungan telepon.


πŸ“²"Apa kau baik-baik saja?" Zaky merasa heran karena mendengar suara Celline yang sangat lemah.


"Ya, aku baik." jawab Celline dengan lesu.


Entah mengapa dia tidak bersemangat jika mengingat kelebihan yang Adisti miliki.


πŸ“²"Jaga kesehatanmu, jangan memikirkan hal-hal yang tidak terlalu penting."


"Iya kakak, aku mengerti."


πŸ“²"Ya sudah, jaga dirimu dan istirahatlah."


Sambungan pun terputus, Zaky saat ini belum kembali ke Indonesia.


Celline melemparkan ponselnya di atas ranjang, dia merebahkan diri dan memejamkan mata.


"Jika aku dan kak Ammar di takdir 'kan berjodoh maka aku yakin pasti kami akan bersama."


Celline memejamkan mata, lama kelamaan terdengar dengkuran halus yang menandakan dia sudah tertidur pulas.


🌺🌺🌺


---------- Satu bulan kemudian ---------


Zaky dan Maura sedang berlibur ke negara Belanda, karena sudah mendapatkan restu dari keluarga kedua belah pihak membuat Zaky dan Maura tidak lagi menyembunyikan hubungan mereka.


Mereka saat ini sedang berkeliling ke pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.


"Lusa kita akan pulang, aku ingin membelikan oleh-oleh untuk Ayah dan teman-teman lainnya." pinta Maura kepada Zaky.


"Silahkan saja, kamu bisa membeli apapun yang kamu sukai." sahut Zaky dengan tulus.


Maura mengucapkan terima kasih dan dia mulai memilih oleh-oleh apa yang akan dibawa pulang ke negaranya.


Tidak terasa sudah tiga hari mereka berada di Belanda dan sekarang sudah saatnya di penghujung pulang.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita tersenyum ke arah Zaky dan Maura.


Wanita itu berjalan ke arah keduanya dengan senyuman licik dan rencana yang sudah dia pikirkan dengan matang.


β€’



Adisti sang Koki



Celline ❣️


β€’


**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN πŸ₯°


TERIMA KASIH BANYAK πŸ™**


__ADS_2