JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 79 (BONCHAP) Jerat cinta si kembar


__ADS_3

Weekend hari ini Amman dan keluarga kecilnya berniat untuk berkunjung ke rumah Ammar sang adik. Dilan mengatakan jika dia sangat rindu dengan sang sepupu yaitu Deana.


Begitupun dengan Zaky dan Maura, sepasang suami istri itu bersama dengan anak mereka ingin pergi berkunjung ke rumah milik Ammar.


Zaky menghentikan mobil di pinggir jalan untuk membeli sesuatu karena Zaidan mengatakan ingin membeli sesuatu untuk Deana sang adik.


Begitupun dengan Maura yang juga ingin membawa buah tangan ke rumah sang adik ipar.


Mereka bertiga belasan berkeliling sejenak.


Zaidan berhenti ketika dia melihat boneka imut nan lucu yang ada di salah satu tempat penjualan boneka.


"Mom, Zai ingin membeli boneka itu. Zai yakin kalau Deana pasti menyukainya." ucap bocah berusia tujuh tahun itu.


Maura mengangguk dan membelikan apa yang Zaidan mau.


Zaidan pun memegang boneka Minion itu dengan hati gembira.


Mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan dan saatnya melanjutkan perjalanan.


Beberapa menit kemudian.


Sampailah mereka di kediaman Ammar.


"Ayo sayang." Maura mengulurkan tangan untuk menggandeng sang putra.


"Mom, Zai langsung ingin bertemu dengan Deana saja." ucap Zaidan meminta.


"Baiklah, nanti kamu bisa langsung menemui Deana. Berikan salam sopan kepada Paman dan Aunty terlebih dahulu."


Zaidan mengangguk paham.


Sesampainya di dalam.


Ammar dan Celline menyambut kakak mereka dengan ramah.


Zaidan mencium takzim punggung tangan Celline dan Ammar.


"Aaa, ponakan Aunty sopan banget." Celline mengedipkan matanya beberapa kali.


Meksipun sudah memiliki dua anak tetapi jika bertemu dengan keluarga dekatnya, Celline akan berubah manja.


"Aunty, dimana Deana?'' tanya Zaidan langsung.


"Dia ada di kamar. Pergilah jika kamu ingin menemuinya." ucap Celline menjawab.

__ADS_1


"Mom, Zai ke atas dulu ya?"


Maura mengangguk. "Jangan nakal ya, sayang?"


Zaidan bergegas pergi menaiki anak tangga.


Setelah Zaidan pergi, Celline langsung menatap Zaky.


"Kakak!" pekiknya masuk ke dalam pelukan Zaky. "Kau sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini, aku sangat merindukanmu." ucapnya manja.


"Celline, ingat usia dan kau ini sudah memiliki dua anak. Mengapa masih manja seperti ini?" Zaky menggeleng sementara Ammar dan Maura hanya tertawa.


"Dia memang seperti itu, Zak. Manjanya melebihi anak-anak." ejek Ammar diselingi tawa renyah.


Zaky pun ikut tertawa sementara Celline bersungut kesal.


Suara deru mobil kembali terdengar di halaman rumah.


Ternyata Amman bersama istri dan anaknya.


"Wah, ternyata udah ramai." ucap Amman saat sudah berada di dalam rumah.


Ammar menoleh ke pintu dan dia segera menghampiri sang kakak.


Saudara kembar itu berpelukan khas laki-laki sementara dengan Audrey hanya berjabat tangan saja.


"Hello, Paman."


Saat sudah bersapa ria, Alden pun naik ke lantai atas untuk menemui saudara-saudaranya dan para orang tua berbincang di ruang tamu.


Zaidan masuk ke dalam kamar dengan membawa boneka Minion hadiah untuk Deana.


"Deana?" sapanya saat melihat Deana yang sedang duduk di meja belajar.


Deana menoleh dan tersenyum ke arah Zaidan.


"Aku bawakan ini untukmu." Zaidan memberikan boneka tersebut kepada Deana.


"Wah, terima kasih banyak. Mengapa kau begitu repot membawakan hadiah untukku?" Deana menjadi tidak enak.


"Tidak repot, tadi Mommy dan Daddy membeli sesuatu lalu aku melihat Boneka Minion itu. Aku membelinya untukmu, apa kau menyukainya?"


"Tentu saja aku suka." Deana memeluk Boneka pemberian Zaidan.


Jessica ke dalam kamar Deana tanpa permisi.

__ADS_1


"Kak, pinjam penggaris dong." ucap Jessi sambil melihat ke boneka yang Deana peluk.


"Boneka! Bagus sekali." Jessica ingin mengambilnya dari tangan Deana tetapi dihentikan oleh Zaidan.


"Jangan sentuh boneka itu! Aku membelinya untuk Deana, bukan untukmu." ucap Zaidan kesal.


"Aku hanya ingin meminjamnya sebentar." Jessi tetap berniat mengambil boneka milik Deana.


"Aku bilang gak boleh!" titah Zaidan bertambah marah karena Jessica yang keras kepala.


"Sudah-sudah." Deana pun menengahi pertengkaran yang akan terjadi antara Zaidan dan Jessica.


"Ini, ambillah.'' Deana menyodorkan boneka ke hadapan Jessica dan Jessi pun menerimanya dengan senang.


"De, apa-apaan kau ini? Aku membelinya untukmu, bukan untuk dia!" Zaidan pun tidak terima.


"Kak, kau sudah memberikannya untukku. Jadi terserah mau aku apakan boneka itu." ucap Deana sekenanya.


Zaidan hanya berdecak kesal dan menatap Jessica dengan tatapan tidak suka.


"Werk." Jessi mengulurkan lidah dan segera pergi dari kamar Deana.


Tujuannya ingin meminjam penggaris malah tidak terlaksana.


Entah mengapa Zaidan sangat tidak suka dengan Jessi yang selalu merebut apa yang Deana miliki.


"Kau terlalu baik padanya." ucap Zaidan datar.


Deana hanya tersenyum tipis. "Dia itu adikku, lagipula dia masih kecil jadi aku harus banyak-banyak mengalah untuknya."


"Tetapi aku tidak suka, De. Kau terlalu memanjakannya, jangan sampai kau menyesal suatu saat nanti." ucap Zaidan bijak dan sok dewasa.


"Kau ini, usia masih tujuh tahun tetapi bersikap sok dewasa." Deana kembali menghadap bukunya.


Zaidan duduk di tepi ranjang sambil menatap Deana yang sibuk belajar.



**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏


🏵️🏵️🏵️

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel teman Othor juga 🥰**



__ADS_2