
Sore ini Ammar dan Adisti memutuskan untuk pergi makan di luar sebelum pulang ke rumah. Berhubung Adisti tidak membawa mobil, jadi Ammar-lah yang selalu mengantar-jemput Adisti setiap pergi bekerja.
Terlihat mereka berdua sudah duduk di sebuah meja restauran dengan nuansa Eropa, Adisti tidak menyangka jika di Indonesia ada tempat sebagus ini.
"Restauran nya sangat bagus." ucapnya sambil melihat ke sekeliling.
"Aku yakin kau pasti juga akan menyukai makanan disini." Ammar menimpali.
Mereka berdua saling melempar senyum, dalam beberapa bulan terakhir ini hubungan Adisti sedikit akrab tetapi Ammar hanya menganggap Adisti sebagai teman biasa.
Setelah makanan sampai di meja, mereka berdua segera menyantapnya dengan nikmat.
"Eum, kau benar sekali. Makanan ditempat ini sangat lezat, bahkan mungkin masakanku tidak seenak ini." Adisti memuji sang koki.
Saat mereka sudah selesai makan, Adisti berpamitan ke toilet terlebih dahulu untuk membasuh wajah. Ketika melewati dapur, Adisti tidak sengaja mendengar suara gebrakan meja yang begitu kencang.
"Bagaimana kau ini? Jika kau tidak bisa memasak makanan yang enak lalu bagaimana mana caranya kita bisa menang dalam lomba itu!" bentak sang pemilik restauran pada salah satu koki andalannya.
"Saya hanya memasak dengan kemampuan saya, Tuan. Jika menurut juru chef masakan saya kurang enak lalu apa yang bisa saya lakukan?" koki itu menunduk.
Adisti tidak tega jika ada karyawan yang di marah-marah seperti itu, tanpa berpikir panjang Adisti pun masuk ke dalam restauran tersebut.
"Permisi!" sapa Adisti yang sudah berada di dalam dapur.
Semuanya menatap ke arah Adisti dengan tercengang.
"Siapa dia? Bagaimana bisa dia masuk ke dalam dapur seperti ini?" sang pemilik restauran terlihat marah.
"Hei!" pemilik restauran menunjuk Adisti.
Adisti melihat kebelakang namun tidak ada siapapun. "Anda menunjuk saya?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.
"Apa kau lihat ada orang lain dibelakangmu? Tentu saja aku menunjuk dirimu." sang pemilik restauran mendekati Adisti.
Adisti hanya memasang wajah biasa saja.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam dapur ini?"
"Tidak ada, kebetulan tadi saya ingin ke toilet dan saya mendengar ada kegaduhan disini. Maaf jika saya tadi mendengar sedikit pembicaraan kalian, apa kalian sedang mencari seorang koki untuk mengikuti lomba?"
Sang pemilik restauran menatap anggotanya. "Ya, lalu?"
"Perkenalkan saya Adisti Richard, saya adalah seorang koki disalah satu restauran berbintang lima. Jika Anda mengizinkan, saya ingin membantu restauran Anda untuk ikut dalam lomba." tawar Adisti dengan kerendahan hatinya.
Pemilik restauran kembali menatap para pegawai. "Apa tidak akan jadi masalah dan apa kau bisa membuktikan?"
Adisti mengangguk. "Saya akan bicara pada atasan saya agar mengizinkan saya ikut membantu Restauran Anda. Dan saya bisa membuktikan kepada kalian semua jika saya pantas ikut dalam lomba itu."
Pemilik restauran memberikan kode dan asisten pribadinya menyodorkan sebuah kertas kepada Adisti.
"Kau harus memasak makanan ini, jika kau berhasil maka kau bisa ikut dalam lomba dan saya akan mendaftarkanmu."
Adisti menerima kertas itu dan dia mulai memahami bahannya serta akan menjadikan masakan itu berbeda dari yang lain.
"Saya akan mencobanya." Adisti berjalan ke arah meja kompor tak lupa dia memakai celemek agar bajunya tidak kotor.
Sementara di meja.
Ammar gelisah karena menunggu Adisti yang tak kunjung kembali ke meja.
"Kemana dia? Pamitnya ke toilet tetapi kenapa lama sekali?" Ammar melirik jam yang menempel dipergelangan tangannya.
Ternyata sudah hampir lima belas menit Adisti tidak kembali dari toilet, Ammar yang merasa risau langsung bergegas mencari Adisti.
__ADS_1
Saat tiba di dekat dapur, langkah Ammar terhenti dan dia melihat ke arah dapur tersebut.
"Adisti? Itu benar Adisti 'kan?"
Ammar tanda dengan warna pakaian dan model pakaian yang tadi Adisti pakai, setelah dia rasa tidak salah, dirinya pun langsung masuk ke dalam dapur.
"Adis, apa yang kau lakukan?"
Semua mata tertuju pada Ammar.
πΊπΊπΊπΊ
Audrey masih berjalan kesana-kemari karena Dokter menyarankan agar dia berjalan perlahan supaya jalan lahir si bayi cepat terbuka.
Dirinya menarik nafas dan mende*sah ketika merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
"Kak! Perutku sakit sekali, lebih sakit daripada yang tadi." Audrey mencengkeram lengan Amman dengan kuat.
Amman menahan rasa sakit yang Audrey berikan.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil Dokter." Amman bergegas pergi dan memanggil Dokter.
Beberapa detik kemudian, Dokter datang dengan salah satu suster.
"Sisihkan berbaring, Nyonya."
Audrey berbaring di ranjang dan dia masih meringis kesakitan. "Argh, sakit sekali Dok." lirihnya dengan keringat yang menetes di dahi.
Amman tidak tega melihat wajah Audrey yang sangat kesakitan.
"Pembukaan sudah cukup dah saya harapkan Nyonya mengikuti aba-aba dari saya."
Audrey hanya mengangguk patuh.
"Pertama, kedua kaki ditekuk dan terbuka lebar untuk memudahkan melahirkan dengan cara normal. Kedua, pusatkan kekuatan kontraksi dengan sedikit mengangkat punggung sehingga kepala di posisi agak terbangun, sembari mengejan seperti sedang mendorong sesuatu. Ketiga, selipkan dagu di bagian dada, kemudian terapkan teknik pernapasan yang tepat saat mengejan contohnya, tarik napas sedalam-dalamnya, kemudian buang napas sambil mendorong tubuh dengan mengejan seperti layaknya saat Anda sedang buang air besar. Berikan sedikit istirahat bagi tubuh sebelum mulai menarik napas kembali, dan biarkan kepala di posisi tertidur lagi. Ulangi hal tersebut dan usahakan untuk tetap tenang selama mengikuti panduan dari saya. Anda mengerti Nyonya?"
"Saya mengerti, Dok." jawab Audrey dengan suara bergetar.
Rasa sakit itu tidak ada tandingannya dengan apapun, itulah menurut Audrey.
Dokter mulai memberikan aba-aba kepada Audrey.
"Iya, terus..." panduan dari Dokter semakin membuat Audrey semangat untuk melahirkan bayinya.
"Sedikit lagi, sudah kelihatan rambutnya." ucap sang Dokter dengan semangat membara.
Lenguhan terakhir keluarlah bayi Audrey dengan suara tangisan yang kencang.
"Oek, oek."
Audrey dan Amman tersenyum lega sambil mengucapkan Alhamdulillah.
"Alhamdulillah bayi kita sudah lahir, sayang." Amman mengecup pucuk kepada Audrey berulangkali.
Audrey hanya mengangguk dengan nafas yang masih terengah.
Setelah di bersihkan, Dokter langsung menempatkan bayi di dada Audrey sebagai pengenalan menyusui dini.
'Terima kasih karena kamu sudah memberikan kado terindah untukku, Audrey. Aku berjanji akan membahagiakan kalian berdua dan tidak akan menyia-nyiakan kalian.' batin Amman dalam hati.
Penampilan Amman sangat kacau karena Audrey menarik rambutnya serta menggenggam lengannya dengan erat sehingga lengan Amman terluka akibat bekas kuku Audrey yang menancap di kulitnya. Itu semua tidak masalah bagi Amman dibandingkan perjuangan Audrey yang sudah melahirkan bayinya dengan normal.
Amman sebenarnya meminta agar Audrey melahirkan secara Caesar tetapi Audrey menolak dengan berbagai alasan.
__ADS_1
"Jika bisa melahirkan normal lalu mengapa aku harus lahiran secara Caesar?" itulah jawaban Audrey ketika Amman memintanya lahiran secara operasi.
Bayi Audrey dan Amman telah selesai menyusu dan Amman segera mengumandangkan adzan di telinga sang bayi lalu setelah itu dia mencium pipi mulus bayi mungilnya.
"Semoga kelak kamu bisa membanggakan kedua orang tua serta keluargamu, kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi semua orang, jadi anak yang Sholeh dan berbakti, mempunyai jiwa pemimpin dan bertanggungjawab." doa terbaik lainnya Amman katakan dalam hati.
Ceklek.
Pintu ruang rawat terbuka dan terlihat Amir, Aresha, Celline, dan Adisti masuk ke dalam ruangan itu.
"Wah, cucu Oma." Aresha langsung heboh ketika melihat bayi mungil yang ada dalam gendongan Amman.
"Duh, lucunya. Dia laki-laki atau perempuan, Amman?"
"Laki-laki, Ma." ucap Amman dengan senyum bahagia, dia tidak memperdulikan penampilannya saat ini.
"Wah kakak, sepertinya kau baru saja habis berperang." ejek Celline karena melihat Amman acak-acakan.
"Ya, aku berperang menemani istriku." sahut Amman dengan romantis.
Celline hanya tersenyum melihat kebucinan Amman.
Adisti ikut melihat bayi Amman dan Audrey. "Lucu sekali." ucapnya dengan mencubit gemas pipi bayi itu.
Celline hanya mendengus ketika melihat Adisti yang sok akrab.
Amir pun turut memberikan selamat kepada anak dan menantunya.
"Apa kalian berdua sudah menyiapkan nama untuk putra kalian?"
Amman mengangguk. "Dilan Malik Arsalaan, yang artinya lelaki setia, bertanggungjawab jawab dan kuat."
"Bagus sekali namanya. Halo Dilan nya Oma." Aresha masih menimang bayi Amman dan Audrey.
Ceklek.
Pintu ruangan kembali terbuka.
"Hei, mengapa kalian terlambat memberikan kabar padaku? Dimana cucuku yang baru saja lahir?" Brian berjalan mendekat dengan wajah kesalnya.
Semua tertawa bersamaan ketika melihat wajah Brian yang sangat lucu bagi mereka.
"Berikan padaku." Brian merebut bayi Amman dari tangan Aresha.
Aresha pun memberikan dengan perlahan bayi yang ada di dalam gendongannya.
Mereka tertawa bersama sekaligus bergembira menimang baby Dilan.
Ammar sendiri tidak ikut karena dia harus menjaga Deana di rumah.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK π
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
YUK MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR JUGA π₯°**
__ADS_1