JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 49 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Terlihat Ammar sedang menggendong baby D padahal jam masih menunjukkan pukul dua malam.


Dirinya menguap dengan mata yang masih mengantuk, tetapi Ammar mencoba untuk memberikan susu kepada baby D agar dia tertidur.


Perlahan mata Deana terpejam, sepertinya bayi cantik itu juga mengantuk berat.


Setelah susu yang di botol habis, Ammar masih setia menggendong putrinya hingga dia terlelap, Ammar meletakkan Deana dia box kecil yang berada tepat di samping ranjangnya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka dari luar dan terlihat Aresha masuk ke dalam kamar Ammar.


"Kok kamu belum tidur nak?" Aresha berjalan ke arah box bayi.


"Deana tadi bangun, Ma. Mungkin dia haus, setelah aku memberikannya susu dia langsung tertidur." Ammar berkata dengan senyum tipis sambil memandangi Deana yang sudah tidur.


"Jika kamu butuh bantuan Mama, kamu panggil saja Mama di kamar. Atau gak, gimana kalau Deana tidur di kamar Mama aja? Mama gak tega melihat kamu begadang setiap malam dan keesokan paginya harus bekerja." pinta Aresha dengan lembut.


"Ini sudah kewajibanku, Ma. Mama gak perlu khawatir, jika aku butuh bantuan pasti aku akan memanggil Mama."


"Ya sudah, hari juga masih larut. Sebaiknya kamu tidur, bukankah besok pagi ada meeting penting dengan klien dari luar negeri?"


Ammar mengangguk dan dia pergi ke ranjang.


Aresha pun meninggalkan kamar Ammar setelah dilihatnya Deana sudah tidur.


Ammar saat ini bekerja di perusahaan cabang milik Amir yang berada di kota, sementara Amman bekerja di perusahaan sang Opa yang ada di kota juga.


🌺🌺


Gadis cantik dengan rambut bergelombang dan tubuh mungil sedang berjalan ke arah meja makan.


"Pagi sayang?" sapa sang Mama ketika gadisnya sudah duduk di meja makan.


"Pagi, Mam." gadis tersebut mengedarkan pandangan. "Apa Papa sudah pergi ke kantor?"


Sang Mama— Lidia mengangguk. "Papa kamu sedang ada urusan di kantor jadi dia pergi cepat ke kantor."


Gadis itu hanya mengangguk.


"Sayang, boleh Mama bertanya sesuatu?"


Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap sang Mama dengan lekat. "Ada apa, Ma? Kelihatannya serius."


"Apa kamu sudah mempunyai kekasih?"


Gadis itu mengerutkan dahinya. "Mama tau 'kan jika aku belum siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun."


"Tapi usia kamu sudah bisa untuk menikah, Adisti. Mama juga udah tua dan pengen menimang cucu."


"Mama menimang anak tetangga aja, 'kan anak nya masih bayi."

__ADS_1


Lidia hanya menggeleng mendengarkan jawaban dari Adisti.


"Papa kamu berniat mencarikan jodoh untukmu."


"Uhuk, uhuk." Adisti tersedak karena mendengar ucapan Lidia.


Dia meneguk air putih yang ada di gelas lalu menarik nafas dengan dalam dan menghembuskan pelan.


"Perjodohan? Oh My God, Mam. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya dimana ada suatu perjodohan. Adis gak mau!" tolak Adisti dengan kesal.


"Tapi ini demi kebaikanmu, nak."


"Apa Mama dan Papa tau jika perjodohan itu akan membuat hidup Adis bahagia? Pokoknya Adisti gak mau, titik." Adisti meletakkan sendok di piring dan dia segera pergi dari meja makan.


"Adis! Adisti! Mama belum selesai bicara!" Lidia berteriak tetapi Adisti tidak mempedulikannya.


"Sudah ku duga pasti Adisti akan menolak, semoga Bang Leon bisa memahami."


Lidia menghembuskan nafas kasar karena dia sudah mengatakan pada Leon jika putrinya pasti tidak akan mau di jodohkan, tetapi Leon tetap bersikeras ingin menjodohkan Adisti dengan anak rekan bisnisnya.


🌺🌺🌺


Maura hari ini akan terbang ke Indonesia, ada seseorang yang meminta bantuannya untuk mengintai perampok yang sangat pintar dan dia bisa pergi tanpa meninggalkan jejak.


Beberapa jam.


Maura telah sampai di bandara, dia segera turun dan berjalan keluar dari bandara untuk mencari taksi.


Taksi pun mengantarkan Maura ke alamat yang tertera di ponsel.


Di tengah perjalanan.


Mobil di rem dengan sangat dalam.


Maura memerintahkan kepada sopir agar menghentikan mobilnya setelah dia melihat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan.


"Pak, tunggu disini sebentar. Saya akan turun dan melihat apa yang terjadi di depan sana." ucap Maura kepada sang sopir.


Sopir hanya mengangguk patuh.


Maura pun turun dari mobil, dia melihat ke sekeliling dan ternyata tempat itu sangat sepi. "Apa tidak ada satu orangpun yang lewat dari jalan ini? Cukup sepi padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan malam."


Maura berjalan ke arah mobil itu, terlihat tiga orang pria berbadan besar sedang mengetuk jendela mobil tersebut.


"Sepertinya mereka orang jahat, ini tidak bisa dibiarkan." Maura berjalan cepat ke arah mobil itu.


"Hei, mau apa kalian!" teriak Maura dengan berani.


Ketiga pria itu menoleh dan menatap Maura dengan sinis, mereka berjalan menantang Maura yang terlihat tidak takut sama sekali.


"Apa yang kalian lakukan?" ucap Maura tanpa rasa gentar sedikitpun saat melihat ketiga pria itu memiliki tubuh yang sangat besar dan kekar.


"Jangan ikut campur dengan urusan kami jika kau masih ingin hidup! Pergilah gadis cantik, kau jangan sok menjadi pahlawan kesiangan disini." ejek salah satu pria itu sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Menolong adalah tugas manusia, jadi apa salahnya jika aku menolong seseorang yang ada di dalam mobil itu? Aku adalah manusia, berbeda dengan kalian yang seperti bi*natang." Maura melotot ke arah tiga orang pria itu.


"Sepertinya dia punya nyali."


Mereka bertiga saling lempar pandangan dan senyuman.


Haiya...


Mulailah perkelahian antara mereka bertiga, satu wanita melawan tiga orang pria.


Brugh.


Tubuh Maura tersungkur ke tanah, dia sebenarnya masih lelah karena baru sampai di Indonesia dan ditambah tiga pria itu badannya sangat kekar dan seperti tidak terkalahkan.


'Sial! Aku adalah Maura, wanita kuat yang tidak akan terkalahkan.' batin Maura menyemangati dirinya sendiri.


Maura bangkit dan dia menatap ketiga pria tersebut dengan tajam.


"Jika kalian memang laki-laki sejati harusnya satu lawan satu bukan main keroyok seperti banci! Cih." Maura meludah.


Ketiga pria itu syok melihat keangkuhan Maura.


"Ternyata perempuan itu bukan perempuan biasa, lawan dia satu persatu dan kita lihat sampai mana kesombongannya itu."


Akhirnya mereka berkelahi satu lawan satu.


Di dalam mobil, Zaky yang tidak tega melihat seorang wanita sedang berkelahi langsung turun dari mobil.


"Wanita itu ingin menolongku, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak terlalu hebat dalam ilmu beladiri." gumam Zaky bingung sambil melihat ke arah wanita yang berniat menolongnya.


Zaky belum mengenali jika itu adalah Maura karena Maura membelakangi mobil Zaky.


Zaky mengumpulkan segala kekuatannya, dia harus berani dan jangan menjadi pria yang cemen.


"Hei! lawan aku!" teriak Zaky sambil berjalan ke arah Maura dan ketiga pria itu


Mereka semua menoleh dan Maura terkejut ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal, begitupun sebaliknya dengan Zaky yang terkejut karena melihat Maura berada di tempat ini.


'Apa aku berhalusinasi? Kenapa aku malah melihat bodyguard itu ada disini?' batin Zaky.


Dia masih merasa berhalusinasi karena bisa bertemu dengan Maura saat ini.




**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN 🥰


TERIMA KASIH 🙏**

__ADS_1


__ADS_2