
Dokter mencoba untuk menjelaskan kepada keluarga Anisa.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu, Tuan. Dan dengan berat hati, saya ingin mengatakan jika nyawa pasien tidak dapat tertolong. Pasien lebih memilik bayinya daripada nyawanya sendiri, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi sang bayi."
Amman menggeleng. "Tidak mungkin, tidak mungkin! Apa yang sudah kalian lakukan pada istriku, hah!" Amman pun mencengkeram kerah baju milik sang Dokter, dia tidak peduli jika Dokter itu adalah seorang perempuan.
"Amman, sabar nak sabar." Aresha menangis sambil memegangi pindah Amman.
Sementara Ammar, dua langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Saat sudah berada di dalam, dirinya berjalan gontai ke arah ranjang dimana Anisa terbujur kaku disana dengan kedua tangan di lipat di atas perut.
"Anisa?" lirihnya sambil terus berjalan.
Sesampainya di dekat Anisa.
Ammar langsung memeluk tubuh Anisa dengan berderai air mata. "Anisa, Anisa aku mohon bangun! Berikan aku kesempatan untuk bertanggungjawab, aku mohon buka matamu..." teriaknya histeris dengan air mata yang mengalir deras.
Ammar sangat amat menyesal, dia rasanya ingin sekali mati bersama dengan Anisa.
"Aku bodoh, aku adalah pria yang paling bodoh di dunia ini." Ammar terus merutuki kebodohannya.
Penyesalan terdalam telah dia rasakan, Ammar tidak tahu bagaimana lagi untuk menembus kesalahannya kepada Anisa.
"Kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan, apa sebegitu bencinya kamu denganku? Aku sudah menyadari kesalahanku, aku ingin bertanggungjawab dan memulai semuanya dari awal. Kita akan menikah dan membesarkan anak kita bersama-sama, Anisa. Tapi sepertinya kamu malah senang melihat aku menderita, aku memang pantas mendapatkan ini.'
Ammar mengasihani nasib malangnya.
Pintu ruangan terbuka dan seluruh keluarga masuk.
Amman dengan cepat berjalan ke brangkar pasien dan dia langsung menarik Ammar agar menjauh dari jenazah Anisa.
"Pergi! Jangan pernah menyentuh apalagi mendekatinya! Ini semua terjadi karena kau!" Amman yang tadinya bersimpati dengan sang adik saat ini dia jadi marah besar karena mengetahui keadaaan Anisa.
Semuanya menangis dengan memanggil nama Anisa, begitupun Audrey yang menangis sangat histeris. Dirinya tidak menyangka jika Anisa akan pergi secepat ini.
Ammar hanya bisa pasrah ketika Amman memaki dirinya, dia bergegas pergi dari ruangan Anisa .
Saat berada di luar ruangan.
__ADS_1
Ammar berinisiatif untuk melihat bayinya, dia berjalan untuk menemui Dokter yang tadi menangani operasi kelahiran putrinya.
"Dok, apa saya boleh melihat putri saya?" Ammar langsung bertanya ketika dia sudah berada di dekat Dokter.
"Tentu, Tuan. Mari saya antar!" Dokter dan Ammar berjalan ke arah ruang inkubator.
Sesampainya di ruangan itu.
Dokter menunjuk bayi yang terletak paling ujung.
"Itu bayi Anda, Tuan. Kami meletakkannya di ruang inkubator karena dia lahir prematur."
"Apa saya boleh masuk ke dalam?"
Dokter mengangguk. "Silahkan, Tuan. Tapi jangan terlalu lama."
"Terima kasih, Dokter." Ammar masuk ke dalam ruangan bayi dan dia segera menghampiri putri kecilnya.
Ammar tersenyum saat dia melihat bayi mungil dengan wajah yang sangat mirip dengan Anisa.
Perlahan Ammar menyentuh pipi bayi itu, dia ingin sekali menggendong bayi tersebut tetapi diurungkan.
"Ayah berjanji akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga Ayah, Ayah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Ayah pastikan kamu akan nyaman bersama dengan Ayah. Mama kita sudah tiada, dia sudah pergi meninggalkan kita berdua." tangis Ammar semakin menjadi.
"Ayah harap kamu bisa memaafkan Ayah jika kamu sudah besar nanti dan ada yang mengatakan jika Ayah-lah yang sudah menyebabkan Mamamu meninggal. Jadilah anak yang Sholehah seperti Mamamu." Ammar menggenggam jemari mungil milik putrinya.
'Anisa, aku akan menembus segala kesalahanku lewat putri kita, aku akan menjaganya, aku akan belajar menjadi Ayah sekaligus ibu yang baik untuknya. Aku akan berusaha menjadi seperti yang kamu inginkan, aku yakin kamu menginginkan seorang Ayah yang tentunya bisa menuntun putri kita agar menjadi gadis yang baik. Aku sadar aku bukanlah pria yang baik tetapi aku pasti akan berusaha sekuat yang aku bisa untuk menjadi malaikat bagi putri kita.' batin Ammar sambil menghapus air matanya, dia harus kuat menghadapi semua ini karena masih ada sang putri yang menginginkan perhatiannya.
Ammar tak sadar saat Amman masuk ke dalam ruangan inkubator, dia masih setia menatap wajah imut milik Putrinya.
Amman menepuk pundak Ammar dan hal itu membuat Ammar terlonjak kaget.
Amman menyodorkan surat yang Anisa tulis sebelum dia pergi. "Bi Minah tadi datang dan dia memberikan surat ini, dia mengatakan menemukan surat ini di depan pintu kamar Anisa. Aku sudah membacanya, dan sekarang giliran kau."
Ammar mulai membuka surat itu dan membacanya, dadanya sangat sesak melihat setiap ucapan yang Anisa lontarkan dalam surat tersebut. Ammar benar-benar sangat membenci dirinya sendiri, dia sangat bejat dan jahat.
Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipi Ammar.
"Aku akan menjaga putri kita Anisa, aku akan memberikan dia nama sesuai keinginanmu. DEANA MAHARANI ARSALAAN, Deana adalah nama pilihanmu, Maharani adalah nama kepanjanganmu dan Arsalaan adalah nama keluargaku."
__ADS_1
Amman hanya diam saja ketika Ammar memberikan nama kepada Putrinya.
"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan membawa Deana pulang ke rumahku." ucap Amman dengan dingin.
Ammar menatap sang kakak kembar dengan rasa tidak percaya. "Tidak-tidak, aku akan mengurusnya dengan tanganku sendiri. Aku ingin menembus kesalahanku kepada Anisa kak, mungkin aku memang tidak punya kesempatan untuk membahagiakan Anisa tetapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk membahagiakan putriku."
Amman memalingkan wajah sejenak karena dia tidak sanggup melihat wajah Ammar yang begitu terpuruk.
"Kau adalah pria yang brengsek Ammar, mau jadi apa Deana jika dia harus hidup bersamamu? Kau sama sekali tidak punya rasa tanggungjawab dan aku tidak ingin Deana menjadi anak yang nakal."
"Kak, aku mohon berikan aku kesempatan. Deana itu Putriku, dia darah dagingku. Aku akan berubah menjadi pria yang lebih baik dan sosok Ayah sekaligus ibu yang bisa memberikan contoh terbaik untuk Deana." Ammar memohon kepada Amman agar mengizinkan Deana tinggal bersama dengannya.
"Baik jika itu maumu, aku akan memberikan kesempatan untukmu. Tetapi ingat satu hal, Ammar! Jika kau tidak becus menjaga Deana maka aku akan merebutnya darimu dan aku pastikan kau tidak akan lagi bisa bertemu dengannya karena aku akan membawa Deana pergi jauh darimu." peringatan dari Amman yang harus Ammar ingat.
"Aku akan mengingatnya kak, aku pasti akan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Deana. Aku akan membawa Deana tinggal dirumah Mama." Ammar tersenyum senang akhirnya dia bisa mengurus putrinya dengan kedua tangannya sendiri.
Amman dan Ammar berpelukan, Amman akan mencoba memaafkan kesalahan Ammar. Dia tidak ingin Anisa bersedih karena dirinya menjadi seorang pria yang pendendam, air mata pun mengalir deras di pipi kedua anak kembar itu.
•
**DEANA MAHARANI ARSALAAN ❣️
•
TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN DI PAGI HARI INI AGAR OTHOR MAKIN SEMANGAT UP 🤗
TERIMA KASIH BANYAK 🙏
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK 🥰 JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN 💪**
__ADS_1