JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 68 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

"Kita akan memperjuangkan cinta ini bersama-sama, Celline."


Celline membuka mulutnya sejenak. "Lupakan saja kak." pintanya dengan rasa sedih.


Ammar menarik tangan Celline dan mereka pun saling berhadapan. "Aku tidak akan mengorbankan cintaku lagi, sudah cukup aku gagal dua kali dalam menjalin cinta dengan seseorang."


Celline terisak, mereka saling pandang hingga akhirnya Ammar memeluk tubuh Celline.


"Katakan pada kedua orang tuamu jika kita akan segera menikah dan kamu mencintai aku."


Celline mengurai pelukan. "Aku takut Daddy marah."


Ammar menghapus jejak air mata Celine dengan lembut. "Demi cinta kita, jangan pernah takut jika menurut kamu itu benar. Beritahu kepada mereka pelan-pelan dan aku juga akan berbicara dengan Mama."


Celline bingung harus bagaimana, dia saat ini sangat senang karena ternyata Ammar juga mencintainya tetapi di sisi lain dia sedih sebab dirinya pasti akan sulit bersatu dengan Ammar akibat tali persaudaraan.


"Aku akan mencobanya." ucap Celline dengan yakin.


Ammar menggenggam jemari Celline, gadis kecil yang dulu sangat dia sayang dan sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri dan tanpa disangka dia mempunyai perasaan cinta terhadap sang adik.


"Apa kamu masih tetap ingin ke kantor dengan kondisimu yang seperti ini? Aku tidak jamin jika nanti kamu bisa fokus bekerja."


"Aku ingin pulang saja. Aku akan segera mengatakan pada Mommy dan Daddy."


"Ide yang bagus, ayo kita pulang."


Ammar menyempatkan diri menyelipkan anak rambut Celline dan mereka berjalan ke arah mobil masing-masing.


Setelah itu keduanya langsung menancap gas untuk kembali ke rumah.


🌺🌺🌺


Semua keluarga sedang sarapan bersama, di rumah hanya ada Nindi, Excel, Zaky dan Maura.


Mereka sarapan sambil sesekali mengobrol.


"Apa kalian berdua tidak berniat untuk berbulan madu?" Excel membuka topik pembicaraan.


Zaky dan Maura saling melempar pandangan.


"Tergantung Maura, Dad."


"Uhuk uhuk." Maura tersedak ketika mendengar jawaban dari Zaky.


Zaky pun dengan sigap memberikan segelas air putih kepada Maura.


Maura meneguk air tersebut lalu dia menghela nafas pelan. "Kenapa harus bertanya padaku?" tanyanya heran.


"Jika kamu ingin berbulan madu maka ayo kita pergi, tetapi jika kamu ingin disini saja itu juga tidak masalah." Zaky pun menjelaskan.


Mereka kemarin mengadakan resepsi pernikahan di Indonesia karena Maura ingin kedua orangtuanya melihat jika dia saat ini sudah berumah tangga dan mempunyai suami.


Sebelum ijab kabul, Zaky dan Maura menyempatkan diri untuk ziarah ke pemakaman sang Ibu dan Ayah.

__ADS_1


Bisma tidak mempermasalahkan permintaan sang Putri yang menginginkan pesta di gelar di Indonesia, dia hanya ingin melihat Maura bahagia.


"Aku, terserah kamu saja." sambung Maura karena bingung.


Saat Zaky ingin menjawab, terlihat Celline memasuki rumah dan mendekat ke meja makan.


Dahi Nindi mengerut dan dia langsung bertanya kepada Celline. "Sayang, kamu kok pulang? Ada apa?" dirinya beranjak dari kursi dan menghampiri Celline.


Semua ikut berdiri dengan masih setia menatap Celline yang wajahnya sembab seperti habis menangis.


"Sayang, kamu habis nangis? Kenapa?" Nindi pun menjadi panik.


Ketika semua sudah berada di dekatnya, Celline segera membuka suara.


"Aku, aku libur bekerja." ucap Celline dengan ragu.


"Iya, tapi kenapa sayang? Apa ada masalah?" Nindi membelai rambut Celline dengan lembut.


"Mom, Dad, aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Celline serius, dia sudah memikirkan semua resikonya.


Semua bertanya-tanya dengan apa yang ingin Celline katakan.


"Aku ingin menikah dengan kak Ammar."


Hening sejenak.


Nindi tercengang mendengar perkataan sang Putri, begitu dengan Excel, Zaky dan Maura.


PLAK!


"Ex!"


"Daddy!"


Nindi dan Zaky memekik bersamaan ketika mendengar suara tamparan dari Excel.


"APA KAMU SADAR DENGAN YANG KAMU UCAPKAN BARUSAN?" Excel berkata dengan nada tinggi.


"Aku sadar, Dad! Bahkan aku sangat sadar, apa yang salah dari perkataanku? Kenapa Daddy sampai menamparku?" air mata pun luruh di pipi Celline, dia sudah menduga jika perkataannya pasti akan membuat sang Daddy marah besar.


"Kamu bertanya apa yang salah dari perkataanmu? Iya! Coba kamu pikirkan sekali lagi apa yang sudah kamu ucapkan barusan! Kamu mencintai kakak sepupumu sendiri? Itu salah Celline, itu salah!" Excel membentak Celline dengan amarah.


"Ex, sudahlah. Kenapa kamu harus memarahi Celline? Coba berbicara pelan dan selesaikan dengan kepala dingin." Nindi mencoba menenangkan Excel meskipun dia sendiri syok berat.


"Kamu masih membela dia? Daddy salah karena terlalu memanjakan kamu!"


Air mata tiada henti mengalir di pipi Celline. "Apa yang salah Mom? Aku hanya mencintaimu seseorang dan kenapa kalian semua menganggap aku salah? Aku dan Kak Ammar hanyalah saudara jauh, bukan saudara kandung!"


Pasalnya mereka memang bukalah saudara kandung karena Aresha dan Nindi terlahir dari rahim yang berbeda.


Excel tidak tahu harus berkata apa lagi. "Intinya Daddy tidak akan menyetujui hubungan kalian!" teriaknya.


"Tetapi aku akan tetap ingin menikah dengan kak Ammar!"

__ADS_1


"Jika kamu masih tetap keras kepala maka jangan salahkan Daddy jika kita akan pulang ke Jerman, lalu Daddy akan menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis Daddy!" gertakan yang Excel berikan untuk Celline.


"Aku tidak mau dijodohkan, lebih baik aku pergi dari sini dan Daddy tidak perlu menganggapku sebagai anak!"


Celline ingin melangkah tetapi Excel dengan cepat menarik lengannya.


"Dad! Daddy lepaskan aku!" berontak Celline saat Excel menariknya naik ke atas tangga.


"Ex! Excel lepaskan Celline! Apa yang ingin kamu lakukan, Ex?" Nindi mengikuti langkah Excel.


Zaky dan Maura hanya mampu terdiam menyaksikan kejadian rumit ini.


"Bagaimana menurutmu?" Zaky bertanya pada Maura tanpa mengalihkan pandangan dari lantai atas.


"Aku rasa tidak ada salahnya jika Celline dan Tuan Ammar menikah." sahut Maura dengan pasti.


"Mengapa begitu?"


Maura berjalan ke kursi dan Zaky pun mengikuti Maura.


"Bukankah Mommy dan Mama Tuan Ammar hanya sepupuan? Mereka juga bukan adik-kakak kandung, jadi menurutku tidak ada salahnya jika Celline dan Tuan Ammar itu menikah."


Zaky hanya diam sambil berpikir, dia sangat kasihan dengan Celline tetapi dia juga bingung harus memberikan pendapat apa.


'Aku sependapat dengan Maura, jika Ammar dah Celline sama-sama mencintai lalu mereka memutuskan untuk menikah apa salahnya? Mereka juga saudara jauh.' batin Zaky dalam hati.


Excel membuka pintu kamar dan dia mendorong tubuh Celline agar masuk ke dalam.


"Daddy akan mengurungmu di dalam kamar sampai nanti kita akan berangkat ke Jerman!"


Excel segera menutup pintu dan menguncinya dari luar.


"Dad! Daddy buka pintunya! Daddy sangat jahat karena tidak ingin melihat aku bahagia! Daddy buka! Mommy!'' Celline menggedor pintu dari dalam berusaha meminta agar Excel membuka pintunya.


Nafas Excel naik turun tidak beraturan dan itu menandakan dia sedang emosi.


"Ex, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tega mengurung putrimu sendiri? Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Ex." Nindi memohon dengan wajah melas.


"Sudahlah, Nindi. Kali ini biarkan aku memberikan hukuman kepada Celline, dia sudah sangat keterlaluan karena ingin menikah dengan sepupunya sendiri. Apa di dunia ini tidak ada pria lain selain Ammar sepupunya?" Excel menghela nafas.


"Tapi, Exβ€”" ucapan Nindi terputus karena Excel meletakkan jari telunjuk di depan bibir.


"Tidak ada tapi-tapi'an! Jangan berani membuka pintu ini tanpa izin dariku." perintah dari Excel.


Dirinya pergi meninggalkan Nindi yang hanya mampu menatap pintu kamar dengan nanar, Nindi pun pergi karena dia tidak sanggup mendengar permohonan Celline agar pintunya dibuka.


β€’


β€’


**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN


TERIMA KASIH BANYAK πŸ™**


__ADS_2