JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 37 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Ammar menatap dua pria yang ada dihadapannya dengan rahang mengeras.


"Apa mau kalian?" teriak Ammar dengan sedikit emosi.


"Serahkan semua barang-barang berharga kalian, jangan sampai kami berbuat kasar dan menghabisi kalian semua!" bentak salah satu pria berbadan tegap itu.


Ammar hanya tersenyum remeh. "Banyak omong!"


Bugh Bugh


Ammar memberikan bogeman kepada pria itu dan pria lainnya tidak terima sehingga dia membantu sang rekan untuk melawan Ammar.


Terjadilah perkelahian antara mereka bertiga.


Beralih ke Maura yang berdiri menegakkan tubuh.


"Apa kalian tidak mengenalku? Semua para penjahat ataupun kriminal pasti sudah mengenali aku." ujar Maura dengan sombong.


Kedua pria itu menatap Maura dengan seksama.


"Sepertinya aku pernah melihat dia." bisik salah satu pria itu.


"Sudahlah lupakan, kita tidak perlu memikirkan masalah wanita itu. Tujuan kita saat ini adalah merampas semua harta benda yang mereka punya." jawab teman satunya lagi.


Mereka mulai mendekat dan menyerang Maura hingga Maura pun mengambil ancang-ancang.


"One bye one." Maura berbicara dengan enteng tanpa rasa takut sedikitpun.


"Jadi Anda takut jika melawan kami berdua?"


Kedua pria itu tertawa secara bersamaan.


Maura yang merasa di remehkan langsung membunyikan tulang leher serta tangannya.


"Takut? Tidak ada kata takut dalam kamusku.'' Maura mulai melayangkan tendangan kepada dua orang itu.


Mereka akhirnya berkelahi dan Maura dengan mudahnya menangkis setiap gerakan kedua pria tersebut.


Beberapa saat kemudian.


Kedua pria itu tergeletak lemas di aspal.

__ADS_1


"Melawan berandalan seperti kalian sudah biasa bagiku, bahkan yang lebih dari kalian banyak yang sudah aku taklukkan." Maura melipat kedua tangan sambil menatap remeh kedua pria yang tergeletak itu.


Sementara Ammar, dia berhasil melumpuhkan satu pria berbadan besar itu sementara pria satunya sedang berusaha membuka pintu mobil.


"Buka! Jika Anda tidak mau membukanya maka aku akan menghancurkan kaca jendela mobil ini." gertak pria itu dengan sangat menyeramkan.


Celline yang berada di dalam mobil hanya meringkuk ketakutan, air mata sudah bercucuran membasahi pipinya apalagi ketika melihat Ammar dan Maura yang melawan ke-empat penjahat itu.


"BUKA!"


Bugh


Ammar menendang punggung belakang milik pria tersebut dan pria itu langsung tersungkur ke samping.


"Kak Ammar!" pekik Celline takut.


Tanpa di duga, pria bertato yang tadi melawan Ammar mengeluarkan sebilah pisau dan berniat untuk menusuk Ammar dari belakang.


Jleb.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Sementara Zaky.


"Apa yang sedang kamu sembunyikan Anisa?" gumamnya pelan.


Kelopak mata Anisa berkedut pelan, sedikit demi sedikit matanya terbuka sempurna dan Anisa terkejut ketika melihat Zaky yang menatapnya dengan sangat lekat.


"Tโ€”tuan!" pekik Anisa.


Zaky tersadar dari lamunannya dan dia berkedip hingga berkali-kali.


"Maaf, maafkan saya." Zaky mengucek matanya.


"Tuan, mengapa saya bisa ada dirumah sakit?'' Anisa bertanya dengan nada heran.


"Apa kamu lupa jika tadi kamu pingsan saat ingin berpamitan pulang?"


Anisa menepuk dahinya. "Astaga, suami saya pasti sedang menunggu dirumah." lanjutnya sambil ingin bangkit tetapi Zaky mencegah.


"Apa yang sedang terjadi padamu?"

__ADS_1


Anisa mengerutkan dahi. "Saya tidak mengerti dengan apa yang Tuan pertanyakan."


"Dokter mengatakan jika kamu mengalami kanker serviks stadium 2A dan kondisi kamu saat ini sedang mengandung. Dokter menyarankan agar kamu melakukan operasi untuk pengangkatan rahimmu." jelas Zaky dengan rasa iba.


Anisa menitikkan air mata. "Saya mohon jangan katakan pada siapapun jika saya mempunyai penyakit menyeramkan ini, Tuan." sambungnya dengan sangat memohon.


"Tapi suamimu wajib tahu dengan apa yang terjadi padamu saat ini." Zaky tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Anisa.


"Saya takut jika suami saya tau pasti dia akan meminta saya untuk operasi dan saya tidak ingin janin ini diangkat." Anisa menunduk dan air mata semakin deras mengalir di pipinya.


"Jika tidak melakukan operasi maka nyawa kamu akan dalam bahaya, Anisa."


"Tidak masalah jika nyawa saya yang jadi taruhannya, memang begini 'kan menjadi seorang wanita apalagi calon ibu? Saya rela nyawa saya yang jadi taruhannya daripada anak yang tidak bersalah ini harus tiada."


Zaky menunduk, dia sangat sedih ketika melihat Anisa yang terpuruk seperti ini.


"Baiklah, saya tidak akan mengatakan apapun pada keluarga kamu." keputusan yang Zaky yakini.


"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak." Anisa tersenyum lega.


"Kalau begitu saya akan mengantarkan kamu pulang."


Anisa mengangguk setuju. "Tapi jangan terlalu dekat dengan rumah saya, karena saya takut suami saya akan salah paham."


Zaky mengiyakan ucapan Anisa.


Mereka keluar dari ruang rawat dan pergi dari rumah sakit itu.


โ€ข


โ€ข


**TBC


HAPPY READING


YUK TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK ๐Ÿ™**


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK ๐Ÿค—

__ADS_1



__ADS_2