
Keesokan harinya.
Ammar telah bersiap untuk pergi ke tempat yang dia janjikan tadi malam dengan sang partner, dirinya sudah mengatakan akan datang terlambat ke kantor karena sebuah urusan.
"Dean sayang, kamu baik-baik di rumah ya? Dengerin kata-kata Oma, jangan nakal." Ammar mengecup dahi Deana.
"Iya Ayah, De ngelti." balas Deana sambil tersenyum.
Ammar berpamitan pada Aresha dan dia masuk ke dalam mobilnya.
Mobil pun melaju pergi.
"Dean sayang, kita main-main di dalam yuk? Oma bakalan buatin kami salad buah, kamu mau 'kan?" Aresha menggendong tubuh Deana.
"Mau, Oma. De cukak calad buah."
Aresha terkekeh pelan mendengar jawaban dari sang cucu.
"Baiklah, kita meluncur." Aresha pun berjalan cepat masuk ke dalam.
Dua puluh menit.
Ammar sudah sampai di danau yang dia katakan, dirinya mengedarkan pandangan tetapi tidak menemukan wanita yang dia cari.
"Apa Celline belum datang? Atau dia tidak akan datang karena sengaja ingin menjauhiku?" Ammar pun menjadi gelisah, dia merogoh kantong celana guna mengambil ponsel.
Tut Tut
Celline tidak mengangkat panggilan dari Ammar.
"Ck! Aku akan menunggunya 10 menit, jika dia tidak datang, baiklah aku akan pergi." Ammar memilih duduk di bangku untuk menunggu Celline.
Sepuluh menit kemudian.
Belum ada tanda-tanda dari Celline dan Ammar akhirnya putus asa.
Dia beranjak dari bangku dan berniat untuk pergi. Sebelum Ammar melangkah, ternyata dia melihat Celline yang berjalan ke arahnya.
Celline tersenyum tipis melihat Ammar dari kejauhan.
"Maaf, aku sedikit terlambat. Di jalan lumayan macet jadi aku lama sampai disini. Kak Ammar sudah dari tadi?" ucapnya dengan menatap Ammar.
"Sepuluh menit yang lalu." jawab Ammar tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang sepupu.
"Apa ada hal penting yang ingin kakak katakan? Maaf kak, aku tidak punya waktu banyak karena aku harus pergi bekerja." Celline melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ammar mengajak Celline duduk di bangku agar mereka lebih enak bicara.
__ADS_1
"Apa kamu mencintaiku?" Ammar pun langsung pada intinya.
Celline menatap Ammar dari samping. "Apa maksud kakak? Aku tidak mengerti."
"Tidak perlu berpura-pura, Celline. Aku mendengar ucapanmu saat kamu pergi dari pelemparan bunga kemarin."
Celline tercengang, dia sangat ceroboh karena berbicara di ruang terbuka.
"Kenapa kamu diam?" Ammar memandang Celline yang terlihat salah tingkah.
"Kak, mungkin kamu salah dengar. Aku tidak mencintaimu, lagipula mana mungkin aku mencintai seorang pria yang sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri." Celline berusaha untuk tersenyum.
"Kamu bohong Celline, kamu bohong! Jujurlah pada hatimu, aku mohon katakan yang sesungguhnya tentang perasaanmu."
Celline beranjak dari bangku. "Ada apa denganmu kak? Mengapa kamu sangat ingin aku mengatakan jika aku mencintaimu?"
Ammar pun ikut bangkit dari duduknya. "Karena aku juga mencintaimu." ucapnya dengan serius dan penuh penekanan.
Mata mereka saling bersitubruk, Ammar memegang pergelangan tangan Celline.
Entah mengapa tiba-tiba hati Celline merasakan sesak yang sangat mendalam, dia tidak menyangka jika cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Celline melepaskan tangan Ammar yang berada di pergelangan tangannya, dia menggeleng dan maju beberapa langkah.
"Tidak mungkin kak, tidak mungkin kita bisa bersama." ucapnya dengan tetesan air mata.
Ammar mendekati Celline. "Itu tandanya kamu memang mencintai aku 'kan Celline?''
Ammar hanya menatap Celline, dia tidak menyangka jika perjalanan cintanya akan serumit ini.
'Dulu aku pernah merasakan cinta dan aku kehilangan itu karena Audrey yang menikah dengan kak Amman, kedua aku merasakan cinta tetapi Anisa pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya, saat ini selama tiga tahun berlalu aku kembali merasakan cinta dan itu dengan sepupuku sendiri. Apakah aku juga harus rela kehilangannya dan mengorbankan rasa cintaku saat ini?' Ammar bertarung dengan hatinya.
🌺🌺🌺
Meninggalkan kegundahan Ammar, saat ini di ranjang pengantin baru itu telah terlelap dua insan yang sama-sama masih berada di dalam selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.
Perlahan kelopak mata milik Maura berkedut, dia terbangun dan pemandangan pertama yang dilihat adalah wajah terlelap sang suami. Maura tersenyum melihat wajah itu, dia tidak menyangka jika pria yang dulu pernah merendahkannya saat ini telah menjadi suaminya.
Zaky yang sudah bangun hanya berpura-pura memejamkan mata.
"Dia sangat tampan." gumam Maura dan hak itu membuat Zaky langsung membuka matanya.
Maura terkejut, dia gugup karena malu. "By, k—kamu udah bangun?"
"Ya, dari tadi."
'Dari tadi? Apa dia mendengarkan ucapan yang barusan aku katakan?' batinnya menggerutu.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang aku tampan, benarkah? Coba ulangi sekali lagi." Zaky memeluk erat tubuh Maura.
"By, lepasin. Aku mau mandi, udah siang tuh." Maura pun mencoba berkilah.
"SST! Jangan mengalihkan topik pembicaraan, katakan sekali lagi apa yang tadi kamu ucapkan."
"Apa? Udah dong, By. Aku gak enak sama Mama kamu karena bangunnya kesiangan."Maura mencoba lepas dari pelukan Zaky tetapi Zaky memeluknya dengan sangat erat.
"Katakan dulu sekali lagi." Zaky tetap bersikeras.
"Baiklah, kamu sangat tampan." Maura akhirnya mengalah daripada dia tidak bisa lepas dari pelukan Zaky.
Zaky pun hanya tersenyum lebar.
"Udah 'kan? Lepasin dong, aku gak bisa nafas ini karena kamu memelukku dengan erat."
Zaky pun mengendurkan pelukannya. "Kamu mau mandi?"
Maura pun mengangguk.
"Let's go, kita mandi bersama." Zaky pun percaya diri, dia turun dari ranjang tanpa memakai sehelai benangpun.
Maura memalingkan wajah karena malu melihat tombak Zaky yang sudah bereaksi.
"Ada apa?" Zaky bertanya dengan nada heran.
"Apa kamu tidak malu? Kenapa tidak memakai celana terlebih dahulu sebelum turun dari tempat tidur?"
"Hei sayang, untuk apa aku memakai celana jika nanti sampai kamar mandi aku melepaskannya. Sudah ayo, aku akan menggendongmu."
Maura menaikan sebelah tangan tanda stop. "Aku bisa berjalan sendiri dan aku akan memakai pakaianku terlebih dahulu."
"Untuk apa? Sudahlah ayo, tidak perlu mengulur waktu."
Tanpa berbasa-basi, Zaky segera menggendong Maura yang masih polos.
"By!" pekik Maura kaget.
Dirinya hanya mampu menyembunyikan wajah di dada bidang milik Zaky, entah mengapa rasanya lebih baik Maura berkelahi dengan banyak preman daripada harus di gendong tanpa busana seperti ini.
•
•
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN DUKUNGAN 🤗**
.