JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 42 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Zaky berjalan ke meja Amman dengan gagah dan cool.


"Maaf, apa kalian sudah menunggu lama?"


Anisa yang sangat mengenal suara itu hanya mampu diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Tidak terlalu, duduklah." Amman mempersilahkan Zaky duduk di kursi.


Zaky duduk, lalu saat dirinya sudah duduk dia baru menyadari jika salah satu wanita yang juga berada di meja itu sangatlah dia kenal.


'Anisa?' batinnya dan dia sangat terkejut.


Anisa hanya diam saja dan berekspresi seperti tidak mengenal Zaky.


Sementara Audrey, dia hanya menatap Zaky dengan rasa-rasa heran.


"Aku sepertinya pernah mengingat Anda." Audrey membuka suara.


Amman, Anisa dan Zaky menatap Audrey.


"Benarkah itu dia? Jangan-jangan kamu salah paham." ucap Amman menjawab.


"Tidak, kak. Aku pernah bertemu dengannya tetapi lupa dimana." ujar Audrey mencoba mengingat-ingat.


"Sudah lupakan, mungkin kamu hanya merasa pernah bertemu dengan Zaky. Sebaiknya sekarang kalian berkenalan terlebih dahulu." ujar Amman pada kedua istrinya.


"Zak, kau sudah dengar tentang permasalahanku dengan Ammar bukan? Ini Audrey istri pertamaku, dan ini Anisa istri keduaku."


Audrey menerima jabatan tangan Zaky, tetapi Anisa hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda perkenalan. Anisa tidak ingin berjabat tangan dengan pria yang bukan muhrimnya.

__ADS_1


Zaky hanya tersenyum tipis, dia tidak menyangka jika Anisa yang selama ini selalu dia temani kemanapun ingin pergi ternyata adalah istri dari sepupunya.


'Aku hampir saja mencintai istri dari sepupuku sendiri.' batin Zaky sambil mencuri pandang ke arah Anisa yang hanya menutup mulut.


"Aku rasa istri keduamu sangat irit berbicara, Amman." ucap Zaky dengan sedikit gurauan.


''Ya, dia memang seperti itu." Amman tersenyum ke arah Anisa.


Mereka mulai memesan makanan dan minuman.


Beberapa saat kemudian, mereka berempat makan bersama sambil mengobrol.


Sepuluh menit.


Anisa beranjak dari kursi dan dia berpamitan untuk pergi ke toilet.


Saat Anisa ingin kembali ke meja, Zaky dengan cepat menarik tangan Anisa dan mengunci Anisa di kuasanya. Tubuh Anisa terbentur tembok hingga dia tidak bisa pergi kemana-mana.


"Tuan, apa yang Anda lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat kita?'' Anisa sangat takut.


"Anisa, mengapa kamu tidak mengatakan jika kamu adalah istri dari Amman? Aku pikir kamu adalah istri satu-satunya dan bukan istri Amman."


Anisa menatap manik mata milik Zaky. "Aku juga tidak tahu jika Anda adalah sepupu dari Mas Amman. Tuan, aku mohon jangan mengatakan pada Mas Amman jika aku mempunyai penyakit kanker dan diharuskan untuk operasi."


"Anisa, demi kebaikanmu sebaiknya katakan pada Amman jika kamu mempunyai penyakit mematikan. Amman pasti akan berusaha keras untuk menyelamatkan kamu dan bayimu. Intinya kamu harus jujur daripada Amman kecewa karena kamu sudah berani menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya." Zaky mencoba menjelaskan.


Anisa menggeleng. "Aku mohon untuk masalah ini jangan lagi Anda ikut campur, Tuan. Aku sangat berterima kasih kepada Anda karena Anda sudah mau membantu serta menemaniku kemanapun aku pergi, bahkan Anda juga memberikan semangat untukku. Tetapi jika Anda tetap bersikeras meminta aku untuk mengatakan tentang penyakitku pada Mas Amman, sebaiknya Anda menjauhiku saja."


"Aku tidak akan menjauhi, Anisa." ucap Zaky serius.

__ADS_1


"Kenapa? Apa Anda menaruh iba denganku? Anda merasa kasihan?" Anisa menitikkan air mata, dia sadar jika dirinya memang pantas dikasihani karena perjalanan hidup yang harus dia jalani.


"Karena aku mencintaimu."


Deg!


Jantung Anisa seperti berhenti memompa, dia menatap manik mata Zaky dengan lekat dan terlihat tidak ada kebohongan disana.


Anisa kecewa dengan ucapan Zaky karena dia merasa jika Zaky bukan hanya menganggapnya sebagai teman.


Anisa menggeleng dan mendorong tubuh Zaky dengan kuat sehingga Zaky terhuyung ke belakang dan Anisa berhasil keluar dari kuasa Zaky.


Anisa berlari kecil meninggalkan Zaky yang hanya diam mematung sambil menatap punggung belakangnya.


"Argh!" Zaky memukul dinding dan dia merutuki kebodohannya.


"Kenapa harus terburu-buru?" lanjutnya sambil menyugar rambut dengan kasar. "Harusnya aku jangan dulu mengatakan tentang perasaan yang ingin aku pendam ini, aku yakin setelah ini pasti Anisa tidak mau lagi berteman denganku." Zaky menyandarkan tubuh di dinding sambil memejamkan mata.




**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA DUKUNGAN UNTUK SIKEMBAR 🤗


YANG UDAH PUNYA VOTE, YUK BERIKAN UNTUK MAS ZAKY ❣️**

__ADS_1


__ADS_2