JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 50 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Maura terkejut ketika melihat pria yang ingin dia tolong ternyata adalah Zaky.


"Tuan Zaky? Benarkah itu dia?" gumam Maura seraya memicingkan mata.


Ketiga pria itu hanya tersenyum saat melihat Maura yang terlihat melamun.


Mereka bermain licik dan salah satu dari mereka mengangkat sebelah kaki untuk menendang Maura.


Maura yang tersadar langsung menangkis tendangan tersebut dan dia bergantian menendang area vital milik sang pria.


"Kalian ingin bermain curang ya? Dasar! Tidak tahu malu." ejek Maura sambil meludah.


Zaky berlari ke arah Maura.


"Maura, kau ada disini?"


Maura menoleh dan dia menatap Zaky dengan sangat lekat. 'Sepertinya aku sedang berhalusinasi.' batinnya dengan sangat bingung.


"Apa aku bermimpi? Coba cubit aku." gumam Maura tanpa rasa sadar.


Zaky mencubit lengan Maura dan terlihat Maura kesakitan.


"Aw, kenapa Anda mencubitku?" Maura terlihat marah.


"Bukankah kau sendiri yang minta untuk dicubit? Lalu kenapa kau menyalahkan saya?''


Salah satu pria itu menyerang Maura dengan diam-diam, dia melayangkan bogeman ke pipi Maura tetapi Maura terlebih dahulu mengepalkan tangan dan pria itu terkena bogem mentah dari Maura.


"Kalian tidak menyerah juga ya?" ucap Maura dengan heran.


"Kami tidak akan menyerah sebelum kalian menyerahkan barang-barang berharga yang kalian miliki!" teriak salah satu pria itu.


Mereka tinggal dua orang sementara yang satu sudah lari entah kemana.


"Aku akan mengurus dua tikus itu terlebih dahulu, jika Anda tidak bisa membantu maka sebaiknya diam saja di pojokan." Maura berkata dengan sombong.


Zaky tidak terima dengan ucapan Maura.


"Dia bilang di pojokan? Apa dia pikir aku ini anak perawan? Dasar bodyguard menyebalkan!"


Zaky yang merasa diremehkan langsung membantu Maura untuk meringkus dua penjahat itu.


Bugh Bugh Bugh


Maura memberikan bogeman kepada salah satu penjahat hingga berulangkali.


Bugh


"Argh!" Zaky terkena pukulan dan dia terjatuh di aspal.


Maura yang sudah berhasil melumpuhkan salah satu penjahat langsung beralih membantu Zaky.


"Bangunlah! Sudah aku katakan Anda diam saja di pojokan, kenapa harus membantah?" Maura membantu Zaky berdiri.


Maura mengangkat sebelah kaki karena pria itu ingin memukulnya dari belakang.

__ADS_1


Zaky berdiri dan dia menatap Maura dengan rasa kesal yang mendera. 'Dia selalu saja meremeh'kanku.'


Maura berhasil melumpuhkan semua penjahat dan terdengar sirine berdengung mendekat ke arah mereka.


Mobil polisi tiba dan polisi pun langsung turun untuk menghampiri penjahat-penjahat tersebut.


"Terima kasih karena Anda sudah membantu kami dalam melaksanakan tugas." ucap salah satu polisi tersebut.


"Sama-sama, Pak. Kejahatan memang harus dimusnahkan. Salah satu dari mereka ada yang kabur, mungkin belum jauh dari tempat ini." sahut Maura dengan senyum tipis.


Mereka berjabat tangan sejenak lalu polisi pun bergegas pergi dari tempat kejadian setelah meringkus dua penjahat itu.


Maura ingin kembali ke taksi tetapi diurungkan karena dia lupa akan Zaky.


Terlihat Zaky terdiam sambil menatap Maura.


"Hei, Tuan! Apa Anda tidak takut jika nanti ada perampokan lagi? Pergilah dari tempat ini dan jangan pernah kembali." Maura hanya menyampaikan itu lalu dia bergegas kembali ke taksi.


Zaky menatap kepergian taksi yang Maura naiki, setelah itu dia pergi menuju mobilnya.


Di dalam mobil, Zaky merasakan sudut bibirnya seperti kram.


"Argh, pasti wajahku lebam gara-gara perampok sialan itu."


Zaky segera melajukan mobil untuk pergi dari tempat itu.


🌺🌺🌺


Adisti telah sampai di restauran tempatnya bekerja, meskipun sang Papa menyuruhnya untuk meneruskan perusahaan tetapi Adisti tidak mau.


"Aku tidak ingin meneruskan perusahaan karena bakatku bukan di bisnis tetapi di dapur." ucap Adisti ketika sang Papa memaksanya untuk ke kantor.


"Adis?" seorang pria yang terlihat lebih tua dua tahun dari Adisti sedang berdiri.


Adisti menoleh dan dia tersadar dari lamunannya.


"Ini masih pagi, mengapa kau melamun seperti ini?" pria itu berdiri di samping Adisti.


"Aku sedang memikirkan permintaan konyol kedua orang tuaku." jawab Adisti sambil memakai topi koki nya.


"Apa mereka ingin menjodohkanmu lagi?"


Adisti mengangguk. "Max, apa kau lihat wajahku sangat tua? Aku tidak mengerti dengan pemikiran kedua orangtuaku yang selalu mencarikan jodoh untukku. Aku ini masih muda dan belum ingin berumahtangga." lanjutnya sembari duduk di kursi.


"Wajahmu memang belum tua, tetapi usiamu sudah sangat tua." ucap Max diselingi kekeh'an kecil.


Adisti berdecak kesal. "Aku baru berusia dua puluh tujuh tahun, apa-apaan kau ini?"


"Baru? Dua puluh tujuh tahun kau bilang baru? Astaga Adisti Richard! Sepupuku menikah diusia dua puluh lima tahun saja sudah dianggap sebagai perawan tua, apa kau tau itu?"


"Hei, itu berbeda dengan pola pikiranku." Adisti bangkit dari kursi daripada pagi-pagi dia harus berdebat dengan Maxime.


"Dis, kau mau kemana?" teriak Max yang sudah melihat Adisti menjauh.


Adisti tidak mempedulikan seruan Max dan dia terus berjalan menuju tempat bahan-bahan makanan.

__ADS_1


Max hanya tersenyum sambil menggeleng. "Andai kau tau isi hatiku, aku yakin kau pasti tidak akan mau lagi dekat denganku. Aku sangat mencintaimu Adis, sangat!" gumam Max tersenyum hambar.


🌺🌺🌺


Di sudut lain.


Terlihat wanita dengan rambut panjang sedang duduk manis disebuah bar, dia seperti menikmati musik DJ yang sedang dimainkan di bar malam tersebut.


"Hai Mona?" pemuda tampan nan gagah menghampiri Mona yang sedang meneguk wine.


Mona meletakkan kembali gelas di meja dan dia tersenyum tipis.


"Hai, Jo."


"Apa kau sudah lama menunggu?" Johan menatap Mona dengan penuh nafsu.


Bagaimana tidak, pakaian Mona yang sangat minim mampu membuat Jo terpesona dengannya, ditambah wajah Mona yang sangat cantik dengan bibir mungilnya.


"Tidak, aku baru saja datang." sahut Mona dengan yakin.


"Bagus sekali, apa kau punya teman untuk menemaniku malam ini?"


Mona terdiam sejenak. "Aku rasa semua temanku sedang sibuk dengan Tuan mereka masing-masing."


"Bagaimana jika malam ini aku membayar dirimu saja?" Jo tersenyum.


"Ck, jangan kurang ajar Jo! Aku bukan wanita murahan dan tentu saja aku tidak akan mau bercinta dengan pria manapun."


"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku memaksa?"


"Maka aku pasti akan membuat hidupmu menderita bagaikan di neraka. Kau tau bagaimana diriku 'kan, Jo? Aku bisa menghabisi seseorang tanpa mengotori tanganku sendiri."


Jo hanya meneguk Saliva dengan kasar.


"B—baik, kalau begitu maafkan aku. Aku akan pergi dari meja ini."


Mona hanya mengangguk sekilas dengan melihat Jo yang pergi dengan raut wajah ketakutan.


Mona pun beranjak dari kursi dan dia keluar dari bar tersebut.


"Jangan panggil aku Mona jika aku tidak bisa membuat siapapun menakutiku dan tunduk kepadaku." gumam Mona sambil masuk ke dalam mobilnya.


Dia mengambil sebuah bingkai dan terlihat seorang gadis cantik dengan wajah polosnya sedang tersenyum di dalam foto itu.


"Aku sangat benci dengan senyuman ini." ucap Mona dengan penuh penekanan.


Dia meletakkan bingkai itu ke dashboard, lalu mulai melajukan mobil untuk pergi dari area bar.




**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN


TERIMA KASIH BANYAK 🙏**


__ADS_2