
Saat pisau ingin di layangkan ke Ammar, ternyata Maura melihat itu dan dengan cepat dia menendang penjahat pembawa pisau tersebut.
Dugh.
Terjadilah perkelahian antara mereka dan pada akhirnya, Maura tidak sadar jika seseorang di belakangnya ingin menyerang juga.
"Maura awas!" teriak Ammar seraya melangkah maju.
Jleb.
Penjahat itu berhasil menusuk Maura.
Maura memegangi lengan sebelah kanannya.
Setelah dia menghajar pria di belakangnya tadi, Maura kembali menatap sang pria pembawa senjata.
"Kau pikir aku akan kesakitan? Ini tidak ada apa-apanya, yang lebih dari ini bahkan sudah pernah aku rasakan." tekan Maura dengan seram.
Emosi yang memuncak membuat Maura menghajar habis-habisan pria itu hingga sang pria terkapar dengan darah yang keluar dari hidung dan mulut.
Maura ingin memijak perut penjahat tetapi Ammar dengan cepat menahannya.
"Cukup Maura!" Ammar berjalan menghampiri Maura, dia melirik luka di tangan Maura dan wajah Maura terlihat biasa saja.
"Mereka sudah kalah, sebaiknya biarkan saja dan kita harus mengobati lukamu." ucap Ammar menarik tangan Maura.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, lalu mobil melaju dengan Ammar yang menjadi sopir.
Maura hanya diam saja sambil memegangi lengannya dan menutup dengan jaket miliknya.
Di dalam mobil sepi, entah mengapa suasana menjadi canggung.
Sesampainya di rumah.
Celline segera turun dan dia bergegas masuk ke rumah tanpa menunggu Ammar.
"Duduklah dulu, aku akan mengambil kotak obat." gumam Ammar dengan cuek lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Maura menduduki kursi yang berada di teras rumah.
Tak lama kemudian, Ammar datang dengan membawa kotak obat.
Dia mulai membuka kotak obat itu, lalu mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan darah yang mengalir di lengan Maura.
"Tuan, biar aku saja." Maura merasa risi jika Ammar yang mengobatinya.
__ADS_1
"Sudah diam-lah! Kenapa kau kerasa kepala sekali?" Ammar berbicara tanpa menatap Maura.
Saat ini wajah mereka sangat dekat, Maura melirik Ammar dengan senyum yang tidak disadari oleh Ammar.
'Meskipun dia menyebalkan tapi dia sangat tampan.' batin Maura.
Sejenak kemudian, Maura mengusap wajahnya. 'Apa yang kau pikirkan Maura? Dia itu adalah majikanmu, jangan berani menyimpan rasa untuknya. Ingat kata Bisma, jika menjalankan tugas jangan sampai melibatkan perasaan karena itu akan menghambat pekerjaan.' batinnya lagi.
Ammar sudah selesai mengobati luka Maura. "Sudah selesai." ucapnya sambil menutup kotak obat.
Maura hanya diam saja tanpa berniat mengucapkan kata terima kasih.
'Dia hanya diam saja? Tidak ada kata terima kasih untukku? Ckck, dasar perempuan jadi-jadian.' batin Ammar tanpa mengalihkan pandangan dari Maura.
"Ada apa Tuan? Anda jangan melihatku seperti itu karena aku takut jika Anda akan jatuh cinta padaku." ucap Maura dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Ammar menahan tawanya. "Hei, coba kau lihat dirimu di cermin, siapa pria yang akan jatuh cinta pada wanita jadi-jadian sepertimu ini? Bodymu saja lurus bagaikan jalan tol.'' Ammar menggeleng.
Maura berdiri dari duduknya. "Apa Anda sudah selesai bicara? Saya ingin pulang ke rumah."
"Pergilah."
Maura langsung pergi tanpa berpamitan sekali lagi.
"Dasar, perempuan tomboi." Ammar beranjak dari kursi dan masuk ke dalam rumah dengan menenteng kotak obat.
Tok tok.
"Cel, Celline!"
Celline yang masih ketakutan segera beranjak dari ranjang karena mendengar suara Ammar
Setelah pintu dibuka, Ammar masuk ke dalam kamar Celline.
"Kamu gak pa-pa 'kan?" Ammar menatap wajah cantik milik adik sepupunya.
Celline hanya menggeleng. "Aku hanya merasa trauma, kak." ucapnya karena memang pasalnya selama ini jika keluar rumah dia tidak pernah merasakan kejadian seperti ini.
Ammar memeluk tubuh Celline. "Yang penting kita sudah selamat, kamu sekarang harus tenang, ya?"
Celline mengangguk dan memeluk tubuh Ammar dengan erat, rasanya sangat nyaman jika berada di dalam pelukan Ammar seperti ini.
πΊπΊπΊ
Di sudut lain.
__ADS_1
Seorang gadis cantik sedang berbaring di ranjang sambil bermain ponsel, dia menghela nafas karena sang teman tidak bisa diajak liburan.
"Bagaimana ini, aku ingin pergi berlibur tetapi tidak ada teman. Apa aku harus mengajak Papa dan Mama saja ya? Tapi Papa 'kan super sibuk." gadis itu menggigit kuku jarinya karena bingung.
"Baiklah, aku akan bertanya kepada Papa terlebih dahulu." lanjutnya sambil beranjak dari ranjang dan kekura dari kamar.
Dirinya menuruni anak tangga dan melihat Papa serta Mama nya sedang berbincang.
"Papa." sapanya dan langsung masuk ke dalam pelukan sang Papa.
"Hai sayang, ada apa?'' sang Papa yakin jika anak gadisnya sudah bersikap manja seperti ini pasti ada hal yang dia inginkan.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Sang papa hanya mengangguk.
"Aku ingin pergi liburan ke luar negeri, tetapi temanku tidak ada yang bisa satupun. Apa Papa dan Mama tidak ingin menemaniku pergi berlibur?"
"Papa sangat sibuk, nak. Jika kamu ingin kami menemanimu berlibur, kamu harus membantu Papa mengurus perusahaan. Ya, supaya pekerjaaan Papa cepat selesai dan kita bisa pergi berlibur dengan hati tenang."
Gadis berusia dua puluh delapan tahun itu hanya diam saja.
"Baiklah, mulai besok aku akan membantu Papa mengurus perusahaan."
"Deal?" Papa mengulurkan sebelah tangan.
"Deal." Sang gadis pun menjabat tangan sang Papa.
"Sayang, kamu harus serius dalam mengurus perusahaan karena jika Papa sudah tua dan tidak bisa mengurus perusahaan maka kamu yang akan menjadi gantinya." ucap sang Mama mengingatkan.
"Iya, Ma. Aku mengerti.'' jawab gadis itu dengan senyum di bibir.
Mereka bertiga kembali mengobrol ringan.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK π
πΊπΊπΊ
__ADS_1
MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK π€**