
-----------3 Tahun Kemudian -----------
Tak terasa waktu terus bergulir, dari hari menjadi minggu dan dari Minggu menjadi bulan lalu tiba saatnya berganti tahun.
Usia Deana saat ini sudah berusia tiga tahun, dia menjadi anak yang pintar, tidak cengeng, dan menuruti ucapan sang Ayah.
Saat ini Ammar dan Putri sematawayangnya sedang bermain di taman sebelah rumah, berhubung weekend jadi Ammar bisa puas bermain dengan Dea.
"Ayah, tenapa tita dak main di taman tota?" ucap Dea dengan cadel, di usianya yang baru tiga tahun Deana sudah sangat pintar berbicara meskipun sedikit tidak jelas.
"Dea sayang, di rumah kita aja ada taman. Lalu untuk apa kamu mencari yang jauh, hm?" Ammar mengelus pucuk kepala Dea.
"Di tini dak ada temennya." rajuknya memasang wajah melas.
Ammar hanya tersenyum karena wajah itulah yang selalu Deana berikan jika ingin membujuknya.
"Minggu depan Ayah janji kita akan jalan-jalan, ke Mall atau taman." ujar Ammar agar mengembalikan semangat Deana.
Mata Deana terlihat berbinar. "Benelan, Yah? Asyik." lanjutnya dengan girang.
Deana langsung memeluk sang Ayah. "Ayah memang telbaik."
Ammar terharu mendengar ucapan Deana. 'Bukan Ayah, nak. Mama kamulah yang terbaik karena melahirkan seorang anak seperti kamu, bijak, dan kamu adalah sosok perempuan yang tangguh juga kuat.' batinnya sambil memeluk tubuh Deana dengan erat.
Dari kejauhan terlihat Celline berjalan ke arah mereka.
"Halo selamat pagi, semuanya. Ada drama apalagi untuk pagi ini, hm?'' sapa Celline ketika sudah berada di dekat Ammar.
Pelukan terurai dan Deana langsung beralih ke Celline.
"Onty!" serunya sambil masuk ke dalam pelukan Celline.
"Hello girls, sedang bermain apa?" Celline mengecup kedua pipi gembul milik Deana.
"Main boneka cama Ayah."
Celline hanya terkekeh dalam hati. "Oh ya? Boleh Onty ikut main bersama kalian?"
Deana mengangguk dan kembali bermain.
Celline mendapat pekerjaan di Indonesia karena itu dia tidak pulang dan memutuskan untuk menetap di Indonesia, hal lainnya adalah Celline sangat bahagia karena bisa setiap hari dekat dengan Ammar dan Deana si kecil kesayangannya.
"Apa tidak ada rencana keluar hari ini?" Celline bertanya kepada Ammar.
"Aku rasa tidak, weekend ini aku ingin menghabiskan waktu dengan Deana di rumah."
"Mengapa tidak bermain di luar saja? Atau tidak jalan-jalan gitu?"
"Minggu depan."
__ADS_1
Celline hanya mampu mengangguk dan mereka bermain bersama.
"Onty, dalam pelmainan ini onty jadi Mama Dea ya? Ayah tetap jadi Ayah Dea.'' Deana berbicara dengan nada polos sambil menatap Ammar dan Celline bergantian.
Ammar pun hanya diam saja dengan raut wajah yang sulit di artikan.
'Astaga, apa kak Ammar marah? Tapi tidak mungkin, ini 'kan hanya pura-pura. Tetapi jika terjadi sungguhan aku juga mau menjadi Mama Deana dan Istri untuk kak Ammar.' batin Celline berkhayal.
"Onty!" Deana menepuk tangan Celline yang terlihat melamun.
Celline pun tersadar dari lamunannya dan dia melempar senyum serta sekilas anggukan kepada Deana.
Akhirnya mereka bermain Ayah - Mama dengan Deana.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Hari ini Zaky memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Maura, mereka sering bersama karena Maura yang menjadi bodyguard Zaky.
Tiga tahun yang lalu Maura dan tim berhasil menangkap penjahat itu, ternyata benar dia adalah pria yang hebat hingga sangat sulit menangkapnya tetapi karena usaha dan kerjasama para tim akhirnya tugas pun dengan mudah diselesaikan.
Zaky meminta Maura untuk berhenti di taman kota.
Maura pun menuruti permintaan Zaky. "Tuan, kita belum sampai tujuan dan Anda sudah meminta berhenti? Bukannya hari ini Anda ingin kembali ke Jerman? Lalu bagaimana jika Anda ketinggalan pesawat dan terlambat?"
"Sudah, kau tidak perlu cerewet dan turunlah." Zaky turun terlebih dahulu dari mobil itu.
Maura menyusul Zaky yang berjalan menuju bangku.
"Bukankah taman ini sangat bagus menurutmu?" Zaky melirik Maura sejenak, jantungnya berdetak kencang hanya karena ingin menyatakan perasaannya kepada Maura.
"Ya, sangat bagus. Apalagi ada angsanya, sungguh indah di pandang mata." Maura tersenyum tipis.
"Seperti dirimu." Zaky memulai niatnya.
Maura mengerutkan dahi. "Aku? Maksudnya Tuan aku seperti angsa?"
"Bukan, maksud saya seperti kau yang sangat indah di pandang mata."
Maura mencoba untuk tidak goyah dan dia mati-matian menahan malu karena godaan Zaky.
"Anda terlalu sering menggodaku, aku takut jika Anda akan jatuh cinta padaku nantinya."
"Aku memang sudah jatuh cinta padamu, Maura." sambung Zaky dengan yakin.
Deg!
Jantung Maura seperti berhenti berdetak saat Zaky mengatakan hal itu, sebisa mungkin dia kembali menetralkan jantungnya karena mengira jika Zaky hanya bergurau.
"Bercanda Anda tidak lucu, Tuan. Ini masalah hati, aku mohon jangan berkata asal." Maura menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Zaky beranjak dari bangku dan dia berjongkok di depan Maura.
Maura heran sekaligus terkejut dengan kelakuan Zaky. "Tuan, apa yang Anda lakukan? Cepat berdiri!" pinta Maura dengan nada tegas.
Zaky tidak mengindahkan ucapan Maura, dia tetap berjongkok di depan Maura dengan lutut di letakkan di tanah.
"Sudah tiga tahun kebersamaan kita, Maura. Kau selalu bersamaku dan selalu membantuku, entah bagaimana aku bisa merasakan hal seperti ini tetapi intinya aku yakin jika ini adalah cinta. Aku sudah jatuh cinta padamu, perasaan tidak dapat dibohongi dan aku tidak ingin kamu nantinya akan menjadi milik orang jika aku tidak mengutarakan perasaanku. Percayalah Maura, aku sangat mencintaimu dan aku ingin kau menjadi istriku." ujar Zaky dengan sungguh-sungguh.
Maura menatap mata Zaky dengan lekat, manik mata abu itu menyiratkan kejujuran.
"Aku, aku β" Maura pun menjadi bingung.
Zaky merogoh saku dan dia mengeluarkan kotak berwarna biru beludru dari sana.
"Jika kau menerimaku dan mau memberikan aku kesempatan maka ambilah kotak ini, tetapi jika kau menolakku maka kau bisa memakaikan cincin ini di jariku." lanjutnya.
Muara bimbang dengan keputusannya, jujur dari dalam lubuk hati yang terdalam dia juga sudah jatuh hati pada Zaky. Bagaimana tidak, sikap Zaky yang begitu baik meskipun sedikit menyebalkan mampu membuat Maura tertarik pada Zaky.
'Dia sudah membawa kotak cincin, itu tandanya dia sudah mempersiapkan semua ini dan memang berniat mengatakan perasaannya. Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus menerimanya? Tapi jika aku menerima Zaky, bagaimana dengan Bisma? Aku yakin dia pasti akan meminta berbagai persyaratan kepada Zaky seperti pria-pria yang ingin menjadi kekasihku waktu itu.' batin Maura bertarung.
"Maura, bagaimana? Pada kau menerimaku? Kita tidak akan langsung menikah jika kau takut aku berbohong, kita bisa menambah pengenalan satu sama lain terlebih dahulu. Tetapi menurutku ada baiknya jika kita cepat menikah karena untuk mengurangi rasa ragumu padaku."
Maura tersadar dari lamunannya dan dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghanguskan pelan, Maura sudah meyakini keputusannya.
"Aku, aku tidak bisa menerima Anda."
Sontak hal itu membuat Zaky diam mematung.
β’
BANTU MAURA BERPIKIR YUK π€
Bang Zaky sepertinya putus asa π₯Ί
β’
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN
TERIMA KASIH BANYAK SEMUANYA π**
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
__ADS_1
Sambil menunggu si kembar up, mampir ke novel teman Othor dulu yuk.π₯°