JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 46 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Maura menoleh ke belakang saat dia mendengar suara Zaky.


"Astaga, maafkan aku Tuan." ucapnya sambil bergegas bangkit dari bangku.


"Ashh, harusnya lihat-lihat dulu sebelum mem-bogem." Zaky memegangi mata sebelah kanannya.


Maura menjadi tidak enak hati. "Tuan, sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja."


"Saya yakin pasti mata saya benjol gara-gara kau." Zaky melirik Maura menggunakan mata sebelah kiri.


Maura bingung harus melakukan apa. "Sini, biar aku obati."


Zaky mengangkat sebelah tangan. "Tidak perlu, saya datang menghampirimu karena ingin mengatakan saya dan Celline akan pulang. Kau tunggu Tuanmu itu dan antar dia pulang ke apartemen."


"Tapi, Tuan! Mengapa tidak bersama saja pulangnya?"


"Tidak perlu banyak tanya, sebaiknya kau tunggu saja Tuanmu."


Maura hanya terdiam ketika Zaky memutuskan berlalu dari hadapannya.


"Astaga, kenapa pria itu sangat cerewet sekali?" Maura duduk kembali di bangku sambil memikirkan bagaimana caranya melupakan rasa cintanya kepada Ammar.


Beberapa saat kemudian.


Ammar datang menghampiri Maura, dia saat itu ingin pulang menaiki taksi tetapi ternyata Maura masih menunggunya.


"Maura?" Ammar memanggil dari belakang tubuh Maura.


Maura menoleh dan beranjak. "Tuan, Anda sudah datang? Apa kita akan pulang sekarang?"


Ammar hanya mengangguk dengan raut wajah sedih.


Maura merasa jika Ammar sangat sedih karena tidak bisa menemui Anisa.


'Sebesar itukah rasa penyesalan Tuan Ammar hingga dia terlihat tidak bersemangat.' batin Maura tanpa.


"Apa aku harus menunggumu selesai melamun?"


Maura mengedipkan matanya berkali-kali.


"M—maaf, Tuan. Ayo!"


Maura berjalan di depan Ammar.

__ADS_1


------------------------------💔---------------------------------


LIMA BULAN KEMUDIAN.


Amman, Audrey sudah berada di Indonesia, sejak kandungan Anisa berusia lima bulan mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.


Anisa tidak ingin dirinya bertemu dengan Ammar lagi jika dia masih berada di Swiss, meskipun besar kemungkinan dia akan berjumpa Ammar lagi di negara Indonesia.


Amman dan Audrey telah bersiap untuk pergi ke Mall, mereka berencana membeli peralatan bayi sekaligus baju-baju karena usia kandungan Audrey sudah menginjak tujuh bulan, sementara kandungan Anisa berusia delapan bulan.


"Mas, dimana kak Anisa?" Audrey mengedarkan pandangan ketika mereka sudah berada di lantai bawah."


"Mungkin dia ada di belakang." ucap Amman.


Mereka berdua bergegas menemui Anisa yang ternyata memang ada di halaman belakang, terlihat dia sedang menatap bunga anggrek yang bergoyang kesana-kemari karena tertiup angin.


"Anisa?"


Anisa menoleh dan tersenyum tipis.


"Ayo kak, kita berangkat sekarang."


Anisa terdiam. "Aku sepertinya tidak akan ikut dengan kalian."


"Kepalaku sedang pusing, aku takut merepotkan kalian berdua nantinya."


"Pusing? Kenapa tiba-tiba? Kalau begitu kami tidak akan pergi karena aku takut terjadi sesuatu denganmu." Ammar melirik Audrey yang hanya menganggukkan kepala.


'Padahal aku hanya berbohong, bagaimana ini?' ucap Anisa dalam hati.


"Jangan, Mas! Kalian pergilah, aku tidak masalah jika harus dirumah. Lagian di rumah juga ada bibi bukan?"


Amman akhirnya pasrah dan dia memutuskan untuk pergi bersama dengan Audrey.


Beberapa saat kemudian.


Setelah mobil Amman pergi menjauh, Anisa bergegas masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar.


Dia mencari pulpen dan selembar kertas, setelah mendapatkan apa yang dicari, Anisa langsung duduk di kursi meja rias dan mulai membubuhkan sebuah tulisan disana.


'Menjadi seorang ibu adalah impian bagi setiap wanita, ibu bisa saja mempertaruhkan nyawa demi anak-anak mereka, di dalam pernikahan tidak ada kata indah selain buah hati. Sebagai seorang ibu, aku ingin menitipkan anakku kepada kamu Mas Amman dan Audrey, aku yakin kalian berdua bisa menjaga anakku dengan baik, ajari dia bagaimana caranya berjalan, ajari dia bagaimana caranya bicara, ajari dia tata Krama dan sopan santun, dan ajari dia bagaimana caranya menghormati seseorang yang lebih tua darinya. Aku tidak bisa mengajari dia semua itu, aku tidak bisa menuntun jemarinya agar bisa berjalan, aku tidak bisa mencium pipinya disaat sedang bergurau, bahkan aku tidak akan bisa memanggil namanya."

__ADS_1


Anisa menghentikan tulisannya sejenak dan dia menangis dengan terisak, dadanya terasa sesak ketika dokter mengatakan kanker yang dia derita ternyata sudah mencapai stadium akhir.


'Aku ingin kalian menyayangi anakku seperti anak kalian sendiri, tolong jangan bedakan dia dengan anak kalian nantinya, anakku kelak tidak punya siapapun selain kalian, maafkan aku karena selama ini aku menyembunyikan hal sebesar ini dari kalian semua. Aku hanya ingin hidup dengan tenang tanpa bayangan dari masa laluku, aku merelakan nyawaku demi bayiku, aku ingin bayiku melihat betapa indahnya dunia, aku ingin dia belajar menjadi seseorang yang tangguh dan mampu menjadi contoh yang baik. Aku tidak ingin mengorbankan bayiku, jika rahimku di angkat maka aku tidak akan bisa mempunyai anak lagi dan bagiku itu sama saja seperti aku ingin mati. Berikan dia nama DEANA jika dia anak perempuan, tetapi jika dia laki-laki, kalian bebas memberikan nama apa kepadanya yang penting harus memiliki arti baik. DEANA adalah gadis yang tangguh dan kuat, aku ingin anakku kelak hidup seperti yang aku doakan. Tolong jaga anakku dengan baik, jangan pernah biarkan dia merasakan kekurangan kasih sayang dari seorang Ayah ataupun Bunda, aku sebenarnya ingin dia memanggilku dengan sebutan bunda, tetapi sepertinya itu semua hanya akan menjadi khayalan bagiku. Terima kasih untuk kalian yang sudah berbaik hati menerimaku, aku pamit dan sekali lagi tolong jaga anakku. Satu lagi, sampaikan kepada Tuan Ammar bahwa aku sudah memaafkan dirinya, dan jika dia ingin bertemu dengan anaknya maka berikanlah peluang untuk dia. Aku tidak ingin menjadi seorang perempuan yang berdosa karena sudah menjauhkan anak kandung dari Ayahnya sendiri. ANISA.'


Surat itu di tuliskan untuk Amman dan Audrey kelak jika dirinya tidak diberikan kesempatan untuk berbicara dengan Amman ataupun Audrey.


Anisa melipat surat itu dan dia akan menyimpannya di lemari, Anisa sangat sedih karena dia diharuskan memilih nyawa atau bayinya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengorbankan bayiku, dia tidak bersalah dan inilah perjuangan seorang ibu." Anisa mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Saat dia ingin berjalan ke lemari, tiba-tiba Anisa merasakan perutnya melilit hebat dan jantungnya terasa sesak.


"Ya Allah, ada apa ini?" gumam Anisa dengan lirih.


Dia mencoba berjalan keluar dari kamar dan surat tadi terjatuh di lantai.


"Bi! Bibi!!!" teriak Anisa dengan sesak.


Bi Minah berlari menghampiri Anisa.


"Nyonya, Anda kenapa Nyonya?" Bi Minah khawatir karena melihat wajah Anisa yang seperti menahan sakit dan keluar keringat dari dahinya.


"Bi, tolong telepon Mas Amman atau Audrey. Perutku rasanya sakit, sepertinya aku akan melahirkan." Anisa berkata sambil menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Baik, tunggu sebentar Nyonya." Bi Minah berlari ke telepon rumah.


Beliau mulai mengetik nomor Amman dan ternyata sambungan tidak dijawab.


Sementara Anisa, dia sudah tidak tahan dan memutuskan untuk pergi keluar dari rumah.


"Aku harus mencari seseorang agar mengantarkan aku ke rumah sakit." lirihnya dengan tertatih keluar dari rumah.


Anisa heran, padahal usia kandungannya baru menginjak delapan bulan tetapi dia sudah ingin melahirkan.




**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**

__ADS_1


__ADS_2