
Mereka bertiga berkumpul dimeja makan dan bersiap untuk menyantap hidangan yang telah Anisa masak.
"Kak, bagaimana mungkin kamu bisa memasak makanan ala Swiss seperti ini?" Audrey bertanya sambil menatap menu makanan.
FOUNDE
"Aku melihat YouTube terlebih dahulu sebelum memasaknya." jawab Anisa dengan senyum tipis.
"Gimana rasanya?" Anisa bertanya sambil menatap Audrey dan Amman.
"Delicious! Rasanya benar-benar enak, padahal baru pertama kali kamu memasaknya namun rasanya sudah nikmat seperti ini. Kamu benar-benar jago dalam hal memuaskan perut, Anisa." Amman memuji Anisa dan Audrey hanya tersenyum tipis.
Audrey merasa sedikit berkecil hati karena tidak pernah melayani Amman dalam masalah perut, Amman belum pernah mencicipi makanan hasil olahan tangannya.
"Ya, dan aku berniat untuk belajar memasak dengan kak Anisa."
"Hm, itu adalah ide yang bagus." ucap Amman sambil terus menyantap sarapannya.
Beberapa kemudian, mereka telah selesai sarapan dan duduk bersama di ruang tamu.
"Mas, apa di negara ini tidak ada yang menjual bahan pokok khas Indonesia? Seperti beras dan lain-lain."
__ADS_1
Amman terdiam sambil berpikir. "Sepertinya ada dan tempat itu khusus menjual kebutuhan dari Indonesia. Jika kamu mau kita bisa pergi ke tempat itu."
"Boleh, kapan kamu ada waktu maka kita akan pergi." Jawab Anisa.
Amman mengangguk.
"Memangnya kak Amman kapan mulai mengurus perusahaan?" Audrey angkat suara .
"Mungkin besok." Jawab Amman sambil melirik Audrey.
"Bagaimana jika kita pergi ke tempat itu sekarang. Ya, sekaligus jalan-jalan karena jika kak Amman mulai masuk kerja pasti akan sulit untuk libur."
"Bagaimana Anisa? Apa kamu mau pergi sekarang untuk mencari bahan pokok dari Indonesia?"
"Baiklah, aku akan bersiap dan kita pergi sekarang juga." Audrey tersenyum tipis lalu dia beranjak dan melangkah pergi.
Setelah Audrey pergi.
Anisa ingin menyusul Audrey tetapi Amman mencekal lengannya.
"Anisa, tunggu!"
Anisa menghentikan langkah dan menatap Amman.
__ADS_1
"Aku berharap kamu bisa menerima semuanya, hingga saat ini aku masih mencintai kamu meskipun kamu telah mengandung benih dari Ammar. Tapi ketahuilah, cintaku untukmu tidak akan pudar begitupun rasa cintaku pada Audrey." Amman menjeda ucapannya. "Audrey adalah gadis yang baik dan aku tidak ingin menyakiti hatinya, jika aku bersikap manis atau berbeda padanya tolong kamu jangan berpikir jika aku pilih kasih atau tidak adil." jelas Amman.
"Aku mengerti, Mas. Aku minta maaf karena sudah berani masuk ke dalam rumah tangga kalian, aku sangat berterima kasih kepada kamu karena kamu sudah mau berbaik hati menerimaku." Anisa menitikkan air mata.
"SST! Jangan menangis, usap air matamu dan jangan tunjukkan itu lagi di hadapanku. Aku tidak ingin wanita yang aku cintai menangis di depan mataku." Amman mengusap air mata yang menetes di pipi Anisa.
Anisa hanya tersenyum tipis. "Aku ingin segera bersiap."
Amman mengangguk dan Anisa pun pergi dari hadapan Amman.
Dari balik semak-semak, Audrey yang memang ingin bertanya kepada Amman hanya bisa terdiam.
"Ternyata kak Amman masih mencintai kak Anisa, aku harus bisa sabar karena kak Anisa juga wanita baik-baik." gumam Audrey dan berlalu.
Beberapa saat kemudian mereka telah bersiap.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan mobil pun mulai melaju membelah jalan Zurich yang sangat indah, Anisa hanya mampu mengagumi tempat tersebut.
•
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**