
Dua hari kemudian.
Anisa dan Audrey memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman yang tak jauh dari kota.
"Wah, tempatnya sangat indah ya Audrey?" Anisa melihat ke sekeliling."
"Tentu kak, bahkan masih banyak lagi tempat yang bagus selain taman ini. Nanti setelah dari sini kita akan kembali berkeliling."
Anisa hanya mengangguk.
Mereka terus berjalan menyusuri taman tersebut dan sesekali memetik bunga yang ada disana.
Brugh!
Anisa menubruk seseorang dan dia jatuh ke tanah.
"Aw." ucapnya sambil memegangi pundak.
"Kak!" seru Audrey terkejut dan langsung membantu Anisa berdiri.
Audrey menatap pria tampan di depannya dengan raut kesal.
"Hei! Apa Anda tidak punya mata?" ucap Audrey menunjuk wajah pria tersebut.
Pria itu hanya diam saja sambil memperhatikan Anisa.
"Aku rasa Anda buta ya? Sudah buta, bisu, tuli lagi." ujar Audrey tanpa rem.
Pria tersebut mengalihkan pandangan menatap Audrey.
"Siapa yang kau katakan buta, bisu dan tuli?" ucapnya dengan suara bariton.
__ADS_1
Audrey hanya meneguk Saliva ketika mendengar suara pria tersebut.
"Kenapa diam? Apa kau sudah selesai bicara?"
Pria itu ingin pergi tetapi Audrey menghentikan langkah pria tersebut.
"Apa kau tidak punya rasa malu sama sekali? Sudah menubruk bukannya minta maaf!"
Sang pria menatap Audrey dengan datar. "Wanita yang ku tabrak saja tidak seheboh dirimu, lalu mengapa kau yang merasa seperti tersakiti?"
"Kau—" ucapan Audrey terpotong karena Anisa menyelanya.
"Sudah-sudah cukup! Audrey, aku tidak pa-pa. Sudahlah, tidak perlu memperpanjang masalah." ucap Anisa lembut.
"Tapi kak, harusnya dia meminta maaf sebelum memutuskan pergi." Audrey tetap bersikeras.
"Sudahlah." Anisa hanya mampu menenangkan Audrey.
"Maaf.'' ucap pria itu dengan dingin.
"Nah, bagus. Jika Anda meminta maaf dari tadi, mungkin masalah tidak akan panjang. Sekarang Anda bisa pergi, ayo cepat!"
Pria itu rasanya ingin sekali membungkam mulut Audrey yang tanpa rem, tetapi dia masih ingat jika wanita di depannya adalah orang asing jadi dia tidak boleh gegabah.
Pria itu pergi dari hadapan Audrey.
"Audrey, kamu ini kenapa? Aku tidak pa-pa seharusnya kamu tidak perlu berkata seperti itu. Kita sedang berada di negara asing dan jika pria tadi memiliki dendam kepada kamu lalu dia berniat berbuat jahat bagaimana?" Anisa jadi takut.
"Kakak tidak perlu takut, sudah tenanglah. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kakak dan bayi yang sedang kakak kandung." Audrey mengelus perut Anisa yang masih rata.
Anisa tersenyum tipis, dia sangat bersyukur karena Audrey sangat baik padanya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita pergi." Anisa menggandeng tangan Audrey dan mereka pergi dari tempat itu.
*
Di apartemen.
Zaky mengelap keringat yang ada di tubuhnya menggunakan handuk kecil .
"Huft, sepertinya hari ini adalah hari yang sial untukku." Zaky membayangkan wajah Anisa yang sangat cantik. "Wanita itu cantik sekali, tapi sayang gadis di sampingnya sangat bar-bar sehingga aku tidak bisa bertanya siapa nama wanita itu, dimana tinggalnya dan apa pekerjaannya." gumam Zaky berbicara sendiri.
Baru kali ini Zaky bertemu dengan seorang wanita dan hatinya langsung berdegup kencang, dia seperti tertarik dengan wanita itu.
"Apa masih ada kesempatan untukku agar bertemu lagi dengannya?" Zaky menjadi penasaran dengan sosok Anisa.
Wajah cantik dengan kerudung yang menutupi rambutnya, pakaian sangat sopan dan tatapan mata yang syahdu membuat Zaky yakin jika perempuan itu adalah gadis Sholehah dan tidak mata duitan seperti mantan-mantannya yang lalu.
•
**ZAKY
•
TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA BESOK 🤗
YUK BANTU KLIK LIKE, BERI HADIAH, TONTON IKLAN YANG ADA, JANGAN LUPA TAP FAVORIT DAN RATE 🌟 5 NYA.
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA 🙏
DANKE**