JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 34 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Keesokan paginya.


Amman bangun terlebih dahulu dan dia bergegas pindah ke kamar milik Audrey, dirinya terus risau karena kepikiran tentang Audrey yang ditinggal saat keadaannya demam.


Ceklek


Amman masuk ke dalam kamar dan dia melihat ke ranjang dimana Audrey masih tertidur pulas.


Amman berjalan menghampiri Audrey, sesampainya di dekat Audrey, Amman langsung duduk di pinggir ranjang dan mengecek suhu badan Audrey menggunakan punggung tangannya.


"Astaga, demamnya semakin tinggi!" ucap Amman khawatir.


Amman mencari remote AC dan dia menurunkan suhu AC agar Audrey tidak kedinginan.


"Apa yang dia pikirkan? Dirinya sakit dan dia malah membiarkan aku tidur di kamar Anisa." Amman terus menggerutu.


Audrey langsung membuka mata karena dia mendengar samar-samar suara Amman.


"Kak, kamu udah bangun?" Audrey ingin bangkit tetapi Amman mencegahnya.


"Tetap berbaring dan jangan melanggar ucapanku." peringatan tegas yang Amman berikan.


"Kamu kenapa kak?" Audrey bertanya dengan nada biasa saja meskipun dia merasakan tubuhnya menggigil.


"Jangan pura-pura tidak mengerti Audrey, suhu badan kamu panas sekali dan kamu tadi malam mengatakan tidak pa-pa?" Amman memasang raut wajah kesal. "Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Aku akan merasa sebagai suami yang tidak adil dan tidak bisa menjaga istriku." lanjutnya.


"Kak sudahlah, aku hanya kelelahan." Audrey mencoba menenangkan Amman.


"Kelelahan tapi kenapa kamu sampai demam seperti ini? Setelah matahari terbit kita akan ke rumah sakit, aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu."


"Tidak perlu kak, aku baik-baik saja. Sungguh!" tekan Audrey menolak di bawa ke rumah sakit karena sangat benci dengan bau obat-obatan.


"Lalu apa mau kamu Audrey? Kamu mau aku diam saja dan menyaksikan istriku yang sakit, seperti itu?''


"Belikan saja obat di apotik untukku." ujar Audrey sambil memejamkan mata. "Kepalaku rasanya ingin pecah, mungkin karena aku terlalu banyak pikiran." ucap Audrey selanjutnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hm?" Amman menurunkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Aku memikirkan kenapa sampai saat ini aku belum hamil." jawab Audrey dengan lirih


Amman menggenggam tangan Audrey. "Aku yakin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untuk kita berdua, kamu jangan terlalu memikirkan itu. Audrey, kamu juga jangan salah sangka dulu jika aku tidur di kamar Anisa."


"Maksud kamu apa kak? Aku tidak mengerti." Audrey memang tidak tahu apa yang Amman katakan.


"Sebenernya, selama ini aku dan Anisa belum melakukan hubungan suami-istri."


Audrey langsung membolakan matanya. "Apa?"


Amman mengangguk. "Aku dan Anisa setiap malam hanya mengobrol karena Anisa menolak untuk aku sentuh, dia mengatakan jika ingin berhubungan sebaiknya menunggu bayinya lahir."


"Bukankah kak Anisa tau jika menolak ajakan suami itu hukumnya dosa besar?''


"Tentu dia tahu, tetapi aku sudah memaklumi dan memaafkannya. Jadi tidak masalah."


Audrey memejamkan matanya kembali sambil mengangguk.


🌺🌺🌺🌺


"Kak, kita berangkat sekarang ya? Aku sore ada acara dengan teman-temanku." ucap Celline sambil menggoyangkan tubuh Ammar yang masih berbalut nyaman di bawah selimut.


"Hm, apa kamu sudah selesai?" Ammar berbicara dengan suara serak khas bangun tidur.


''Sudah, kakak cepatlah bersiap. Aku akan menunggu dibawah."


Ammar mengangguk dan Celline pergi dari kamar Ammar.


Ammar menyibakkan selimutnya dan dia segera beranjak dari ranjang, jika kemauan Celline tidak dituruti maka Amman tidak ingin telinganya menjadi tuli.


Beberapa menit kemudian.


Setelah berpamitan, Ammar dan Celline menuju pintu utama.


Ceklek.


Keduanya terkejut karena melihat Maura yang sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Kau, mau apa kau berada disini?" ucap Ammar marah, mood nya pagi ini rusak karena bodyguard tidak diinginkan itu.


"Tentu saja saya berada disini, Tuan. Apa Anda lupa jika saya adalah bodyguard Anda?" ucap Maura tanpa rasa bersalah.


"Oh ya Tuhan!!! Kenapa harus ada wanita berbentuk seperti ini?" Ammar ingin meremas rambutnya tetapi dia undurkan.


Maura hanya memasang wajah tanpa ekspresi.


"Maura, apa kamu mau ikut bersama dengan kami?" tawar Celline.


"Jelas saya ikut, Nona. Saya harus ikuti kemanapun Tuan Ammar melangkah pergi."


Ammar menatap Maura dengan permusuhan.


β€’



Bodyguard cantiknya Tuan Ammar 😍


β€’



**CELLINE πŸ₯°


β€’


TBC


HAPPY READING


SAMPAI JUMPA BESOK πŸ€—


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN YA?


TERIMA KASIH BANYAK πŸ™**

__ADS_1


__ADS_2