
Sementara Ammar, dia masuk ke dalam rumah dengan rasa gugup.
Aresha yang saat itu sedang bermain ruang tamu dengan Deana, langsung segera menoleh.
"Loh, Ammar? Kamu gak ke kantor?" Aresha beranjak dari sofa.
Ammar hanya diam saja sambil berpikir harus memulai pembicaraan darimana.
"Ma, ada yang ingin aku katakan."
"Ya, ada apa nak?" Aresha menatap Ammar dengan lekat.
Ammar mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. "Aku ingin menikahi Celline."
Sunyi.
Aresha terperangah mendengar keinginan Ammar.
"Celline? Anak Aunty Nindi?" Aresha mencoba memastikan.
Pertanyaan Aresha mendapat anggukan dari Ammar dan itu tandanya benar.
Aresha pun menggeleng. "Apa-apaan kamu, Ammar? Celline itu sepupumu dan kamu juga sudah menganggapnya sebagai adik bukan? Lalu bagaimana bisa kamu ingin menikah dengan adikmu?"
"Aku juga tidak tahu, Ma. Entah mengapa aku bisa mempunyai perasaan spesial untuk Celline dan Celline pun sebaliknya, dia juga mencintai aku. Izinkan kami bahagia, Ma." Ammar berbicara dengan nada memohon.
"Jika Ayahmu tau, Mama yakin dia pasti tidak akan setuju."
"Mama bisa membujuk Ayah untuk menyetujui hubunganku dengan Celline." sahut Ammar dengan yakin.
"Tidak Ammar, ini tidak bisa dibiarkan. Mama juga tidak akan menyetujui hubunganmu dan Celline." Aresha mengambil ponsel dan dia segera menghubungi Amir.
"Mas, bisa kamu pulang sekarang? Aku ingin mengatakan hal penting."
Amir pun mengatakan 'ya' lalu panggilan terputus.
"Kita akan menunggu Ayahmu terlebih dahulu." Aresha meletakkan ponsel di atas meja lalu dia kembali duduk.
Beberapa menit kemudian.
Suara deru mobil Amir terdengar di halaman rumah.
__ADS_1
Amir pun segera masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Sayang, ada apa?" dirinya langsung menghampiri Aresha.
Aresha melirik Ammar sang putra. "Ammar ingin mengatakan sesuatu." ucapnya membuat Ammar menelan ludah.
'Aku yakin jika Ayah pasti akan marah.' batin Ammar.
"Ada apa, Ammar? Kenapa sepertinya sangat penting?"
"Ayah, aku ingin menikahi Celline."
Tidak ada jawaban dari Amir, yang ada hanya tatapan tajam yang dia layangkan ke Ammar.
"Aku mohon untuk kali ini biarkan aku bahagia dengan cintaku, sudah cukup aku kehilangan cinta pertamaku yaitu Audrey, cinta keduaku yaitu Anisa dan aku tidak ingin kehilangan untuk yang ketiga kalinya." ujar Ammar dengan memelas.
PLAK!
Amir menampar pipi Ammar.
"Apa tidak ada wanita lain di dunia ini selain adik sepupumu itu? Hah!" Amir pun murka.
"Tetapi aku hanya mencintainya, Yah! Aku mohon untuk kali ini biarkan aku memilih jalanku sendiri, aku yakin saat ini aku tidak akan salah langkah." pinta Ammar tanpa rasa lelah.
"Aku tidak akan mau dijodohkan dengan Adisti! Aku tidak mencintainya, kenapa Ayah harus berpikiran kolot?" teriak Ammar marah.
"JAGA NADA BICARAMU, AMMAR! JANGAN PERNAH BERTERIAK SEPERTI ITU JIKA BERBICARA DENGAN ORANG TUA!" Amir pun semakin emosi.
Aresha baru teringat jika Deana masih bersamanya.
"Dea sayang, kita ke kamar dulu yuk?"
Deana yang masih polos dan tidak mengerti apapun hanya mampu mengangguk, mereka berdua naik ke atas tangga menuju kamar.
"Ayah mengerti jika kalian tidak saling mencintai, tetapi lihatlah kakakmu! Dia dan Audrey dulu tidak saling mencintai tetapi saat ini mereka sudah menjadi keluarga yang bahagia! Apa kamu ingin mengelak lagi?" Amir berkata dengan nada tinggi.
"Sifatku dan kak Amman sangat berbeda, kami tidak sama Ayah!" bantah Ammar dengan keras kepala.
Amir mengangkat sebelah tangannya. "Ayah tidak ingin mendengar apapun lagi, nanti malam kita akan pergi ke rumah Adisti yang ada di Indonesia. Mereka masih berada disini dan besok baru kembali ke Paris, bersiaplah untuk nanti malam dan Ayah tidak ingin ada bantahan apapun darimu." lanjutnya segera meninggalkan Ammar.
"Ayah! Yah!" Ammar memanggil tetapi diabaikan oleh Amir.
__ADS_1
"ARGH!" teriaknya frustasi sambil memukul udara.
Ammar terdiam sejenak untuk berpikir
Setelah ide terlintas dibenak, dirinya segera mengambil ponsel dan menghubungi Celline.
πΊπΊ
DRTT DRTT
Ponsel Celline bergetar, Celline yang saat itu masih setia duduk di depan pintu segera merogoh tas untuk mengambil ponselnya.
Celline melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya, dia bergegas menghapus air mata dan menjawab panggilan dari Ammar.
"Hβhalo, kak." sapa Celline ketika panggilan sudah tersambung.
π²"Celline, apa kamu baik-baik saja?" Ammar bertanya dengan nada khawatir karena dia mendengar suara Celline yang seperti habis menangis.
"Aku sedang tidak baik, kak. Hiks..."
π²"Tenanglah, benar jika keluarga kita sangat menentang hubungan kita ini. Kamu jangan khawatir, aku sudah memiliki ide dan kita bisa menjalankannya agar kita bisa menikah."
"Aku rasa semuanya harus berhenti sampai disini, kak. Daddy mengurungku di dalam kamar, aku tidak diizinkan keluar dan hari ini kami akan kembali ke Jerman. Daddy ingin menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya." Celline pun kembali terisak.
'Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak ingin kehilangan Celline.' batin Ammar di seberang sana.
π²"Aku akan ke rumahmu sekarang, selalu aktifkan ponselmu karena aku akan datang diam-diam." pinta Ammar kepada Celline.
Celline pun menuruti permintaan Ammar.
Panggilan terputus dan Celline bersiap untuk menunggu kedatangan Ammar.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN π₯°
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK π**