JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 74 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Hari ini adalah hari pernikahan Ammar dan Celline, sebenarnya kedua calon pengantin itu sangat bahagia tetapi karena kedua orang tua mereka terpaksa merestui hubungan mereka menjadikan kesedihan tersendiri di hati mereka terlebih Celline.


Sebelum ijab kabul, Ammar dan Celline menyempatkan diri pergi ke pemakaman Anisa.


Terlihat mereka berdua sedang menatap pusara Anisa.


"Anisa, tolong bantu doa agar kedua orang tua kamu merestui hubungan kami dengan lapang dada. Lihatlah, aku sudah menemukan Mama baru untuk Deana Putri kita. Aku yakin jika Celline pasti akan menyayangi Deana seperti putrinya sendiri." Ammar mengelus batu nisan milik Anisa.


Celline pun tersenyum tipis. "Aku berjanji akan menjaga dan menyayangi Deana seperti putriku meskipun nanti aku dan kakak Ammar akan memiliki anak sendiri. Deana tetaplah permata hati yang akan menatap di hati kami."


Ammar tersenyum senang mendengar ucapan Celline. "Semoga ucapanmu bukan hanya khayalan belaka bagiku."


"Kamu tenang saja kak, aku janji akan selalu menyayangi Deana dan tidak akan membeda-bedakan dengan anak kita kelak."


Ammar mengelus kepala Celline yang tertutup hijab.


Ammar pun melihat jam yang menempel pergelangan tangannya.


"Satu jam lagi kita akan ijab kabul, sebaiknya kita pulang sekarang karena kamu masih belum bersiap."


Celline mengangguk dan mereka berdua pergi meninggalkan makam Anisa.


Sesampainya di rumah.


Celline segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap begitupun dengan Ammar, banyak orang yang heran dengan pernikahan sesama sepupu ini tetapi keluarga tidak terlalu memperdulikan omongan mereka.


Satu jam kemudian.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Ammar Arsalaan bin Amir Arsalaan dengan putri kandung saya yang bernama Celline Alexander binti Excel Alexander dengan mahar berupa emas seratus gram, rumah berlantai tiga, satu buah mobil Alphard, dan uang sebesar lima ratus juta rupiah dibayar tunai!" ucap Excel dengan lantang sambil menjabat tangan Ammar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Celline Alexander binti Excel Alexander dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” sahut Ammar dengan suara lantang dan satu kali tarikan nafas.


Sah!

__ADS_1


Teriak semuanya yang menyaksikan acara itu. Bacaan do'a pun dilantunkan setelah acara ijab kabul selesai.


Semua memberikan selamat kepada kedua mempelai yang baru saja selesai melaksanakan ijab kabul.


Dari kejauhan, Adisti menatap ke arah pelaminan dengan sendu.


"Aku tidak menyangka jika Celline juga mencintai Ammar, aku pikir akulah yang akan menjadi istri Ammar dan Ammar juga mencintaiku tetapi semua dugaaanku salah." ujar Adisti seraya menahan tetesan air mata.


Dia bergegas pergi dari kediaman Arsalaan tanpa sepengetahuan orangtuanya.


Leon dan Lidia tidak mempermasalahkan jika anak-anak mereka tidak jadi dijodohkan karena perasaan juga tidak dapat dipaksa.


Kedua orang tua itu paham akan isi hati Adisti saat ini, mereka sebenarnya melarang Adisti untuk datang tetapi Adisti tetap bersikeras ikut dan dia mencoba untuk tetap tegar, nyatanya dia hanyalah wanita biasa yang hatinya sangat lemah dan rapuh.


Adisti masuk ke dalam mobil dan dia menangis di dalam sana.


"Hiks, sesak sekali." Adis memukul dadanya yang sesak. "Sangat sakit dan sepertinya tidak rela jika mengingat Ammar yang sudah menjadi milik orang lain." lanjutnya dengan tangisan yang pecah.


Setelah selesai menangis, Adisti melajukan mobil. Dia ingin sedikit menenangkan pikiran saat ini.


Mobil pun melaju dengan kencang, hingga tiba saatnya di lampu merah Adisti tidak peduli dan dia malah menerobos lampu merah tersebut.


Polisi yang sedang bertugas segera mengejar Adisti sendirian sementara temannya tetap menjaga rambu-rambu lalulintas.


Polisi tersebut membawa motornya dengan sangat kencang dan bunyi sirine nya mampu membuat Adisti melirik ke kaca spion.


"Astaga, polisi? Mau apa dia?" Adisti melihat polisi tersebut melambai ke arahnya.


Adisti pun segera menginjak pedal rem dengan dalam dan mobil berhenti tepat di pinggir jalan.


Polisi itu datang menghampiri mobil Adisti.


Tok tok


Dirinya mengetuk jendela mobil.

__ADS_1


Adisti pun segera membuka jendela itu dan terlihatlah wajah posisi yang terlihat tampan itu.


"Ada apa ya, Pak?'' Adisti bertanya dengan nada heran.


"Bisa keluar sebentar?"


Adisti pun keluar dari dalam mobil dan dia menatap polisi itu.


"Apa Anda tidak tahu aturan saat berkendara? Anda sudah melanggar aturan dengan cara menerobos lampu merah."


Dahi Adisti sukses mengerut. "Benarkah? Maaf saya sedang patah hati, Pak."


"Hanya karena itu menjadikan Anda lupa mematuhi aturan dalam berkendara?"


"Hua ...." Adisti menangis dengan kencang karena dia tidak ingin ditilang.


Polisi itu menatap heran ke arah Adisti.


"Tolong jangan tilang saya , Pak. Kasihanilah saya yang sedang patah hati ini." air mata buaya menetes di pipi Adisti.


"Eh, kenapa Anda harus menangis?"


"Karena Bapak jahat."


Polisi tersebut menepuk dahinya dengan kasar.


'Apes banget jumpa pengendara seperti ini.' batin Komandan Alpa yang memang sedang bertugas mengawal anggotanya.




**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN 🥰


BANTU VOTE DAN TAP FAV YA GUYS 😘**


__ADS_2