JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 22 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Keesokan harinya.


Anisa bangun pagi-pagi terlebih dahulu, setelah selesai melakukan ibadah sholat dirinya langsung pergi ke dapur guna membuat sarapan untuk Amman dan Audrey.


Saat Anisa sampai di dapur, dia langsung membuka kulkas dan ternyata tidak mendapati bahan makanan yang dia inginkan.


"Astaga, bagaimana ini? Ayam dan sayur tidak ada, lalu apa yang ingin aku masak untuk mereka berdua?" Nisa terdiam sejenak sambil berpikir.


Terbitlah senyuman karena ide yang terlintas dalam benak Anisa, dia mengambil ponsel yang ada di atas meja dan mulai mencari cara membuat makanan ala Swiss.


Setelah dirasa makanan ini yang mudah, Anisa langsung mencari bahan makanannya.


Pukul setengah tujuh.


Audrey bangun dan segera membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian dia selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah lalu rambut di tutup menggunakan handuk tebal.


Audrey berjalan ke ranjang untuk membangunkan Amman.


"Kak, kak Amman! Bangun, sudah pukul tujuh." ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Amman.


"Eugh, wait honey." pinta Amman dengan suara serak khas bangun tidur.


Audrey mengedikkan bahu dan dia segera bergegas berganti pakaian.


Selesai berganti, hidung Audrey seperti menangkap bau harum khas masakan.


"Wangi apa ini?" ucap Audrey sambil mengendus. "Apa kak Anisa sudah membuat sarapan?" lanjutnya seraya melirik ke ranjang.


Audrey berjalan kembali menghampiri Amman.


"Kak, ayo dong bangun!"


Amman dengan cepat memeluk pinggang Audrey dan membenamkan kepalanya di perut Audrey.

__ADS_1


"Astaga, kenapa malah bersembunyi?" tanya Audrey dengan nada bingung.


"Kamu terlalu cerewet." Amman semakin menyembunyikan wajahnya.


"Dasar bayi gede!" Audrey terkekeh sendiri.


Amman mendongak dan menatap wajah cantik Audrey yang sudah bermake-up tipis. "Masih pagi kok udah cantik aja?"


"Aku seperti ini 'kan karena kakak." sahut Audrey dengan senyum manis.


"Aku?"


Audrey mengangguk. "Ya, kakak tadi malam menggarap aku hingga larut tanpa tahu rasa lelah. Dan beginilah jadinya, aku harus keramas dan mandi pagi, selain itu aku juga ingin saat kakak bangun tidur diriku sudah wangi."


"Tanpa mandi kamu juga tetap wangi kok, sayang." Amman menarik gemas hidung Audrey.


"Ih, gombal!" Audrey menggeleng heran. "Oh ya, sebaiknya kamu segera bangun dan mandi karena aku sudah mencium aroma masakan. Mungkin kak Anisa sudah membuat sarapan."


"Benarkah? Baiklah, aku akan mandi agar Anisa tidak terlalu lama menunggu untuk sarapan bersama."


Audrey mengangguk dan Amman pun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, sebelum keluar dari kamar Audrey menyiapkan pakaian untuk Amman terlebih dahulu.


Sesampainya di dapur, dia masih melihat Anisa yang berkutat di depan kompor.


"Kak, bangunnya cepat sekali?" Audrey menyapa ketika sudah berada di belakang tubuh Anisa.


Anisa menoleh sejenak. "Aku sudah terbiasa bangun pagi, Audrey. Setelah selesai melakukan ibadah sholat aku langsung masak sarapan, itulah kebiasaanku ketika dirumah."


Audrey menatap masakan yang sedang Anisa olah. "Ya, jika diriku mohon dimaklumi saja kak. Aku tidak pernah memasak ataupun melakukan tugas rumah dari dulu waktu tinggal bersama dengan Papa sampai menikah dengan kak Amman."


Anisa hanya tersenyum. "Apa kamu ingin belajar memasak? Aku akan mengajarimu jika kamu mau." Anisa mematikan kompor.


"Ya, boleh juga. Aku ingin kak Amman memasak makanan yang diolah oleh tanganku sendiri."


"Itu lebih bagus, Audrey. Jika ingin memberikan makanan kepada suami, sebaiknya itu hasil olahan kita sendiri. Pasti rasanya akan berbeda dengan buatan orang lain." Anisa menjelaskan. "Kamu pernah dengan tidak, jika pepatah mengatakan dari makanan seseorang bisa jatuh cinta pada kita? Ya, karena perut kenyang hati pun senang, dan jika hati sudah senang maka cinta pun datang." lanjutnya dengan senyum tipis.

__ADS_1


Audrey hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman. 'Apa kak Nisa ingin membuat kak Amman jatuh cinta begitu? Tapi tidak perlu berusaha kak Amman juga sudah jatuh cinta dengannya, berbeda dengan aku yang harus berjuang untuk mendapatkan cintanya.' batin Audrey sambil menatap masakan Anisa.


Tanpa disadari, Amman yang sudah berada di belakang kedua wanita itu langsung tersenyum karena melihat keakraban kedua istrinya.


"Semoga tidak akan pernah ada masalah diantara kita bertiga, aku akan mencoba adil untuk kalian berdua.'' gumam Amman sambil berjalan ke arah dua istrinya.


"Selamat pagi, istri-istriku yang cantik." Amman menyapa sambil berdiri di samping Anisa.


Anisa dan Audrey menoleh sejenak.


"Eh, Mas. Kamu udah bangun? Sarapannya sebentar lagi selesai, kamu sudah lapar ya?" ucap Anisa.


Cup!


Amman mengecup pucuk kepala Anisa, saat ini Anisa tidak memakai hijab.


"Aku belum lapar karena aku sudah mendapat santapan tadi malam, kamu santai saja." ujar Amman sambil mengedipkan mata ke arah Audrey.


Audrey melotot tidak percaya dengan ucapan Amman.





**Anisa tanpa hijab.



ASSALAMUALAIKUM


TBC


HAPPY READING

__ADS_1


SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**


__ADS_2