
Satu minggu kemudian.
Anisa sama sekali tidak memperdulikan Zaky, padahal setiap hari Zaky selalu menghubungi dan menanyakan kabarnya.
Anisa hanya diam tanpa berniat sedikitpun untuk membalas pesan dari Zaky, dia tidak ingin terlibat masalah perasaan jika menjawab setiap pertanyaan atau ucapan Zaky. Anisa juga tidak ingin menjadi wanita pemberi harapan palsu.
"Nisa?" Amman duduk disebelah Anisa
Anisa menoleh dan tersadar dari lamunannya.
"Ada apa? Mengapa belakangan ini kamu sangat suka melamun dan menyendiri? Jika ada masalah kamu bisa katakan padaku." ucap Amman dengan lembut.
"Tidak ada masalah apapun, Mas." jawab Anisa dengan pelan. "Mas, setelah kandunganku berusia tujuh bulan aku ingin kembali ke Indonesia."
Amman mengerutkan dahi. "Indonesia? Kenapa kamu harus pulang ke negara itu? Disana semua kebahagiaan kamu direnggut, aku tidak ingin kamu merasakan kesedihan jika harus pulang ke Indonesia."
"Mas, aku mohon." Anisa berbicara dengan kata lirih, entah mengapa dia sangat ingin pulang dan melahirkan di Indonesia.
Ammar terdiam sejenak lalu tidak lama kemudian dia mengangguk. "Baiklah, aku akan menuruti kemauan kamu." lanjutnya sambil menggenggam jemari Anisa.
Anisa hanya diam saja, hatinya diselimuti oleh rasa bersalah sebab dia sudah masuk ke dalam rumah tangga Amman dan Audrey.
'Kamu adalah pria yang baik, Mas. Kamu tidak ingin membuat salah satu dari kedua istrimu bersedih, kamu benar-benar sangat mengerti perasaan seorang wanita. Aku yakin anakku nanti akan berada di tangan seorang Ayah yang tepat, kamu adalah sosok Ayah yang baik untuk anakku kelak. Jika kematianku memang sudah dekat, maka aku akan lega ketika meninggalkan anakku nanti bersama denganmu dan Audrey.' batin Anisa bersedih, air mata tidak bisa dibendung hingga menetes di pipi Anisa.
__ADS_1
Amman yang sadar langsung menghapus air mata Anisa dengan perlahan. "Jangan bersedih, aku akan menjagamu dan kita pasti akan pulang ke Indonesia. Aku mohon tetap jaga kandungan dan dirimu baik-baik, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian berdua." ucapnya sambil mengelus perut Anisa.
Anisa mengangguk dan mereka berpelukan. "Maaf karena aku belum bisa melayanimu, Mas."
"SST! Tidak masalah, ketika anak kita lahir maka aku bisa mendapatkan itu nanti." Amman tersenyum tipis sambil mengelus kepala Anisa yang tertutup hijab.
Dari kejauhan.
Audrey yang ingin menghampiri Amman hanya tersenyum tipis, dia mengurungkan niatnya untuk duduk bersama dengan Amman dan Anisa, Audrey tidak ingin menganggu kemesraan keduanya.
"Aku tidak akan iri karena kak Anisa adalah cinta pertama kamu dan dia sekarang juga sudah menjadi istri kamu, kak Amman." Audrey berbalik dan masuk ke dalam rumah.
πΊπΊπΊπΊ
"Kakak!" Celline duduk di samping Zaky dan dia menatap Zaky dari dengan lekat. "Kak, apa kau sakit?" Celline meletakkan punggung tangan di dahi Zaky.
Zaky hanya berdecak dan mendengus kesal. "Aku baik-baik saja." jawab Zaky dengan malas.
"Oh syukurlah, aku pikir kau sakit atau kesambet setan."
"Kau ini, enak sekali kalau bicara." Zaky merebahkan diri di sofa.
"Kak, hari ini weekend. Apa kau tidak ingin pergi ke suatu tempat? Mall, atau tidak kita jalan-jalan ke taman?''
__ADS_1
"Ide bagus." tiba-tiba Ammar muncul dengan sudah memakai pakaian olahraga.
Celline hanya tersenyum tipis karena melihat dada bidang Ammar dan otot-otot yang ada di lengan Ammar. 'Dia manis sekali.' batin Celline memuji Ammar.
Ammar berjalan menghampiri kedua sepupunya. "Apa kita bisa pergi sekarang?"
"Pergi kemana? Jika kalian berdua ingin pergi maka pergilah, aku sedang tidak mood hari ini." Zaky memejamkan mata sejenak.
"Ayolah brother, ada apa denganmu? Kau sudah seperti seorang wanita yang putus cinta." Ammar tersenyum tipis.
"Sudah, jangan menggangguku." Zaky beranjak dari sofa dan berniat untuk masuk ke dalam kamar.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA
YUK TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN KALIAN, TERIMA KASIH BANYAK π**.
__ADS_1