
Ammar dan Celline sedang berada di taman, mereka berdua bersenda gurau sambil melihat ponsel yang memutar video prank konyol.
"Lihat kak, dia sangat bodoh bukan? Sudah tau ada kolam malah berjalan mundur." Celline memegang perutnya karena tidak tahan dengan lelucon yang dia tonton.
"Sudah-sudah. Jika kita terus tertawa maka aku yakin pasti Aunty akan mengirim kita ke rumah sakit jiwa." Ammar mematikan ponsel dan menghentikan tawanya.
Mereka berdua meminum jus yang berada di meja.
"Kak, aku ingin bertanya sesuatu." Celline memasang wajah serius.
"Katakan." jawab Ammar dengan meletakkan gelas di atas meja.
"Sudah dua bulan kakak berada di sini, dan aku lihat banyak perubahan dari sikap kakak. Kakak tidak seperti yang Tante dan Paman katakan waktu itu."
Ammar menyandarkan tubuhnya di kursi. "Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa secepat ini berubah, mungkin karena faktor lingkungan."
Celline mengangguk. "Atau mungkin karena ada bodyguard kakak?" sambungnya sambil tertawa.
"Ck, sudahlah jangan bawa-bawa bodyguard sialan itu."
Tawa Celline semakin menjadi-jadi saat wajah Ammar terlihat ditekuk.
Beberapa saat tawa Celline reda dan dia mulai berbicara serius.
"Kak, lalu bagaimana perempuan yang kakak ceritakan waktu itu?"
Ammar mengingat sesuatu jika dia pernah bercerita pada Celline tentang Anisa, dia mengatakan jika pernah mengenal wanita cantik, Sholeha, tetapi sayang Ammar tidak pernah memperdulikan.
Ammar terpaksa berbohong karena tidak ingin sang adik sepupu tahu masa kelamnya, seluruh keluarga juga tidak mengatakan itu pada Celline karena mereka takut jika Celline akan menjauhi Ammar.
"Aku tidak tahu dimana dia sekarang."
"Lalu, jika kamu bertemu dengannya hal apa yang ingin kamu katakan?"
"Aku akan berkata jika aku mencintainya."
__ADS_1
Ammar menunduk, dia bingung dengan hatinya karena disatu sisi dia sangat menyesal telah membuat hidup Anisa sengsara tetapi disisi lain apakah Anisa mau menerimanya sementara Anisa sudah menjadi milik kakak kandungnya sendiri.
Berbeda dengan Ammar, Celline menatap Ammar dengan rasa putus asa. Dia tidak terima jika Ammar mencintai wanita lain karena dirinya sangat mencintai Ammar. Namun Celline berpikir lagi sebab Ammar tidak akan bisa dia kekang.
"Aku berdoa agar kakak bertemu dengan wanita bernama Anisa itu." ujar Celline meskipun hatinya merasa tidak terima.
Ammar hanya tersenyum tipis.
Mereka kembali mengobrol tentang hal lainnya.
🌺🌺🌺🌺
Malam ini adalah jatah Amman untuk tidur di kamar milik Anisa.
"Sayang, badan kamu sepertinya demam." Amman menempelkan punggung tangan di dahi Audrey. " Sebaiknya aku tidur disini dan mengatakan pada Anisa jika kamu sedang sakit dan butuh ditemani."
"Tidak, Mas! Pergilah, aku tidak pa-pa." Audrey menolak karena takut Anisa akan berpikir jika dirinya telah berbuat curang."
"Tapi Audrey, kamu—" ucapan Amman terpotong karena Audrey menempelkan jari telunjuk di bibir Amman.
"SST! Tidak ada tapi-tapi'an kak, pergilah ke kamar kak Anisa dan jika aku merasa butuh bantuan maka aku akan memanggil kakak." Audrey memasang senyuman.
"Berjanjilah padaku jangan diam saja jika kamu merasakan sakit ataupun butuh sesuatu.''
"Aku janji."
Amman pergi dari kamar itu, sementara Audrey memejamkan mata sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Semoga tidak terjadi sesuatu denganku, entah mengapa kepalaku sangat pusing." Audrey membaringkan tubuh dan dia berusaha tidur untuk melawan rasa denyut di kepalanya.
Di dalam kamar Anisa.
"Mas?" Anisa tersenyum ketika Amman memasuki kamar.
"Kamu belum tidur?'' Amman bertanya sambil berjalan menghampiri Anisa.
__ADS_1
"Belum, aku baru baca novel online di aplikasi Noveltoon dan Mangatoon."
"Benarkah? Jika aku setres mengatasi masalah pekerjaan maka aku juga sering membaca novel." balas Amman sambil duduk di samping Anisa.
"Berarti kita sama dong, Mas. Lalu bagaimana dengan Audrey?"
"Aku tidak tahu Audrey membacanya juga atau tidak. Tapi yang aku tau jika Audrey suka melihat majalah fashion serta kecantikan.''
Anisa hanya mengangguk.
"Lalu, novel siapa yang paling Mas suka?" Anisa menatap Amman dengan serius.
"Novel karya dari Mom AL yang berjudul Perjalanan Cinta Almaida. Ya, mungkin itu adalah genre wanita tetapi aku sangat suka membacanya karena dari sana kita dapat memetik hikmah yaitu jika sudah mempunyai istri sebaiknya jangan di sia-sia 'kan dan jangan pernah berpoligami jika istri tidak memberikan restu. Pasti kamu tau 'kan jika poligami tanpa restu istri? Berpoligami juga mengatakan kalau seorang suami harus bersikap adil seadil-adilnya."
Anisa mengangguk lagi.
"Itu novel udah tamat 'kan, Mas?"
"Sudah. Namun aku tetap membacanya meskipun novel itu sudah tamat, kamu sendiri suka novel yang mana?" Ammar merebahkan kepala di bantal.
"Aku sangat suka dengan semua karya dari Mom AL, dan aku saat ini sedang menyimak novel berjudul Cintai Aku, Istriku! Novel itu masih on-going dan juga bagus karena memberikan pencerahan bagi seorang suami bagaimana cara menuntun istri ke jalan yang baik, dan bagaimana cara menghormati seorang suami, lalu menjadi seorang pria yang tegas." jelas Anisa bergantian.
"Ternyata Mom AL mempunyai banyak karya yang menarik ya?" ujar Amman
"Benar, Mas. Aku selalu mengikuti novel baru dari Mom AL." Anisa tersenyum manis. "Kita doakan saja semoga Mom AL menjadi penulis terkenal dan karyanya banyak di gandrungi oleh semua kaum." lanjutnya.
Mereka berdua mengaminkan doa itu dan melanjutkan obrolan tentang isi novel karya dari Mom AL.
•
•
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏
ISI BAB INI MENGANDUNG IKLAN 🤗**