
Ammar telah sampai di kediaman milik Nindi, dia segera keluar dari mobil dan ternyata Nindi juga Celline sudah menunggunya di teras rumah.
Celline tersenyum karena melihat sang kakak sepupu yang sudah lama tidak dia temui.
"Aunty." sapa Ammar dan menunduk sopan di depan Anindira.
"Selamat datang di rumah Aunty, sayang." Nindi tersenyum tipis.
Maura menyusul Ammar dan dia berjalan mendekat ke arah ketiganya.
Nindi heran dengan seorang wanita yang satu mobil dengan Ammar.
"Mom, sepertinya di tengah jalan kak Ammar telah mendapatkan pasangan." sindir Celline dengan menatap Maura dari atas sampai bawah.
Wajah datar tanpa ekspresi milik Maura tetap terukir.
"Siapa namamu?" Celline bertanya tetapi Maura hanya diam saja.
"Kak, dia tidak mengerti bahasaku atau dia memang tidak bisa berbicara?" ucap Celline lagi.
"Dia bisa berbicara tetapi ekspresi nya memang seperti itu." jawab Ammar melirik Maura sekilas.
"Halo, aku Celline." Celline mengulurkan tangan kanannya.
Maura hanya diam saja tanpa menyambut uluran tangan Celline, dan hal itu membuat Celline menarik kembali tangannya.
"Ya, baiklah. Aku rasa kau tetap menjaga jarak seperti peraturan covid pada waktu itu, dan suaramu mungkin terlalu mahal untuk sekali bicara maka dari itu kau hanya diam saja." Celline jadi malu sendiri.
"Nak, siapa namamu?" akhirnya Nindi angkat suara.
"Maura." jawab Maura dengan singkat dan tetap datar.
"Wah, Mom! Dengan Mommy dia mau berbicara tetapi denganku dia hanya diam saja." Celline melotot tidak terima.
"Sudahlah Celline, perkataanmu bisa membuatnya menjadi pusing."
__ADS_1
"Saya adalah bodyguard Tuan Ammar." ucap Maura.
Mata Celline sukses mendelik. "B—bodyguard? Jadi bodyguard kak Ammar seorang wanita? Aku tidak menyangka."
"Ammar, Aunty mendengar dari Ayah kamu jika mereka mencarikan seorang bodyguard untukmu di negara ini. Kedua orangtuamu takut kamu berulah, tetapi Aunty tidak menyangka jika bodyguard untukmu adalah seorang wanita dan sangat cantik." puji Nindi pada diri Maura.
"Huft! Sudahlah, Aunty. Aku tidak ingin membahas masalah dia lagi." Ammar melirik Maura sekilas.
"Ya sudah, kamu masuk dulu dan istirahatlah. Aunty yakin kamu pasti sangat lelah, kamar kamu sudah Aunty rapikan dan kamu pasti tahu dimana kamar itu." jelas Nindi.
Ammar masuk ke dalam rumah disusul oleh Celline.
Sementara di teras rumah, Nindi mengajak Maura duduk di kursi karena Nindi ingin mengobrol sebentar dengan bodyguard sang keponakan.
Di dalam rumah.
Ammar terus berjalan menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan kamar, dia langsung masuk ke dalam kamar tersebut dan ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
Celline membuntuti Ammar dari belakang, Ammar yang sudah lelah tidak mendengar suara pintu yang di buka dari luar.
Ammar tersungkur di ranjang dan dia sangat terkejut dengan kelakuan sang adik sepupu.
"Celline, kamu ini sudah besar!" Ammar menegakkan tubuh kembali ketika Celline turun dari gendongannya.
"Haha.. Maaf kak, aku sangat rindu dengan kakak. Sudah lama kita tidak bertemu dan sekarang kakak semakin tampan." Celline tersenyum tipis.
"Kamu ini, seperti tau arti tampan saja." Ammar duduk di pinggir ranjang.
"Tentu saja aku tau, tampan itu seperti kakak." Celline memandang wajah Ammar dengan seksama, ada getaran yang berbeda di dalam hatinya ketika menatap wajah itu dengan sangat dalam.
Ammar tersenyum sambil menggeleng dan dia melepaskan sepatunya, dirinya tidak tau jika Celline menatapnya dengan serius karena posisi Ammar saat ini sedang menunduk.
"Sudahlah, sebaiknya kamu keluar karena aku ingin segera istirahat." perintah Ammar mengusir Celline agar keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Kakak mengusirku? Sungguh keterlaluan, kakak ternyata tidak merindukan aku." Celline memasang wajah melas.
"Hei, kenapa kamu memasang wajah jelek itu? Hm. Tentu saja aku sangat merindukan adik kecilku ini." Ammar mengacak rambut Celline dengan perlahan. "Saat ini aku sangat lelah, jadi pergilah dari kamarku karena aku ingin istirahat sejenak." lanjutnya.
Celline mengerucutkan bibir.
Ammar tersenyum melihat wajah sang adik yang sangat menggemaskan.
"Aku bilang jangan pasang wajah jelek ini." Ammar mencubit kedua pipi Celline. "Aku istirahat dulu setelah itu baru kita mengobrol, hm?"
"Janji ya?" Celline mengacungkan jari kelingking.
"Janji." Ammar menautkan jari kelingking itu.
"Yes! Baiklah, aku akan keluar dari kamar ini." Celline melangkah pergi.
"Jangan menggangguku, ingat!" peringatan yang Ammar berikan karena sedari dulu jika dia masih tidur, Celline pasti selalu mengganggunya.
"Ya, jika aku mengingatnya!" Celline tertawa dan dia langsung menutup pintu kamar.
Setelah Celline keluar, Ammar hanya tersenyum tipis dan menggeleng.
"Meskipun sudah besar tetapi sifatnya masih seperti anak-anak."
Ammar merebahkan dirinya di ranjang empuk itu dan dia segera memejamkan mata.
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏.
🏵️🏵️🏵️🏵️
__ADS_1
O HALO, MAMPIR KE NOVEL TEMAN AKU JUGA YUK 🤗 JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN DISANA 🥰**