JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 52 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Sore hari.


Mona sedang berada di balkon kamar, terlihat dia sedang menghubungi seseorang.


"Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang dirinya?"


πŸ“²"Semua beres, Bos. Kami sudah tau dimana tempat tinggal pria itu, alamatnya xxxx dan jalan Cempaka." ucap sang pria memberitahu.


"Kerja bagus, aku akan memata-matai dia dan akan terus mengikuti setiap pergerakannya. Bayaran untuk kalian akan ku transfer jika tugas kalian sudah selesai."


πŸ“²"Siap, Bos. Tidak masalah bagi kami."


Sambungan pun langsung Mona matikan.


Dia berjalan masuk ke dalam kamar, langkahnya terhenti tepat di dinding yang terdapat foto pria dan wanita.


"Aku pastikan kali ini kau akan menjadi milikku, Zaky Alexander." Mona tersenyum licik.


Mona adalah kakak dari Alina mantan kekasih Zaky yang tiada dalam kasus pembunuhan, Mona sangat iri dengan Alina sang adik karena Alina selalu menang dan lebih unggul darinya maka dari itu Mona terus mencari cara agar bisa menyingkirkan Aluna.


Tepat saat itu Aluna sedang pergi keluar makan malam bersama dengan Zaky, ditengah jalan mobil Zaky berhenti karena tiba-tiba ada dua orang pria yang muncul di depan mobil tersebut.


Saat Zaky dan Alina turun, ternyata kedua pria itu langsung menembak Alina dan salah satu dari mereka memegang tangan Zaky lalu memberikan pistol kepada Zaky seakan-akan Zaky lah pembunuhan Alina.


Zaky heran sekaligus terkejut dengan kedua pria yang tidak dia kenal itu, dirinya melemparkan pistol dan langsung menghampiri tubuh Alina yang sudah bersimbah darah dan detak jantungnya sudah berhenti.


Alina adalah cinta pertama Zaky hingga saat ini Zaky tidak pernah memiliki kekasih dan hanya Alina-lah yang pernah menjadi kekasihnya, Zaky sangat terpuruk padahal mereka sebentar lagi akan tunangan tetapi Alina pergi dengan cepat meninggalkannya.


Mona mengusap foto Zaky dan dia mencium foto tersebut.


"Kau hanya milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku." gumam Mona dengan penuh penekanan.


🌺🌺🌺


Ammar telah sampai di bandara, Aresha mengatakan jika Ammar harus menjemput anak dari Paman Leon. Sebenarnya Ammar sangat malas menjemput anak Leon di bandara tetapi ini adalah permintaan sang Mama dan dia tidak bisa menolaknya.


"Padahal aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Putriku, mengapa harus aku yang menjemput anak Paman Leon? Harusnya sopir atau biarkan saja dia naik taksi." Ammar terus saja menggerutu di dalam mobil.


Dia menelepon nomor milik Adisti.


Tut Tut.


Panggilan terjawab.


"Aku Ammar anak Mama Aresha, kau ada dimana? Aku sudah menunggumu di dalam mobil tepat depan lobi bandara."


πŸ“²"Aku sudah berada di lobi, mobilmu warna apa? Sangat banyak mobil hingga akuβ€”" ucapan Adisti terpotong karena Ammar menyelanya dengan cepat.


"Tidak perlu banyak bicara, mobilku BMW berwarna silver. Cepat masuk ke dalam atau aku akan meninggalkanmu di bandara ini."

__ADS_1


Ammar langsung mematikan sambungan telepon.


"Halo! Halo!" Adisti menatap layar ponselnya yang sudah menghitam sambil mendengus kesal. "Sangat menyebalkan, apa dia tidak bisa menungguku sebentar saja?" lanjutnya dengan membuang nafas kasar.


Adisti mulai mencari mobil yang Ammar katakan.


"Sepertinya itu mobil yang dia katakan tadi, disini tidak adalagi mobil BMW berwarna Silver selain itu." ucap Adisti bergegas menghampiri mobil yang dia yakini bahwa itu adalah milik Ammar.


Tok tok tok.


Adisti mengetuk jendela mobil.


Ammar yang sedang bermain ponsel langsung mematikan ponselnya dan melihat keluar jendela.


Dia membuka pintu dan memberikan kode agar Adisti segera masuk.


"Apa kau Ammar?"


"Hm, cepat masuk." ucap Ammar singkat.


Adisti segera masuk dan Ammar melajukan mobil pergi dari area bandara.


Dua puluh lima menit kemudian.


Mobil Ammar telah sampai di halaman rumah Arsalaan, dia segera keluar dari mobil dan dengan rasa tidak sabar langsung masuk ke dalam rumah. Dia sangat merindukan putri kecilnya.


Adisti menyusul Ammar masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam.


Ammar melihat sang Mama yang sedang menggendong Deana.


Aresha tersenyum ketika melihat Ammar dan seorang gadis cantik yang berjalan di belakang Ammar sambil menarik kopernya.


"Oh, anak Ayah." Ammar mengambil alih Deana dari tangan sang Mama. "Kamu udah mandi ya?"


Cup


Ammar mengecup pipi gembul Deana. "Udah wangi, pasti mandinya sama Oma. Iya 'kan?" lanjutnya sambil tersenyum ketika melihat Deana membuka matanya.


Aresha sangat bersyukur karena Ammar sudah mencoba untuk berubah menjadi lebih baik dan menjaga Deana dengan sepenuh hati.


"Selamat sore, Tante." sapa Adisti ketika sudah berada di dekat Aresha.


"Selamat sore. Selamat datang di rumah Arsalaan, semoga kamu betah tinggal dirumah ini." sahut Aresha dengan diselingi senyum tipis.


"Mudah-mudahan, Tante.'' mata Adisti beralih menatap Ammar yang sedang menggendong bayi mungil. "Apa dia anak Tuan Ammar?".


"Adis, jangan panggil dia Tuan. Kamu bisa memanggilnya dengan nama saja atau tidak panggil dia dengan awalan kak." pinta Aresha dengan lembut.

__ADS_1


Adisti hanya tersenyum kaku.


"Dia putri Ammar, namanya Deana dan usianya baru dua hari."


'Baru dua hari? Pantas saja Ammar tadi seperti terburu-buru, ternyata dia sangat merindukan putrinya. Tapi, mengapa aku tidak melihat istrinya Ammar?' batin Adisti bertanya-tanya tetapi dia enggan untuk mengatakan pada Aresha.


"Adisti, sebaiknya kamu istirahat dikamar. Tante yakin pasti kamu lelah."


Adisti mengangguk sekilas.


"Ayo, Tante antar."


Mereka berdua berjalan menaiki anak tangga sambil mengobrol ringan.


"Kamu makin cantik ya?'' ucap Aresha pada Adisti.


"Terima kasih, Tante. Tante bisa saja." jawab Adisti dengan tersipu.


Ammar tidak mempedulikan sang Mama dan Adisti yang sudah berjalan menjauh, dia hanya terus menatap ke arah Putrinya yang sangat imut.


🌺🌺🌺


Maura dan komandan Alpa masih terus menatap layar yang menjadi tempat pengintaian mereka.


"Komandan, mengapa belum ada tanda-tanda perampok itu datang ke tempat ini? Kita sudah hampir satu harian berada disini, apa tidak sebaiknya kita pulang terlebih dahulu dan mengubah strategi?"


"Setelah matahari sudah berganti dengan bulan barulah kita akan pergi dari tempat ini. Aku yakin perampok itu pasti sudah merencanakan sesuatu sehingga dia bisa tau jika kita akan menangkap basah dirinya." ucap sang Komandan tanpa mengalihkan pandangan dari layar besar itu.


Maura hanya diam saja sambil terus mengikuti arah mata Komandan.


Tes satu dua.


Bunyi earphone yang ada di telinga Komandan.


Masuk anggota satu. (jawab Komandan)


Lapor Komandan! Brangkas nomor lima belas sudah kosong dan sepertinya perampok itu sangat lihai dalam membobol brangkas tersebut. (laporan dari anggota.1)


Maura terkejut dengan ucapan anggota itu, dia masih berpikir keras tentang bagaimana bisa dan bagaimana mungkin perampok itu dengan mudah pergi serta membobol brangkas tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


'Ini sangat aneh, bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi semudah itu? Aku yakin perampok itu bukanlah orang biasa dan bisa saja dia mempunyai ilmu hitam.' batin Maura menduga.


β€’


β€’


**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK πŸ™


YUK BERIKAN VOTE, RATE🌟5, HADIAH SERTA BANTU TAP FAVORITNYA πŸ€— SEMOGA DUKUNGAN KALIAN BISA MENJADI BERKAH, AMINN**...


__ADS_2