JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 62. Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Zaky dan Maura telah berada di sebuah gedung kosong yang menjadi tempat janjian mereka dengan Mona.


"Maura, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu. Tolong pikirkan lagi, jangan sampai Mona berhasil menghancurkan hubungan kita. Apa kamu lupa jika kita akan menikah? Tolak saja permintaan Mona, kamu tidak perlu meladeni wanita gila itu." Zaky terus membujuk Maura agar berubah pikiran.


Flashback off.


Saat Zaky dan Maura sedang memilih makanan serta barang-barang antik yang ingin mereka bawa pulang, terlihat Mona berjalan menghampiri Zaky dan Maura.


Entah bagaimana dirinya bisa ada di negara yang sama dengan Zaky, mungkin kenekatan Mona yang terus memata-matai kemanapun Zaky pergi.


"Halo, Tuan Zaky Alexander."


Sontak Zaky dan Maura menoleh bersamaan.


Dahi Maura mengerut karena dia tidak mengenal wanita seksi itu, sementara Zaky terkejut karena melihat mantan calon kakak iparnya yang sedang berada di hadapannya saat ini.


"Kau?" ucap Zaky dengan rasa kaget.


Mona hanya menyunggingkan senyum tipis. "Apa kabar, Zaky? Aku lihat kau sudah menemukan pasanganmu ya?" ucapnya seraya melirik Maura dengan sinis.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini?"


"Aku sedang mencarimu."


Zaky dan Maura hanya saling pandang.


Mona merogoh tas dan dia mengambil sesuatu yang berada di dalam tas tersebut.


Sebuah surat, Mona menyodorkan surat itu kepada Zaky.


"Apa ini?" Zaky bertanya tanpa berbuat mengambil kertas dari Mona.


"Lihatlah sendiri."


Zaky pun terpaksa menerima surat tersebut, dia segera membaca tulisan yang tertera di surat itu.


Beberapa detik kemudian.


Zaky meremas kertas hingga kertas itu tidak berbentuk. "Apa-apaan ini? Aku tahu jika ini semua hanyalah akal busukmu!" teriaknya dengan melempar kertas itu.


Mona hanya tersenyum tipis. "Itu adalah amanah terakhir dari Alina, jika kau tidak mau memenuhinya maka terserah. Aku sudah menyampaikan pesan dari Alina sebelum kecelakaan itu terjadi."


Zaky menatap Mona dengan tajam. "Aku tahu jika dirimu-lah yang sudah menyebabkan Alina meninggal!"


Mona mendelik. "Kau jangan asal menuduh! Apa buktinya jika aku yang sudah sengaja mencelakai Alina?" ucapnya tidak terima.


"Aku memang tidak punya bukti tetapi aku mempunyai feeling jika kaulah yang iri dengan kehidupan Alina." Zaky menunjuk wajah Mona.


Mona mencoba menahan emosinya. "Terserah! terserah jika kau tidak ingin memenuhi keinginan Alina sebelum dia meninggal! Tapi ingat Zaky, aku akan selalu menganggu hidupmu dan tidak akan membiarkan kau hidup bahagia di atas kematian Alina." Mona berkata dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Mona membalikkan badan untuk pergi dari hadapan Zaky tetapi Maura mencegahnya.


"Tunggu!"


Mona menghentikan langkah dan dia menoleh kebelakang.


Terlihat Maura berjalan mendekati Mona. "Kenapa kau harus mengganggu hidup kami? Alina tiada karena itu memang sudah ajalnya."


"Hei! Tau apa kau? Sebaiknya kau diam dan jangan ikut campur dengan urusan ini."


"Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur jika kau dengan mudahnya mengancam calon suamiku."


'Calon suami? Itu tandanya, dia bukan hanya sekedar kekasih Zaky tetapi dia adalah calon istrimu Zaky. Sial! Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memikirkan cara untuk membuat Zaky berpisah dari wanita ini. Akulah yang pantas bersanding dengan Zaky.' batinnya dengan percaya diri yang tinggi.


"Baik, aku tidak akan menganggu kalian tapi dengan satu syarat." Mona akhirnya mendapatkan ide.


"Katakan." sahut Maura dengan singkat.


"Kita harus adu kekuatan, jika aku menang maka kau harus meninggalkan Zaky dan biarkan dia menikah denganku seperti yang tertulis di surat wasiat Alina."


"Itu bukan tulisan Alina, aku yakin jika itu adalah jiplakan dari seseorang." bantah Zaky dengan kesal.


"Kau bilang itu bukan tulisan Alina? Apa kau lupa seperti apa tulisan kekasihmu itu, hah?"


Zaky terdiam karena Maura menggenggam tangannya sebagai kode agar Zaky tidak meneruskan ucapannya.


"Bagaimana?" Mona kembali menatap Maura dengan senyum tipis.


Mona mengangguk, dia sangat yakin jika dirinya akan menang dari Maura.


"Deal." Mona mengulurkan sebelah tangan.


"Deal!" jawab Maura dengan menjabat tangan Mona.


Setelah jabatan terlepas, Mona langsung pergi dari hadapan Maura dan dia telah memberikan tempat yang akan menjadi saksi pertarungan mereka berdua.


Saat Mona menjauh, Zaky langsung menarik Maura dan dia menatap mata Maura dengan lekat.


"Drama konyol macam apa ini?" ucapnya tidak suka.


"Zaky, ini demi kebaikan kita berdua."


"Tapi tidak seperti ini, Maura! Aku bukanlah piala yang wajib diperebutkan apalagi harus dijadikan taruhan. Aku hanya mencintaimu dan aku tidak akan menikah dengan siapapun selain dirimu."


Maura tersenyum tipis, dia memegang pipi sebelah kiri milik Zaky.


"Percayalah padaku, kamu hanya perlu mendukungku agar aku semangat menjalani taruhan ini."


Zaky hanya mampu menghela nafas berat. "Tapi dia adalah seorang petinju wanita yang sangat handal, Maura. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu nantinya."


Maura menggeleng. "Apa kamu juga lupa siapa aku? Aku adalah Maura dan tidak mudah mengalahkanku, aku yakin jika aku bisa mengalahkan perempuan psyco itu . Aku hanya butuh dukungan tulus darimu, jika aku menang maka kita akan hidup dengan damai tanpa bayang-bayang dari orang lain."

__ADS_1


Zaky memeluk tubuh Maura. "Baiklah, aku akan berdoa dan selalu mendukungmu."


Flashback on.


Disinilah mereka berada, sedang menunggu kedatangan Mona yang sampai saat ini belum kelihatan batang hidungnya.


Tap


Tap


Terdengar suara sepatu berjalan mendekati mereka.


Mona hadir dengan senyum terbaik yang dia punya.


"Akhirnya kalian datang juga." ucapnya sambil tersenyum.


"Tentu saja aku datang karena aku tidak suka ingkar janji." sahut Maura dengan tegas.


Mona hanya mengangguk. "Apa kau sudah siap? Dan Zaky, apa kau juga sudah siap untuk menjadikan aku sebagai istrimu?"


'Cuih! Bahkan melihat wajahmu saja aku sudah muak, bagaimana mungkin aku bisa menjadikanmu sebagai istri.' batin Zaky tanpa berniat menjawab ucapan Mona.


"Tidak perlu basa-basi, mari kita mulai pertarungan ini."


"Wah-wah, ternyata kau tidak sabaran ya? Baik, ayo maju." Mona mengambil ancang-ancang.


Maura melepaskan genggaman tangannya yang berada di genggaman Zaky.


Maura mulai maju dan menyerang Mona, ternyata gerakan lihai dari Maura dapat Mona hindari.


Maura berhenti sejenak. 'Jangan membuang tenaga, jika lawanmu sudah terlihat lelah maka kau bisa langsung hancurkan dia.' itulah nasihat dari Bisma untuk Maura.


"Kenapa berhenti? Hanya segitu saja ilmu beladirimu? Aku tidak menyangka jika kau pandai dalam ilmu beladiri." Mona seperti mengejek Maura.


"Apa kau merasa takut?" Maura berkata dengan tenang.


"Tidak ada kata takut dalam kamusku."


Haiya


Mona langsung menyerang Maura, sementara Maura hanya menghindar dan sesekali membalas pukulan dari Mona.




**TBC


HAPPY READING


YUK BERIKAN DUKUNGAN SERTA JEJAK MANISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK 🙏**


__ADS_2