
Malam ini Amman dan Audrey akan pergi ke pesta rekan kerja Amman.
"Sayang, sudah selesai belum?" Ammar berteriak dari lantai bawah, dia sedang bersama dengan Dilan.
"Iya sebentar!" teriak Audrey menyahut dari dalam kamar.
Tak
Tak
Bunyi suara Hells Audrey yang melangkah menuruni anak tangga.
"Maaf, lama ya kak?" Audrey berkata dengan puppy eyes.
Meskipun sudah mempunyai anak tetapi Audrey masih tetap manja kepada Amman.
"Tidak heran lagi karena kaum wanita pasti paling lama kalau bersiap untuk pergi kemanapun."
Audrey hanya tersenyum. "Udah ayo, nanti kita terlambat."
Bukannya menggandeng tangan sang suami, Audrey malah menggandeng tangan Dilan dan mereka berjalan terlebih dahulu meninggalkan Amman.
"Aku sudah menunggunya lama tetapi aku malah dilupakan. Memang istriku!" Amman bergegas menyusul Istri dan anaknya.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan mobil pun pergi melaju ke tempat pesta.
Beberapa menit kemudian.
Sampailah mereka di pesta itu.
"Ayo sayang." Audrey menggandeng lengan Amman sementara Amman menggendong sang Putra.
Baru saja masuk ke dalam gedung resepsi, sudah banyak teman kerja Amman yang menyapa dan Amman pun mengenalkan Audrey pada teman-teman bisnisnya.
Audrey menyapa mereka dengan ramah, dia pun membiarkan Amman mengobrol dengan rekan kerjanya sementara Audrey memilih mengobrol dengan istri rekan kerja Amman.
"Jeng ini istrinya Tuan Amman ya?''
Audrey mengangguk. "Benar, Nyonya. Perkenalkan saya Audrey."
Mereka berkenalan dan berjabat tangan.
"Istri Tuan Amman cantik ya? Masih muda lagi." Ibu itu tersenyum ramah ke arah Audrey. "Jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya ya, Jeng? Panggil saja Jeng Meri."
"Oh, i—iya, Jeng Meri." jawab Audrey kikuk.
Memang Audrey lihat usia mereka hanya terpaut tiga tahun saja karena Meri masih muda dan anaknya juga baru satu.
Mereka akhirnya berbincang dan ada Istri lainnya ikut gabung bersama mereka.
Tak lama kemudian.
Para ibu-ibu itu berbisik ria ketika melihat seorang wanita cantik dengan gaun yang sangat terbuka sedang memasuki gedung resepsi.
"Eh, itu yang di isukan punya hubungan gelap dengan suami Jeng Vera bukan?" bisik salah satu ibu itu.
"Benar, apa dia tidak malu memakai pakaian pas body dan terbuka seperti itu? Lihat, potongan dadanya juga rendah sekali." sahut yang lainnya.
Audrey melihat ke arah wanita yang sedang ibu-ibu itu gosipkan, memang terlihat sangat terbuka dan seksi pakaian yang wanita itu pakai.
Wanita yang mereka gosipkan adalah Susan, sekretaris seksi yang gosipnya sudah tersebar dimana-mana jika dia mempunyai hubungan gelap dengan sang bos.
Susan melihat kesana-kemari dengan angkuh dan elegan, dirinya tersenyum ketika melihat sosok Amman dari kejauhan.
"Itu Tuan Duda." ucapnya segera menghampiri Amman.
"Eh eh, mau kemana dia itu?''
__ADS_1
"Paling juga cari mangsa."
Para ibu-ibu tersebut masih berbisik riang.
Audrey mengerutkan dahi ketika melihat wanita tersebut menghampiri Amman.
'Kok dia menghampiri kak Amman? Apa mereka saling kenal?' batin Audrey takut dengan gosip ibu-ibu itu.
Pikiran Audrey saat ini kacau, dia terus melihat gelagat aneh sang wanita seksi.
"Loh, Jeng Audrey! Lihat, dia menghampiri suamimu." ucap Ibu Meri.
"Hati-hati loh, Jeng. Jaga suami kamu." sambung Ibu Jihan.
Audrey hanya melihat dari kejauhan apa yang akan wanita itu lakukan.
"Permisi, Tuan." sapa Susan ketika sudah berada di dekat Amman.
Amman melirik ke samping dan dahinya mengerut.
"Hai, Tuan. Apa Anda masih mengingat saya?" ucap Susan dengan lembut diselingi senyum manis.
"Wah wah, saya pikir Tuan Amman setia tetapi ternyata mau nikung juga." sindir salah satu rekan kerja Amman.
"Saya tidak mengenal Anda." sahut Amman dengan tegas dan dingin.
"Kita pernah bertemu di Mall saat berebut sepatu."
Amman mengingat kejadian kemarin siang.
"Anda mengingat saya bukan?"
Amman hanya terdiam.
"Tuan Amman, kenapa diam saja?" ucap Tuan Ronald.
Audrey menggeleng, dia tidak ingin suaminya kecantol oleh janda kega*elan itu. Dirinya menggandeng tangan Dilan dan bergegas menghampiri sang suami.
Amman menoleh dan dia tersenyum ketika melihat keberadaan Audrey.
Susan heran dengan kedatangan wanita muda di belakangnya yang mampu membuat Amman tersenyum.
"Apa sudah selesai mengobrolnya?" Audrey bertanya dengan manis.
"Sudah, apa kamu ingin mengucapkan selamat kepada anak Tuan Arnold?"
"Tentu, bukankah kita datang kesini untuk memberikan selamat bukan untuk menggoda seseorang." sindiran pedas Audrey katakan untuk Susan.
Amman berpamitan pada semua rekan kerjanya dan dia membalikkan badan.
"Tuan!" tanpa malu, Susan berani memegang tangan Amman.
Audrey refleks menghempaskan tangan Susan yang berada di pergelangan tangan Amman.
"Jangan pernah menyentuh suamiku!" ucap Audrey penuh penekanan, dia sengaja mengatakan suamiku dan itu tandanya Audrey mengeklaim jika Amman adalah miliknya.
'Suami? Berarti dia beristri? Sial, aku pikir dia adalah seorang duda.' Susan bersungut dalam hati.
"Ayo sayang, saat tiba di rumah kamu harus mencuci tanganmu dengan bersih agar terhindar dari virus dan kuman." ucap Audrey kepada Amman sambil melirik Susan tajam.
Mereka berdua pergi dari hadapan Susan, terlihat Susan mengepalkan kedua tangan karena merasa malu. Dia tidak menyangka jika Audrey tahu sisi gelapnya.
🌺🌺🌺
--------DUA BULAN KEMUDIAN--------
Jodoh itu memang Allah yang mengatur, siapa dan bagaimana sifatnya. Tetapi bagaimana jadinya jika jodohmu adalah saudaramu sendiri?
__ADS_1
Itulah yang saat ini Celline pikirkan, dia sangat mencintai sepupunya dan berharap sepupunya itu akan menjadi jodohnya kelak.
Mungkin sebagian orang mengatakan jika harapan Celline itu gila karena dia ingin menikah dengan sepupunya sendiri.
Di tengah keramaian, Celline hanya diam merenung padahal hari ini adalah hari bahagia sang kakak yaitu pernikahan.
Celline hanya menatap para tamu undangan tanpa berniat untuk mengobrol.
Beberapa menit kemudian.
Waktunya pelemparan bunga, kegiatan ini meyakinkan bahwasannya siapa yang menangkap bunga tersebut maka dia akan segera menikah, menyusul sang pengantin.
Celline sudah berdiri di tengah-tengah ramainya Bridesmaids yang lain, sementara Ammar hanya menatap para orang-orang yang berkumpul menunggu lemparan bunga itu.
"Andaikan saja aku dan kak Ammar tidak saudara, maka aku pasti berdoa agar aku dan kak Ammar-lah yang menangkap bunga ini." gumam Celline sambil melamun dan tanpa sadar bunga pun telah di lempar.
Ammar yang melihat Celline hanya diam saja sementara bunga mengarah kedepannya, dia langsung berlari dan ingin menangkap bunga itu agar tidak mengenai wajah sang adik sepupu.
Tubuh Celline seperti ingin terjatuh lalu dia berpegangan pada tangan seseorang yang tanpa dia sadari ternyata itu adalah tangan Ammar.
Mereka berdua memegang bunga secara bersamaan, mata keduanya saling bersitubruk dan memandang dengan lekat.
Ammar segera memutuskan pandangan, entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat melihat mata indah milik Celline dengan tatapan dalam.
Semua mata menatap ke arah mereka berdua, Aresha dan Nindi membekap mulut masing-masing.
"Kak?" Nindi menyenggol lengan Aresha.
"Dek, apa-apaan ini?" sahut Aresha dengan bingung harus bicara apa.
Kedua Ibu itu hanya mampu diam dan menatap ke arah anak mereka.
Adisti yang melihat itu segera mendekat ke arah Ammar dan Celline.
"Hai, kenapa kalian berdua hanya diam saja?" ucapnya memecahkan keheningan dan membubarkan tatapan mata semua orang.
"Ini, untukmu." Ammar menyerahkan bunga itu kepada Celline.
"Tidak perlu kak, berikan saja kepada kak Adisti."
Ammar menyodorkan bunga tersebut kepada Adisti dan tentu saja Adisti dengan senang hati menerimanya.
"Terima kasih." Ucap Adis dengan senyum senang.
Celline segera pergi dari area pesta, entah mengapa hatinya terasa gunda gulana, ada rasa bahagia dan rasa sedih.
Celline duduk di kursi yang jauh dari area resepsi, air matanya pun luruh membasahinya pipi mulusnya.
"Hiks, bagaimana bisa aku berpikiran untuk menikah dengan kak Ammar? Aku yakin jika kakak Ammar tahu pasti dia akan sangat membenciku." Celline menghapus air matanya dengan kasar.
Tanpa Celine sadari ternyata Ammar berada di belakangnya dan Ammar mendengarkan jelas apa yang bagusan Celline katakan.
'Celline mencintaiku? Benarkah? Aku tidak mungkin salah dengar.' batin Ammar lalu segera pergi meninggalkan Celline.
Dia yang awalnya ingin menemani Celline akhirnya di urungkan karena mendengar perkataan Celline tadi.
**Pawang Tuan Amman ❣️
•
TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK 🥰
BANTU VOTE DAN RATE 🌟 5 YA ❣️**