JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 63. Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Mona terjatuh karena Maura menendangnya dengan sangat kuat, dirinya bangun dan mengambil sesuatu dari balik badannya.


Mona dengan cepat menggores lengan Maura menggunakan pisau.


sret.


"MAURA!" teriak Zaky takut.


Maura terdiam dengan memandangi lengannya yang tergores, darah mengucur dari sana. Mata Maura memerah, rahangnya mengeras, giginya bergemerutuk, kedua tangannya terkepal kuat dan hatinya sudah sangat terpancing emosi.


"Kau berbuat curang, Nona." ujar Maura dengan nada menakutkan.


Tanpa berbasa-basi, Maura langsung menghajar Mona. Dirinya berhasil menghindar dari ancaman pisau yang Mona tuding 'kan.


Bugh.


Bugh.


Mona terjatuh dengan lebam di wajah dan darah segar yang menetes dari sudut bibir.


Pisau saat ini sudah berada di tangan Maura, dia mendekat dan menatap Mona dengan remeh.


"Bukankah kau juga ingin melenyapkan aku? Kau benar-benar curang! Jadi, apa kau masih ingin melawanku atau kau sudah menyerah?" Maura menepuk pisau yang ada di tangannya.


Mona hanya diam saja dengan tatapan tajam ke arah Maura.


Maura mengarahkan pisau itu ke Mona seperti ingin berniat menusuknya.


"Aku mengakui kekalahan." Mona mengangkat kedua tangannya.


Maura pun melempar jauh pisau yang tadi dia pegang. "Bagus, kau harus ingat dengan persyaratan kita. Pergilah dari hidupku dan Zaky, jangan pernah menganggu kami lagi. Jika kau masih berani mengusik kami, maka bisa aku pastikan kau tidak akan bisa lagi melihat indahnya senja di sore hari."


Mona berdiri. "Aku akan pergi." lanjutnya dengan tatapan tidak terima, dia pergi berlalu dari hadapan Maura dengan langkah gontai.


Maura memejamkan mata sejenak, dia menghela nafas pelan.


"Sayang?" Zaky memanggil sambil menghampiri Maura.


Zaky pun dengan cepat melihat lengan Maura yang masih mengeluarkan darah. "Ayo, kita obati lukamu jangan sampai menjadi infeksi."


Mereka berdua berjalan ke mobil.


Di dalam mobil.


Zaky mengeluarkan kotak obat, dia merasa jika Maura benar-benar wanita yang sangat tangguh dan kuat.


"Aku tidak menyangka ada wanita sepertimu."


Dahi Maura sukses mengerut. "Aku? Memangnya mengapa denganku?"


"Lihatlah, lenganmu terluka dan kamu hanya bereaksi biasa saja." Zaky membantu Maura mengobati lukanya.


Maura mengambil alih dan dia membersihkan lukanya sendirian. "Ini sudah biasa bagiku, bahkan dulu aku pernah di operasi karena peluru yang masuk ke dalam tubuhku. Saat itu aku membantu klan atas untuk menghancurkan musuh mereka, tetapi karena memang sudah apesku sebuah peluru menembus punggungku."


Zaky tercengang mendengar penuturan Maura. 'Dia wanita tapi sangat kuat dan hebat. Aku jadi malu, mungkin aku tidak kuat sepertinya. Setelah menikah nanti aku pasti akan banyak belajar ilmu beladiri agar tidak kalah dengan Maura. Aku tidak ingin semua mengatakan jika Maura-lah yang menjagaku, bukan aku yang menjaganya sementara aku adalah seorang pria.' batin Zaky bertekad.


"Kenapa kamu melamun? Bantu aku mengikat perban ini." Maura menyodorkan tangannya.

__ADS_1


Zaky pun membantu Maura, dia membalut luka Maura menggunakan perban.


🌺🌺🌺🌺


Hari ini Amman sengaja libur karena dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Putra dan istrinya.


Terlihat Amman dan Dilan sedang duduk di kursi meja makan.


"MAMA!" teriak keduanya dengan kompak.


Audrey yang sedang membuat sarapan hanya mampu menghela nafas. "Ayah dan anak itu sama-sama tidak sabaran." gumamnya sambil menggeleng.


Audrey kembali ke meja makan dengan membawa semangkuk nasi goreng ayam kampung.


"Tada! Nasi goreng selesai.'' ujarnya meletakkan nasi goreng di meja.


"Eum, yummy." ucap Dilan dengan jelas.


"Ayo dimakan, bukankah tadi kalian tidak sabar untuk segera sarapan?"


Amman dan Dilan langsung menyantap nasi goreng buatan Audrey.


Audrey sering ikut kelas masak, jadi dia selalu membuatkan makanan ataupun memasak untuk suami dan anaknya. Audrey tidak ingin menjadi wanita yang tidak tahu masak-memasak.


Beberapa menit kemudian.


Selesai sarapan, mereka segera bersiap untuk pergi menuju Mall dan tempat bermain. Amman sengaja ingin mengajak putra dan istrinya jalan-jalan hari ini.


"Sayang, apa kamu tidak berniat untuk ke salon? Spa atau yang lainnya?" tawar Amman yang memang ingin memanjakan sang istri.


Amman mengangguk.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil mereka berbincang sambil bergurau dan mendengarkan music .


Dua puluh menit perjalanan.


Mobil Amman telah sampai di parkiran Mall, mereka bertiga turun dan berjalan masuk ke dalam Mall tersebut.


"Kita kemana dulu?''


"Aku ingin membeli beberapa pakaian kak, bukankah kita dan kak Ammar akan datang ke pesta rekan kerja kalian?"


"Aku hampir lupa." ucap Amman yang memang lupa.


Mereka masuk ke dalam pusat pakaian pesta.


Audrey melihat gaun mana yang pas di tubuhnya, terlihat elegan tetapi tetap sederhana.


"Sayang, aku dan Dilan kesana ya?" Amman menunjuk tempat penjualan sepatu.


Audrey mengangguk sambil masih sibuk memilih gaunnya.


Amman pun berjalan ke tempat penjualan sepatu itu.


Dari kejauhan dirinya melihat sepasang sepatu yang sangat bagus dan keren untuk sang putra.

__ADS_1


"Sayang, Ayah lihat disana ada sepatu yang keren untuk kamu. Ayo kita lihat, Ayah akan membelikannya untukmu."


"Tapi sepatu Dilan 'kan masih banyak yang baru, Yah." ucap Dilan dengan lugunya.


"Udah gak pa-pa, anggap saja untuk koleksi. Nanti sepatu yang masih baru sebagian akan kita sumbangkan ke panti asuhan jika sepatu kamu sangat banyak."


Dilan pun mengangguk.


Mereka segera berbalik menuju sepatu itu.


Sesampainya disana, Amman langsung memegang sepatu tersebut dan tanpa sengaja seorang wanita pun ikut memegang sepatu itu.


Wanita cantik itu melirik Amman sejenak. "Maaf, Tuan. Saya ingin mengambil sepatu ini."


"Tapi saya juga ingin mengambilnya untuk putra saya." sambung Amman tidak terima .


"Saya juga ingin mengambil untuk putra saya, apa Anda tidak ingin mengalah dengan seorang wanita?"


"Saya tidak peduli, putra saya menyukai ini dan saya akan membelinya."


"Berikan untuk saya saja, Tuan. Kasihan putra saya, dia sampai sakit karena menginginkan sepatu ini."


Amman melirik seorang balita laki-laki yang berada di belakang wanita itu. Amman pun melepaskan tangannya dari sepatu tersebut.


"Ambillah, untuk anak Anda saja. Saya akan mencari sepatu yang lain." ucap Amman sambil beralih pergi.


"Tunggu, Tuan!'' wanita itu menghentikan langkah Amman.


"Terima kasih sekali lagi. Perkenalkan nama saya Susan." wanita bernama Susan itu mengulurkan tangan kanannya.


Amman hanya melirik Susan tanpa berniat membalas jabatan tangan itu.


"Saya Ayahnya Dilan." jawab Amman dan langsung bergegas pergi.


Saat melihat Amman menjauh, senyum Susan tiba-tiba muncul.


"Dia sangat tampan sekali, pasti juga kaya, dan apa dia seorang duda? Akh, semoga aku bisa bertemu lagi dengan duda ganteng itu." Susan tersenyum sendiri.


Dia beralih mengambil sepatu dan membayarnya.



**Dikira duda 😭


β€’


TBC


HAPPY READING


YUK BERIKAN DUKUNGANNYA πŸ€—


🏡️🏡️🏡️


SAMBIL MENUNGGU SIKEMBAR UP, MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR JUGA YUK**.


__ADS_1


__ADS_2