
Pagi ini Zaky akan pergi ke rumah sakit untuk menemani Anisa pergi mengecek kandungan dan kanker yang di derita, awalnya Anisa menolak tetapi Zaky tetap memaksa agar menemani Anisa cek-up.
Zaky merasa kasihan karena Anisa menyembunyikan semua dari suaminya.
Celline yang baru keluar dari kamar langsung bertanya ketika melihat Zaky yang sudah sangat rapi.
"Kak, kamu mau pergi ke kantor?"
"Aku ada urusan sebentar setelah itu aku baru akan pergi ke kantor." sahut Zaky sambil memakai sepatu.
Celline hanya mampu mengangguk.
Ammar yang memang sudah bangun langsung menghampiri kedua sepupunya. "Zak, apa kau akan pergi ke kantor?''
"Kenapa kalian harus bertanya hal yang sama?"
'Itu tandanya kami berjodoh, kak.' batin Celline menjawab.
Ammar hanya melirik Celline sekilas.
"Baiklah, aku pergi dulu."
Zaky segera bergegas keluar dari apartemen tanpa menunggu jawaban dari Ammar dan Celline.
"Apa urusannya sepenting itu?" gumam Celline berbicara sendiri.
Pletak.
Ammar menyentil dahi Celline.
"Kak! Apa-apaan kau ini? Dahiku sangat sakit, dasar kakak jahat.'' bentak Celline marah sambil mengelus dahinya.
__ADS_1
Ammar hanya tertawa pelan.
"Segera bersiap dan kita akan jalan-jalan hari ini."
Mata Celline langsung berbinar, wajahnya yang tadi cemberut kini berubah menjadi senang.
"Benarkah? Yes!"' Celline bersorak riang.
Cup.
"Baiklah, aku akan segera bersiap."
Ammar diam mematung ketika Celline mengecup pipinya, mereka sudah sama-sama dewasa dan Celline bukanlah anak kecil yang seperti dulu selalu mencium pipinya.
Ammar meraba pipinya yang tadi dicium oleh Celline. "Astaga, apa-apaan ini?" gumamnya lalu bergegas masuk ke dalam kamar.
πΊπΊπΊ
Dokter tetap menyarankan agar Anisa melakukan operasi pengangkatan rahim karena kanker serviks stadium 2A.
Anisa tetap menolak meskipun nyawa yang akan jadi taruhannya, dia sudah memikirkan itu semua dan berdoa agar Allah memberikan keajaiban dengan cara mengangkat penyakitnya.
Mereka keluar dari rumah sakit.
"Alhamdulillah perkembangan bayiku sehat dan baik." ucap Anisa seraya mengelus perutnya.
Zaky membukakan pintu agar Anisa masuk ke dalam mobil. Dia tidak bisa berkata apapun lagi karena Anisa tetap bersikeras mempertahankan janinnya.
"Apa kamu sudah memikirkan semuanya dengan matang?"
Anisa mengangguk. "Aku mohon jangan memintaku untuk melakukan operasi lagi."
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memintamu untuk melakukan itu." ucapnya dengan pasrah. "Aku akan mengantarmu pulang ke rumah karena aku ingin pergi ke kantor."
"Antar aku ke pusat perbelanjaan saja. Jika Anda ingin pergi ke kantor maka pergilah."
"Baiklah, setelah mengantarmu pulang aku baru akan ke kantor."
"Jadi Anda ingin ikut denganku?''
Zaky mengangguk. "Aku akan menemanimu karena aku takut terjadi apa-apa denganmu."
Anisa hanya tersenyum tipis, dia bersyukur karena ada Zaky yang setia menemani kemanapun dirinya pergi.
Zaky pun mencoba meredam segala perasaanya karena dia sadar jika Anisa tidak akan bisa menjadi miliknya, maka dari itu Zaky ingin mencoba menjadi teman yang baik untuk Anisa.
Sesampainya di pusat perbelanjaan.
Mereka berdua langsung masuk ke sana dan Anisa segera mencari barang-barang yang dia butuhkan.
Tanpa disadari, dari kejauhan seorang pria menatap ke arah Anisa dengan mata memicing.
"Itu, bukannya?" gumam pria tersebut dengan suara pelan.
Dia terus saja menatap Anisa dengan lekat dan matanya membulat ketika dugaannya terbukti benar.
β’
β’
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
YUK BERIKAN DUKUNGAN UNTUK NOVEL SI KEMBAR π€**