
Pagi hari.
Amman, Audrey dan Anisa telah bersiap untuk pergi ke luar negeri. Mereka saat ini berada di teras untuk berpamitan kepada kedua orang tua Amman.
Para wanita saling berpelukan.
"Mama harap kalian jangan bertengkar, jangan egois, dan kondisikan emosi. Mama tidak ingin diantara kalian ada yang tersakiti." ucap Aresha sambil memegang pundak kedua menantunya.
"Jaga kedua istrimu baik-baik, Amman. Ingat! jangan menjadi suami yang pilih kasih karena itu semua akan membuat hati salah satu dari istrimu tersakiti." Amir menepuk pelan pundak Amman.
"Ya, Pah. Aku akan selalu ingat dengan pesan Papa dan Mama."
Ketiga orang itu melambai dan mereka masuk ke dalam mobil.
Dari atas balkon, Ammar menatap kepergian Amman dan kedua istrinya dengan tidak suka.
"Niat ingin membuat Amman hancur, malah sepertinya dia sangat bahagia karena bisa mendapatkan dia wanita sekaligus." Ammar memukul tiang pembatas.
Tiga puluh menit kemudian.
Sampailah mereka di bandara dan Amman di apit oleh kedua istrinya sementara tangannya menarik koper.
Mereka bertiga segera menuju pesawat karena pengumuman lepas landas sudah terdengar.
Sebelum sampai di pesawat, tubuh Anisa gemetaran dan itu semua disadari oleh Audrey.
"Kak, ada apa denganmu?" Audrey menghentikan langkahnya ketika hendak menapaki anak tangga.
"A—aku belum pernah naik pesawat." jawab Anisa dengan gugup.
Audrey menggenggam tangan Amman. "Kak, sebaiknya kamu duduk di sebelah kak Anisa." pinta Audrey mengerti.
"Tapi, bagaimana denganmu?"
"Aku akan duduk di belakang kalian, jangan khawatirkan aku karena aku sudah terbiasa menaiki pesawat."
Amman melirik Audrey sekilas dan Audrey tersenyum tipis sambil mengangguk.
Mereka akhirnya masuk ke dalam pesawat dengan Amman yang setia di samping Anisa.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Aku ada disini." Amman menggenggam jemari Anisa.
Pesawat lepas landas dan mulai melayang di udara.
Anisa hanya memejamkan mata ketika mual melanda perutnya. "Tuan, aku merasa ingin muntah." ucapnya dengan lemah.
"Tunggu!" Amman memeriksa tas yang ada di pangkuannya. "Ini, kamu bisa muntah disini." dirinya menyodorkan sebuah mangkuk panjang.
Anisa hanya mengangguk dan dia menggenggam erat mangkuk tersebut.
__ADS_1
"Hoek." cairan bening keluar dari mulut Anisa.
Amman mengelus pundak Anisa dengan lembut dan itu semua tak luput dari pandangan mata Audrey.
Audrey hanya menarik nafas dalam-dalam dan memalingkan wajah.
"Apa sudah lega?" ucap Amman.
Anisa hanya mengangguk lemah.
"Tidurlah di bahuku, jika sudah sampai aku akan membangunkan dirimu."
Anisa menyandarkan kepala di bahu Amman dan dia memejamkan mata untuk mencoba melawan rasa mual yang pasti akan datang kembali.
🌺🌺🌺
19 Jam kemudian.
Sampailah mereka bertiga di kota Zurich - Swiss.
Anisa melihat ke sekeliling dengan sangat heran.
"Indah sekali." gumamnya pelan namun masih terdengar oleh Amman.
"Lebih indah jika nanti kamu melihat rumah kita."
Anisa hanya tersenyum tipis.
Dua puluh lima menit kemudian.
Mereka bertiga turun dari mobil dan Anisa langsung terpesona dengan rumah yang ada di hadapannya.
"Ayo masuk." Amman menggenggam tangan Audrey sementara tangan sebelahnya dia gunakan untuk menarik koper.
Koper yang lain di bawa masuk oleh pelayan rumah Amman.
"Apa kalian berdua menyukainya?" Amman bertanya kepada Audrey dan Anisa.
"Ya, tentu kami sangat suka dengan rumah ini. Terlihat elegan dan minimalis, benar'kan kak?" Audrey melirik Anisa.
Anisa mengangguk sambil melihat seluruh penjuru rumah, dia tidak menyangka bisa sampai di negara asing ini dan tinggal di tempat mewah seperti ini.
"Baiklah, ayo kita naik ke atas dan akan aku tunjukkan kamar kalian masing-masing."
Mereka menaiki anak tangga.
"Ini kamar untuk Audrey, dan di kamar nomor tiga kamar untuk Anisa." ucap Amman menunjuk kamar Anisa.
Audrey diberikan kamar utama sementara Anisa dikamar tamu, Amman tidak ingin Audrey menjadi kecewa karena biar bagaimanapun Audrey adalah istri sah nya.
__ADS_1
"Tuan, apa saya boleh permisi ke kamar? Tubuh saya rasanya lelah sekali." pamit Anisa.
"Silahkan."
Anisa melangkah pergi.
"Tunggu!"
Anisa sontak berhenti dan menoleh.
"Tolong jangan memanggilku dengan sebutan Tuan. Aku saat ini adalah suami kamu dan jangan gunakan bahasa saya atau Anda karena itu terlalu datar." pesan Amman kepada Anisa.
"Lalu, panggilan apa yang harus saya gunakan?" Anisa menjadi bingung.
Amman melirik Audrey sekilas. "Kak seperti Audrey memanggilku, atau Mas seperti Mama memanggil Ayah."
Anisa terdiam sambil berpikir. "Sa—, maksudnya aku akan memanggil kamu dengan sebutan Mas."
Amman hanya mengangguk. "Baik, istirahatlah dan rileks 'kan tubuh kamu."
Anisa berlalu dari hadapan Amman.
Setelah Anisa pergi, Amman melirik Audrey yang hanya diam saja menyimak obrolan antara suami dan madunya.
"Apa kamu juga ingin istirahat?"
Audrey mengangguk. "Tentu, aku hanya manusia biasa yang pasti bisa lelah." ucapnya sambil membuka pintu.
"Tunggu! Biar aku yang buka." Amman membuka pintu dan sebelum masuk, dia ternyata menggendong tubuh Audrey ala bridge style.
"Aw, kakak!" pekik Audrey kaget karena Amman tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
Amman hanya tersenyum dan mengecup bibir Audrey sekilas.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan Amman mengatakan ingin mandi bersama dengan Audrey.
•
•
**Jangan mau diajak mandi bareng, neng 🥲
•
TBC
HAPPY READING
__ADS_1
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**