
Malam hari.
Kelompok Maura dan para petugas bubar dari tempat mereka masing-masing, hasilnya masih sama yaitu mereka tidak bisa menemukan perampok tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan, Komandan?" Maura bertanya dengan nada bingung.
"Kita akan mengatur strategi baru, ikutlah denganku ke dalam ruang kerja."
Maura dan keempat petugas lainnya mengikuti komandan Alpa.
Di dalam ruangan mereka mulai membicarakan rencana apa yang akan mereka gunakan untuk menjebak perampok handal itu.
Maura berharap rencana kali ini akan berjalan dengan lancar dan berhasil.
Setelah selesai mereka pun bubar dan Maura berpamitan untuk kembali ke hotel, Komandan Alpa memberikan penawaran agar Maura di antar hingga ke hotel tetapi Maura menolaknya dengan halus.
Komandan akhirnya pasrah dan membiarkan Maura pulang sendirian di jam yang sudah menunjukan pukul sebelas malam.
🌺🌺
Pukul 01.00 wib.
Ammar terbangun karena suara tangisan bayinya yang tiba-tiba.
"Dea, ada apa sayang?" Ammar segera menggendong Dea dan memeluknya dengan sangat lembut.
Dea hanya menangis di dalam pelukan Ammar.
"Apa dia haus ya?" gumam Ammar dengan menduga.
Dirinya meletakkan Deana terlebih dahulu lalu membuatkan susu untuk Dea, Ammar sangat telaten dan lihai.
Setelah selesai dia langsung memberikan kepada Dea susu yang berada di dalam DOT, Deana pun meminum susu dengan sangat kuat hingga tidak terasa susu habis dan mata Dea pun terpejam.
Ammar tersenyum lega ketika melihat sang Putri yang sudah tidur, dia kembali meletakkan Dea di box bayi.
Ammar melangkah ke ranjang, sebelum membaringkan badan dia mengambil bingkai foto milik Anisa.
"Anisa, lihatlah perjuanganku dalam membesarkan anak kita. Semoga kamu bahagia melihat ini, aku tidak ingin kamu bersedih karena aku tidak peduli dengan anak kita, Dea adalah satu-satunya harta berharga yang ku miliki setelah kepergianmu. Semoga kamu tenang di alam sana, Anisa. Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipi Ammar.
Ammar segera menghapus air matanya lalu dia meletakkan kembali bingkai ke atas meja dan segera membaringkan tubuhnya di kasur empuk.
...
Pagi hari.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan ternyata Adisti telah menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga.
Aresha dan Amir yang baru sampai di meja makan langsung menggeleng tidak percaya.
"Adis, kenapa kamu harus repot-repot masak sarapan segala? Ada bibi yang akan membuat sarapan untuk kita semua, kamu tinggal katakan mau makan apa pagi ini." ucap Aresha penuh kelembutan.
"Tidak apa-apa, Tante. Memasak adalah hobi Adis karena Adisti adalah seorang koki." sahut Adisti dengan senyum tipis.
Ammar belajar menuruni anak tangga.
"Selamat pagi." sapanya kepada semua orang
"Pagi.'' sahut mereka dengan serempak.
"Aku.'' jawab Adisti dengan percaya diri.
"Kau? Kau sangat pintar memasak apapun?"
Adisti mengangguk. "Ya, aku adalah seorang koki dan tentu saja bisa memasak segala macam sayur atau makanan lainnya."
Ammar hanya terdiam tanpa berniat menjawab ucapan Adisti.
Mereka mulai sarapan bersama sambil mengobrol ringan tentang kuliah Adisti yang sangat berbeda dengan pekerjaannya saya ini.
Ammar telah selesai sarapan dan dia berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Ma, aku pergi dulu ya? Tolong jaga Deana dengan baik."
"Tidak perlu kamu ingatkan, Mama juga tau kok Mar." ucap Aresha menjawab.
Ammar mencium pipi sebelah kiri milik Aresha sementara Amir sudah pergi ke kantor terlebih dahulu.
__ADS_1
Adisti keluar dari dalam rumah dengan surga bersiap.
"Tante, Adis juga pamit pergi ke restauran ya?"
Aresha terdiam sejenak sambil memandang Adisti dan Ammar bergantian.
"Bagaimana jika kamu pergi bareng dengan Ammar saja? Ammar akan mengantarkan ke tempat kerjamu."
"Tapi—" ucapan Ammar terpotong karena Aresha menyelanya.
"Tidak ada tapi-tapi'an, Ammar. Kamu gak kasihan dengan Adisti yang harus naik taksi ke tempat kerjanya?"
Ammar hanya mampu menghela nafas kasar. "Ya sudah, ayo!" dirinya pergi duluan masuk ke dalam mobil.
Adisti yang memang tidak memiliki pilihan lain hanya mampu mengikuti Ammar masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju pergi dari rumah.
Aresha menatap kepergian mobil Ammar dengan senyum tipis dan sebuah harapan.
"Mereka keliatannya cocok, jika mereka berjodoh pasti Tuhan akan menyatukan mereka berdua. Maaf Anisa, bukannya Mama tidak kasihan dengan kamu tetapi biar bagaimanapun Ammar tetap berhak bahagia bukan?"
Aresha menghembuskan nafas pelan lalu segera masuk ke dalam rumah untuk melihat cucu kecilnya yang sangat manis.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN
TERIMA KASIH BANYAK 🙏
🏵️🏵️🏵️🏵️
SEKALIAN MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK 🥰**
__ADS_1