JERAT CINTA SI KEMBAR

JERAT CINTA SI KEMBAR
Bab 35 Jerat Cinta Si Kembar


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Hari ini Amman dan Audrey memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karena Amman khawatir dengan keadaan Audrey yang sangat sering demam dan mengeluh pusing.


"Anisa, sebaiknya kamu ikut dengan kami." ucap Amman.


"Tidak perlu, Mas. Aku mudah lelah meskipun hanya dalam perjalanan beberapa menit saja."


Amman pasrah dan dia mengatakan jika Anisa tidak boleh kemana-mana, Amman juga khawatir dengan Anisa apalagi saat ini Nisa sedang mengandung.


Mobil Amman dan Audrey pergi meninggalkan sekitaran rumah, sementara Anisa memutuskan untuk pergi ke taman.


"Maafkan aku yang sudah melanggar perintahmu, Mas. Aku tidak ikut karena aku tidak ingin merusak masa kalian berdua." gumam Anisa saat dirinya sudah berada di dalam taksi.


Sesampainya di taman, Anisa melihat banyak sekali orang yang sedang duduk-duduk dan ada juga yang jogging karena hari masih pagi. Anisa memilih untuk duduk di salah satu bangku panjang sambil melihat sebuah keluarga kecil dengan seorang anak perempuan mereka.


Mereka bertiga terlihat bahagia, jujur Anisa sangat iri dengan itu.


"Dulu aku sangat menginginkan keluarga kecil yang sangat bahagia seperti mereka, aku ingin pernikahanku di resepsi 'kan dengan begitu mewah bak negeri dongeng, aku ingin semua orang menatap ke arahku dengan rasa kagum. Tetapi itu semua hanyalah khayalan dan tidak akan terwujud." gumam Anisa dengan hati sedih.


Dari kejauhan.


Zaky yang tengah jogging memicing ketika melihat seorang wanita berhijab yang dia kenal sedang duduk di sebuah bangku.


"Ini masih pagi, Zaky. Tolong bangun dari halusinasimu, tidak mungkin Anisa berada disini." gumamnya sambil kembali berlari.


Rasa penasaran mendorong hati Zaky untuk menghampiri wanita yang dia yakini adalah Anisa.


Sesampainya di bangku Anisa.


Zaky berhenti dan dia menatap Anisa dari belakang.


"Anisa?'' sapa Zaky dan itu membuat Anisa menoleh.


"Tuan?" sahut Nisa dengan dahi mengerut.


Zaky melangkah ke hadapan Anisa. "Hai, sedang apa kamu ditempat ini?"


"Saya hanya sedang duduk."

__ADS_1


"Apa saya boleh duduk disamping kamu?"


Anisa mengangguk dan dia menggeser tubuhnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di negara lain.


Malam ini Ammar akan pergi keluar dengan Celline, mereka berdua ingin makan di luar dan hal itu sudah disetujui oleh Nindi dan Excel.


Mereka pergi dengan Maura yang menjadi sopir mereka berdua, sebenarnya Ammar menolak jika Maura ingin ikut tetapi Maura mengatakan jika dia adalah bodyguard Ammar dan harus mengikuti kemana Ammar pergi.


Dua puluh menit.


Mobil mereka sudah sampai dan mereka bertiga keluar dari mobil.


Ammar dan Celline berjalan di depan sementara Maura berjalan di belakang mereka.


Keduanya duduk di kursi, Maura sendiri lebih memilih berdiri.


"Maura, duduklah. Jangan hanya berdiri seperti itu, tidak enak dilihat oleh banyak orang." ucap Celline memperhatikan ke sekeliling.


"Sudahlah, Cel. Terserah dia mau bagaimana." sela Ammar dengan masa bodo.


Mereka memesan makanan dan sambil menunggu makanan tiba, Ammar berpamitan pada Celline untuk pergi ke toilet sebentar.


Saat Ammar baru beberapa senti melangkah, Maura pun ikut berpamitan untuk mengikuti sang Tuan.


Celline pun hanya bisa pasrah dengan ketegasan dari Maura.


Menuju toilet.


Ammar merasa seperti ada yang mengikutinya, dia menoleh kebelakang dan terkejut karena ada Maura.


Ammar menghentikan langkah begitupun dengan Maura.


"Mau apa kau ada disini?'' Ammar bertanya dengan nada kesal.


"Tentu saja mengikuti Tuan." jawab Maura dengan enteng.

__ADS_1


"Mengikutiku?Hei, aku ini bukan tahanan hingga ke toilet saja harus di kawal seperti ini!" Ammar merasa ingin menjadi gila karena perempuan di depannya itu.


Maura hanya diam saja.


"Sekarang pergilah, aku ingin masuk ke dalam toilet." Ammar mengusir Maura.


"Tidak bisa, Tuan." tolak Maura.


"Tidak bisa kau bilang? Apa kau ingin mengikuti aku sampai masuk ke dalam toilet? Dasar wanita gila! Sepertinya kedua orang tuaku salah memilihkan bodyguard untukku." Ammar benar-benar frustasi.


"Jika Tuan ingin ke toilet maka masuklah, saya akan menunggu di luar. Mengapa Anda sangat bo*doh?"


Ammar melotot karena Maura berani mengatakan dirinya bodoh.


'Baru kali ini ada orang yang berani mengatakan aku bo*doh, untung dia seorang wanita jika tidak pasti aku sudah memberikan bogeman ke mulut tidak sopannya itu.' Ammar langsung berlalu pergi dari hadapan Maura.


Menurut Ammar, jika terus bersama dengan Maura maka mood nya tidak akan baik.


β€’



**Anisa


β€’


TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK πŸ™


SEMOGA DI JUMAT BERKAH INI ALLAH MEMBERIKAN REZEKI BERLIMPAH PADA KITA SEMUA, AMINNNN πŸ™πŸ™πŸ™


🏡️🏡️🏡️🏡️


OH YA, SAMBIL MENUNGGU UP DARI OTHOR MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK πŸ€—**


__ADS_1


__ADS_2