Jodoh Pilihan Kakek Itu Musuh Ku

Jodoh Pilihan Kakek Itu Musuh Ku
Bab 22


__ADS_3

Selamat membaca semuaa semoga suka sama karya author..


.


Jangan lupa like yaa karya author 😘


.


.


-------------


Tepat pukul 9.30 malam mereka tiba di jalan xxxx, makin malam tempat ini ternyata makin ramai, banyak warung tenda yang berjejer menjajakan aneka ragam makanan.


"Kamu yakin mau makan disini?" Tanya dimas meyakinkan Raina


"Iya gue mau makan disini, kenapa ga suka ?" Tanyanya ketus


"Bukan gitu aku suka kok" jawab Adimas.


"Ayoo kita kesitu" ajak Raina menujuk satu kedai yang paling ramai pengunjungnya..


"Kamu yakin mau makan disitu" tanya Adimas gak yakin mereka bakal dapat tempat disana


"Iyaa yakin lah kenapa lagi seh?" Dengusnya kesal


"Itu kamu liatkan penuh banget gitu, mana kebagian bangku liat aja tuh penuh, lesehannya juga penuh" terang Adimas


"Tenang aja aku selalu dapat tempat kok disana,, ayook" ajaknya dan Adimas pun hanya bisa mengekorinya.


Setibanya diwarung tenda tersebut, Raina tidak langsung kedepan kedai, ia malah melimpir kebagian belakang kedai dan Adimas dengan setia mengekorinya..


"Bibiii.." serunya kepada seorang wanita paruh baya itu yang langsung memeluknya.


"Nana sudah lama sekali kamu gak kesini sudah lupa bibi mu ini hemm" tanya wanita paruh baya itu


"Mana mungkin Nana lupa sama bibi apalagi masakan bibi yang debest ini"


"Bisa saja kamu na, siapa pria tampan itu kamu tak ingin mengenalkannya pada bibi" goda bibi


"Oh ya nana lupa bi, kenalkan dia temanku Adimas" kata Raina mengenalkannya


"Halo nak aku neni pemilik kedai ini" kata bibi memperkenalkan diri


"Aku Adimas buk, aku bukan teman Raina" ucap Adimas yang membuat 2 wanita beda generasi itu terkejut.


"Jangan panggil aku ibu, panggil saja bibi anak anak disini memanggilku demikian" jelas bibi


"Jadi kau bukan teman Nana tapi tadi bilang dia temanmu" tanya bibi heran


"Iya bi,, saya bukan temannya tapi tunangan nana" jawab Adimas yakin yang lagi lagi membuat wanita 2 generasi berbeda itu terkejut kembali


"Adiiimaaaas" ucap Raina geram


"Nana kau jahat sekali tidak mengundang ku minimal memberitahu ku, aku kecewa" kata bibi


"Maaf bi, kami memang belum mengadakan pesta nanti aku sendiri yang khusus akan mengundang mu" jawab Adimas yang makin membuat Raina kesal.


"Kau sangat baik nak" ucap bibi


"Yasudah kusiapkan makanan spesial untuk kalian, silahkan kalian tunggu di tempat biasa, nana sudah tau tempat itu".


Lalu Raina pun menunjukkan tempat yang dimaksud dengan wajah kesalnya akibat ulah ku. Aku tidak merasa bersalah karna toh emang benar dia tunangan ku.


"Hei kenapa wajah mu jelek seperti itu" goda ku


"Diam dan tutup mulut mu jika kau tidak bisa bicara yang benar" ucap Raina bersulut


"Apa aku salah bicara?" Tanya ku polos


"Iya kau bicara yang tidak tidak"


"Bicara apa ?" Tanyaku lagi


"Kau bicara kalau aku tunangan mu" ucapnya kesal.


"Siapa yang telah bertunangan dengan mu?" Tanya seseorang dari atap mobil.


Raina pun sontak kaget ada yang mendengar bicara. "Mungkin kau salah dengar" elak Riana pada pria itu


"No.. no.. kuping gue belum budek oneng" jawab pria itu


Raina pun segera naik keatas mobil tersebut menemui pria itu. "Ayook naik kemari, bukan kah kamu ingin makan" ajaknya pada Adimas.


Adimas pun ikut naik keatas atas atap mobil Van yang sudah dimodif sedemikian rupa. Dimana bagian bawahnya di buat coffe car dan dibagian atapnya dibuat dengan bangku dan meja. (Kalian bayangin aja mobil di film filosofi kopi). Rupa nya ini yang dimaksud Raina kalau dia akan selalu mendapatkan meja. Mengapa kalau disini kosong para pelanggan itu tidak ada yang duduk disini pikir Adimas.


Seakan bisa membaca pikiran Adimas, Raina berkata "ini tempat khusus istirahat pemilik kedai" ucapnya


"Kok kamu tau isi pikiran aku, wah berarti kita sudah sepikiran tinggal selangkah lagi kita sehati" goda Adimas


"Hai tunggu, coba salah satu kalian jelaskan kepada gue siapa yang bertunangan tadi" tanya pria tadi


"Aku dan dia" jawab Adimas sambil


menunjuk Raina


"Bohong" jawab Raina


"Kamu kalau ngomong jangan asal" ucapnya sambil mencubit perut Adimas. Dan yang dicubit hanya meringis kesakitan.


"Stop drama kalian gue pusing" teriak pria itu


"Dan kamu" kataya sambil menunjuk kearah Adimas


"Siapa namamu" tanya nya


"Aku Adima kusuma Dirgantara panggil aja Dimas dan aku calon suami dia" kata Adimas sambil menunjuk Raina . Lagi lagi Raina mencubitnya dengan keras dan kali ini Adimas mengaduh kesakitan. "Ini namanya kekerasan dalam pertunanga " jawab Adimas sambil mengelus perutnya yang sakit.


"Bohong dia cuma teman gue" ucap Raina


"Gue Riski gue sahabatnya tunangan lu dan pemilik usaha coffe car ini" kata Riski memperkenalkan diri dan membuat Raina kesal karna sahabatnya itu ikut ikutan menyebut kata tunangan.


"Gue buka tunangan dia ki,, kita hanya teman" bantah Raina


"Na sejak kapan lu berteman sama laki laki setau gue teman laki laki hanya gue dan Angga, lu pan anti sama laki" jelas Riski sambil tertaw


"Pokoknya gue bukan tunangan dia, nie buktinya aja dijari gue ga ada cincin tunangan dan belum ada yang melamar gue" jawab Raina sambil menunjukkan jarinya

__ADS_1


"Apa itu yang kau inginkan baiklah, Raina prameswari moe , bersediakah kau menikah dengan ku menjadi pendamping hidup ku hingga maut memisahkan dan menjadi ibu bagi anak anak ku"


Deg.. ada getaran aneh dihatinya men


dengar Adimas mengatakan itu semua, namun mulutnya berkata bohong "tidak aku tidak mau" ucapnya


Jangan tanya kenapa Adimas suka sekali menggoda Raina, mungkin ia suka melihat reaksi gadis itu, ia suka melihat kilatan kilatan dimata Raina ketika gadis itu membalas perbuatannya dan kata katanya. Mungkin ia sudah jatuh cinta pada gadis itu tanpa ia sadari.


Adimas mengangkat bahu "kenapa Tidak ? Apa karna tidak ada cincin ? Tunggu sebentar" lalu ia melepas cincin dijari kelingkingnya, cincin berwarn silver yang bermatakan berlian kecil sangat simple modelnya. Dan meraih tangan gadis itu yang sedang membuang muka kearah luar lalu memakaikannya dijari manis Raina sebelum gadis itu menyadarinya. "Nah itu, sudah Puas ?"


"Heii apa yang kau lakukan?" Pekik Raina sambil mencoba melepaskan cicin tersebut namun hasilnya nihil. "OMG Adimas cepat kau lepas benda ini dari tangan ku?"


"Waw rame benar kalian bertiga ada apa ini" tanya bibi yang datang membawa makanan untuk mereka


"Mama liat di pertama kalinya ada acara lamaran disini" ungkap Riski antusias


"Benarkah" tanya bibi


"Liat mah itu cincinnya bagus bukan" kata Riski


"Wah cantik sekali walaupun simple seperti mu nana" ucap bibi


"Kalau begitu kita rayakan ini aku gratiskan semua makanan ini " kata bibi dengan semangat.


"Kau ini merepotkan ku saja"


"Lihat saja setelah benda ini berhasil kulepas akan ku jual" kata Raina kesal


"Awas aja jika kau berani menjualnya" kata Adimas memberi peringatan


"Sudah kalian dari tadi ribut terus seperti meong dan guguk" kata Riski


"Ayo makan ga baik didepan makanan Ribut" kali ini bibi yang bersuara. Mereka pun akhirnya menikmati makanan dengan hikmat.


"Apa kau ingin coba kopi buatan ku?" Tawar Riski pada Adimas setelah mereka selesai makan bersama


"No.." jawaban itu keluar bukan dari mulut Adimas melainkan dari mulut Raina.


Mendengar jawaban gadis itu, Riski menautkan alisnya tanda dia bingung "whay" tanyanya


"Dia punya masalah pada lambungnya dan hari ini dia baru saja makan nasi dari pagi dia melupakan makan hanya menghabiskan 6 cup kopi, itu sudah sangat berlebihan" cerocos Raina


Riski yang mendengarnya pun hanya takjub dengan apa yang diucapkan sahabatnya, begitu perhatian sekali sahabatnya, ngaku nya benci tapi dia sangat detail memperhatikan pria itu.


"Kenapa lu liatin gue sebegitunya" tanya Raina heran melihat ekspresi sahabatnya


"Gue hanya heran lu segitu perhatiannya dengan dia" tanya Riski yang membuat Raina mati kut sedangkan yang menjadi topik hanya diam tersenyum saja.


"Ayoo kita pulang sudah malam" ajak Raina pada Adimas guna mengalihkan topik pembicaraan.


-----------


Setibanya diapartemen miliknya Raina segera menyegarkan dirinya, ketika mencuci muka dia memandangi cicin yang melekat dijemariya,, begitu simple namun indah sangat cantik gumamnya. Ia pun kembali mencoba untuk melepasnya namun hasilnya sama sulit, akhirnya dia hanya pasrah. Kemudian ia melanjutkan aktivitasnya sebelum tidur.


Tak jauh beda dengan Adimas setelah menyegarkan dirinya kemudian ia meranjak ke ranjangnya, ranjang berukuran king size itu sekarang terasa begitu luas, aneh pikirnya dulu juga sama dan gue ga pernah pikirin, tapi kenapa sejak kehadiran dia gue sampe memikirkannya sampe kemasalah ranjang yang ga akan terasa luas jika menikahi dia,, Shiit kenapa mikir menikahi dia sih, batin Adimas. Ya Tuhan kenapa juga gue sampe seberani itu melamar dia dan parahnya memberikan cincin nena ke gadis itu, apa seeh yang lu pikirin dim, tanya pada diri sendiri. Tapi gue ga pernah becanda dengan apa yang udah gue lakukan barusan. Adimas pun menarik napasnya guna menenangkan diri, tapi perasaan gundah itu tak kujung hilang, dilihatnya jam dinding menunjukan pukul 1 pagi, yaa lebih baik gue shalat tahajud dan istikharoh semoga Allah menjadikannya terang.


__________


Tripel'R cake and coffe


Hari ini adalah hari terakhir masa syuting di cafe milik Raina, hari ini cafe ini hanya digunakan 2 jam, itu memenuhi kekurangan adegan yang dirasa kurang pas. Karna ini hari terakhir maka team Macara berinisiatif mengajak paran karyawan cafe makan bersama, tidak perlu makan diluar cukup delevery saja karna mereka tau jika karyawan cafe mesti harus bekerja, maka Anisa sebagai kepala suku dan wanita satu satunya di team Macara maka ia me dapat tugas memesan makanan. Tak lama makanan itu tiba begitu juga dengan Adimas dan Miko yang baru saja tiba di cafe setelah dihubungi Anisa dan mereka semua mengajak karyawan cafe makan bersama sebagai bentuk terima kasih atas bantuannya selama ini.


"Ada apa?" Tanyanya heran


"Itu mereka semua sudah memesan makanan dan mengajak kita semua bergabung, pesta kecil kecilan katanya" ungkap Indah


"Bentar lagi aku keluar ndah, makasih ya"


"Oke mba aku mau kedapur dulu manggil mas Huda sama Mas Ilham" kata Indah lalu bergegas meninggalkan ruangan atasannya itu


Setiba indah di tempat berkumpul ternyata sudah ada semua kecuali Riana. "Mana ndah Raina" tanya Dimas


"Bentar lagi katanya mas".


Benar saja tak lama Raina muncul ditengah tengah mereka "maaf menunggu tadi masih ada yang harus diurus dulu, loh kok belum dimulai" tanya melihat belum tersentuhya makanan diatas meja


"Nunggu yang punya rumah"saut Nisa


"Loh kok nunggu aku, ini kan pesta kalian toh cafe ini masih dalam sewaan kalian" ujar Raina merasa tidak enak


"Sudah sudah kapan ni makan" sela Miko "Ra duduk sini" kata Miko sebari menggeser bokongnya agar Raina dapat duduk disampingnya juga Dimas. Gadis itu pun menurut tak berapa lama Muncul Salsa tiba tiba


"wah ada pesta nie kok gak ngajak ngajak aku sih dim" katanya dengan nada manja tak lupa meranggkul Dimas dari belakang.


"Emang mbak-nya siapa mesti kita ajak,, team kita bukan karyawan cafe juga bukan" jawab Nisa sewot. Yaa Nisa emang tidak nyukai Salsa menurutnya wanita itu seperti ****** berkedok dokter, mengapa dia bisa berkata demikian karna dia lebih sering sibuk menggelenotin atasannya itu dari pada praktek.


"Aku kan sahabat Dimas dan Miko" ucap Salsa penuh percaya diri


"Dan ini bukan acara reuni sahabat" jawab Nisa lagi tak kalah pedas


"Karyawan mu ini kenapa sih dim, dia gak suka gitu sama aku?" adunya pada Dimas yang tak dihiraukan


"Yaudah Sal kalau lu mau ikut gabung, noh ambil kursi sendiri terus duduk baik baik yang anteng deket mas Huda, gue udah laper" ucap Miko yang tak kalah kesalnya melihat tingkah sahabatnya


"Mik lu aja yang ambil kursi gih,, gue duduk ditempat lu" tawar salsa


"Ogah gue udah marger dan pewe" jawab Miko karna dia tau bakal terjadi apa jika Salsa duduk ditempatnya. Raina yang sudah kadung kesal dengan tinggal salsa dan kasihan meliat yang lain yang sudah kelaparan akhirnya buka suara mengalihkan perdebatan yang ga penting dan mengganggap Salsa adalah makhluk Astral.


"Waah Mba Nisa pesan Apa aja ini kayanya enak" ucap Raina dengan mata berbinar


"Aku pesan udang goreng tepung, udang saus padang, tom yam, ikan gurame bakar " kata Nisa menjelaskan kenapa dia memilih menu udang karna semua teamnya penggila udang.


"Ayoo kita eksekusi makanan ini" seru miko. Mereka pun segera mengambil makanannya sesuai porsi yang mereka inginkan


"Dim kamu mau apa biar aku ambilkan ya?" Tawar salsa, yang tidak dijawab oleh Dimas namun dia tetap mengambilkan semua makanan untuk diisi dipiring Dimas.


"Mba Nisa apa tom yam itu juga ada kandungan udangnya?" Tanya Raina lagi


"Iyaa mbak,, enak loh mba ini langganan kami" jawab Nisa sambil menyantap makanannya


"TUNGGU" ucap Raina keras yang membuat semua orang menoleh kearahnya.


"Kenapa seh lu" tanya Salsa kesal entah sejak melihat Raina dan Dimas dekat waktu dirumah sakit membuat hatinya cemburu dan tidak suka padanya.


"Dim kamu yakin mau makan itu? Gak usah kamu paksa jika karna ga enak sama team kamu?" Tanya Raina lembut. Membuat semua orang yang ada disitu heran dan bertanya tanya. Memang awalnya Adimas terlihat enggan untuk memakannya tapi paksakan memakan makanan yang telah diambilkan salsa, apa mukanya terbaca gumamnya dalam hati


"Eeee..iya aku akan makan" cicit Adimas Ragu

__ADS_1


"Please dim itu bakalan bahaya buat kamu yang alergi udang" jelas Raina


Nyeeessss..


Ada rasa sejuk dihati Adimas akan perkataan Raina barusan, apa gadis itu masih ingat akan tragedi udang disekolah dulu, jika ia gadis itu tak 100% membencinya, terima kasih tuhan harapan itu ada


Berbeda dengan semua orang disana mereka baru tau jika Adimas alergi udang terutama Miko dan Salsa yang notabene adalah sahabatnya juga tidak tau.


"Ya sudah makanan mu buat aku saja ya" tawar Raina


"Dan kamu makan gurame bakarnya saja ya" kata salsa sambil mengambilkan nasi dan gurame bakar dipiringnya untuk Adimas, ada perasaan hangat yang menjalar di hati Adimas


"Tunggu" kata Salsa dalam hati, ia melihat jemari Raina melingkar sebuah cincin yang sangat familiar baginya melinggar dijarinya. Lalu pandangannya mengarah ke arah lain yaitu jemari Adimas, ia mengamati jemari pria itu dengan seksama dan DeG hatinya menceleos tidak ditemukan benda kecil yang selalu melingkar dijari kelingking pria pujaan hatinya itu, sakit itu yang ia rasakan "apa Raina jodoh pilihan kakek untuk Dimas" tanyanya dalam hati. Karna begitu amat sakit ia pun meninggalkan cafe itu dalam diam yang membuat semua orang heran.


"Kenapa tuh ulat keket" tanya Nisa


"Lu urus gih bro,, gue lagi males bermanis manis ria bujuk anak kecil" sarkas Adimas pasalnya dia sangat jengah dekat sikap Salsa.


"Biarin bro PMS kali dia paling juga gak lama dia adem lagi" jawab Miko yang juga capek dengan sikap sahabatnya itu. "Ayook kita lanjut makan sikat laah" seruu miko lagi.


Setelah selesai makan mereka bersantai sebentar sebelum membubarkan diri ditemani cappucino carmy milk dan brownie cake hadiah khusus dari Raina.


"Shel apa ada zuppa sup dan macaroni secuttle nya" tanya Adimas


"Maaf mas menu itu tidak ada disini" jawab Shelia


"Loh kok gak ada waktu itu saya dikasih sama Raina dari sini itu enak looh" kata Adimas


"Oh jadi yang waktu itu buat mas Adimas ya" tanya nya yang diangguki oleh Adimas


"Itu spesial tidak dijual dan dibuat sendiri sama mba Raina"


"Kok bisa padahal seharian kami dipanti" tanya Adimas heran


"Iyaa karna sebelum si mba ke panti dia membuat itu semua buat bu Anggi kakak iparnya yang lagi ngidam, lalu waktu itu pak Rayyi belum sempat mengambilnya jadi diberikan deh ke mas nya, terus mbak nya bikin ulang" jelas shelia


"Ada apa ini?" Tanya Raina


"Ini mas Dimas nanyain Zuppa sup sama Makaroni secuttle itu looh mbak?" Jelas shelia


"Lalu?"tanya Raina lagi


"Lalu aku tadinya mau membelinya tapi Shelia bilang disini tidak jual" kata Adimas " hmm.. mau gak kamu buatkan untuku?" Tanya Adimas Ragu


"Wani piroo" ucap Raina


"Masa kau begitu perhitungan dengan tunanganmu Rain, semua milik ku kelak menjadi milikmu juga nyonya Adimas" jawaban Adimas tersebut kontan membuahkan cubit diperutnya lagi.. "aduuuh kau senang sekali mencubit perutku, perih tau ini Rain" keluh Adimas sambil meringis mengusap perutnya yang lagi lagi harus merasakan sakita akbitan keisengannya menggoda gadis itu


"Rasakan" ucap Raina dengan tatapan membunuh, berbeda dengan shelia yang terkejut akan jawaban Adimas barusan


" jadi kau sudah bertunangan mbak, selamat" ucap gadis itu senang


"Hei kau shel, mau kupecat kau ikut ikutan pria aneh itu" jengkel Raina dengan pegawainya itu


"Aku tidak memiliki tunangan" jelasnya


"Tapi mas Adimas tadi bilang mbak tunangannya" tanya Shelia kembali


"Kau percaya begiti saja hah,, kalau aku sudah bertunangan,, mana buktinya " kilah Raina kembali


"Maaf mbak kalau aku salah" kata Shelia lirih


"Hei shel, kenapa kamu minta maaf sama wanita galak itu" ucap Adimas


"Yaa karna aku salah mas, menuduh dia tanpa bukti kalau dia sudah bertunangan" jelas shelia akan kesalahannya


"Nah itu baru kau pintar shel" seru Raina


"Apa kau tak melihat sesuatu dijari manisnya?" Bisik Adimas kepada Shelia. Gadis itu pun menoleh ke arah Adimas dan Adimas memberikan kode kepada gadis itu untuk melihat cincin yang melingkar dijari manis atasannya itu iya pun terkejut


"Mbak,, aku ralat permintaan maaf ku" kata gadis itu yang membuat Raina heran


"Kenapa ?" Tanya Raina


"Itu buktinya sejak kapan kau memakai cincin itu sepertinya kemarin belum ada" jelas Shelia. **** sialan dia melihatnya


"Mas aku percaya pada mu" ucap gadis itu pada Adimas.


Adimas yang sudah melihat Raina kesal buru buru ia menarik tangannya, "ayook bukan kah kita akan menjemput Bintang di rumah sakit" ajaknya


"Yaa ampun aku hampir saja lupa ini gara gara kamu Shel awas kamu" kata Raina kesal


"Tunggu aku dimobil saja dim, aku akan mengambil tas dan handphone ku dulu" ucapnya lalu bergegas pergi


"Kau berhutang pada ku shel, karna Raina tak jadi memecat dan menceramahi mu" kata Adimas seraya pergi dan Shelia hanya bisa melonggo melihatnya.


Tak lama telpon didekat meja kasir berdering, shelia bergagas mengangkatnya.


"Selamat siang dengan Tripel'R cake and coffe, saya Shelia bisa saya bantu"


"Hei shel, aku Raka apa Raina ada ditoko, aku sudah menelpon handphone nya tapi tidak aktif"


" oh dokter Raka, maaf dok mbak Raina nya barusan aja keluar"


"Keluar kemana dia, apa ada bilang sama kamu?"


"Mbak Raina keluar sama mas Adimas, mereka berencana ke rumah sakit"


"Siapa yang sakit shel, apa Raina sakit?"


"Mbak Raina baik baik saja kok dok, katanya tadi mau menjemput seseorang"


"Syukurlah kalau begitu, oh ya tadi kamu bilang dia pergi dengan Adimas"


"Iya dok dengan mas Adimas"


"Apa adikku terpaksa pergi dengannya"


"Ku rasa tidak dok , bahkan sudah sering saya lihat mereka pergi bareng"


"Baiklah kalau begitu terima kasih shel info nya"


Mendengar penuturan karyawan toko adiknya itu membuatnya heran, katanya adiknya benci sama laki laki bernama Adimas itu, namun kenapa sekarang dia dengar adiknya jadi sering jalan bareng dengan laki laki itu. Apalagi adiknya itu tidak bercerita apapun kepada dirinya. Apa sebenarnya yang ia tidak ketahui.


-------


Adimas Raina sudah mulai dekat nie..??

__ADS_1


Rakadia dibikin pusing oleh ulah adiknya


Next apa yang bakal terjadi yaa..


__ADS_2