
πΈπΈπΈπΈ
Kini tiba lah mereka di sebuah taman dipinggir kota,, taman dimana menjadi saksi bisu hubungan backstreetnya Raina dan Revano dulu,, sebelum lelaki itu memutuskan pergi ke luar negeri dan mengakhiri hubungannya. Masih teringat jelas diingatan Raina pristiwa terakhir kalinya ia dan Revano dulu ditempat ini.
"duduklah kamu duluan aina disana,, aku mau membeli ice cream untuk mu dulu? " ucap Revano sambil menunjuk kearah sebuah kursi kosong dibawah pohon rindang. "ice cream rasa coklat dengan topping coklat cairkan? " lanjut Revano yang masih ingat ice cream kesukaan wanitanya dulu.
" bukan,, aku sudah tak suka lagi coklat,, aku mau rasa strawberry dengan topping saus strawberry" jawabnya cepat.
"ooh kupikir selera mu masih sama? " tanya Revano
"setiap orang bisa berubah" ucap Raina datar. Revano tak mau ambil pusing ia meninggalkan Raina menuju kedai ice cream sedangkan Raina berjalan kearah bangku yang ditunjuk Revano. Sebenarnya Raina masih suka ice cream yang disebutkan oleh Revano namun ia tak mau jika pria itu masih merasa mengetahui semua hal tentangnya,, pria itu harus tau semuanya tak lagi sama.
Tak berselang lama Revano datang dengan membawa 2 cup ice cream ukuran sedang dan dua botol air mineral. Lalu ia memberikan pesanan Raina dan mereka menikmati ice cream dalam diam hingga beberapa menit. Hingga akhirnya Revano membuka suara,, "apa yang mau kamu bicarakan?"
Raina menghela napasnya,, "tentang kita" ucapnya datar
Revano senang karna akhirnya Raina ingin berbicara tentang mereka. "iyaa,, apa kamu sudah fikirkan apa yang aku tanyakan waktu itu? "
"ya,, sudah aku fikirkan,, maaf aku masih sama dengan keputusanku dahulu,, aku tak bisa bersama dengan kamu sebagai kekasih,, maaf" ucapnya lirih
"mengapa?? Apa karna kakakmu? "
"bukan,, bukan mereka alasannya karena hati aku telah memilih orang lain"
"siapa? " tanya Revano penasaran,, namun ia kembali berujar "apa karna lelaki itu,, orang yang tadi kamu liat di resto dan orang yang sama yang telah memberikan kamu mawar waktu itu? " tanya Revano bertubi tubi.
"iyaa kamu benar,, karna laki laki itu,, entah lah mengapa hati ini memilihnya,, sangat konyol jika aku fikirkan,, aku dijodohkan oleh oppa ku dengan laki laki itu,, lelaki yang dulu sangat aku benci,, lelaki yang sama yang mengajari aku rasa cemburu dan rasa bahagia secara bersamaan" ujar Raina
"apa kamu yakin dengan dia? " tanya Revano memastikan
"aku tak tau tapi saat ini hati aku menginginkan dia tapii..?" ucapan Raina tertahan
"tapi kenapa? " tanya Revano penasaran
"tapi aku tak tau dengan dia apa dia memiliki rasa yang sama terhadapku? "
"perjuangkanlah Rain dan yakinkan hati mu" ujar Revano memberi dukungan,, yang membuat Raina terkejut.
__ADS_1
"jangan terkejut seperti itu,, jangan kau pikir aku tak sedih kamu menolakku,, aku ingin kamu bahagia,, kita bisa tetap berteman kan?? Dan kamu boleh bercerita apa saja kepada ku yang tak bisa kamu ceritakan kepada kakak kakakmu yang super killer itu? " ucap Revano sambil tertawa menutupi kekecewaannya.
"iyaa tentu kita bisa berteman" ucap Rain.
"aina apakah aku boleh memelukmu? " tanya,, tanpa menjawab Raina langsung memeluk Revano. Meraka akhirnya menghabiskan waktu untuk saling bercerita semua mencair begitu saja,, sampai Raina bersedia menemani Revano ke acara wedding koleganya,, karena Revano tak mau jadi bahan ledekan para koleganya jika ia datang seorang diri.
πΈπΈπΈπΈ
Di lain tempat setelah pulang makan siang bersama Salsa,, Dimas kembali ke kantornya setelah ia di drop oleh wanita itu. Perasaannya kini campur aduk antara lega dan sedikit kesal,, mengapa?? Lega karena dirinya telah bersikap tegas dan mengutarakan perasaannya pada salsa dan kecewa karena ia lagi lagi melihat Raina bersama pria yang sama yang ia lihat di cafe itu.
"siang pak? " ucap Mita pada saat Dimas hendak memasuki ruangannya,, namun tak mendapat jawaban dari atasannya itu,, atasannya itu malah fokus jalan dengan raut wajah yang sulit diartikan. "kenapa lagi tuh orang" batin Mita
"pak Dimas udah balik Mit? " tanya Miko membuyarkan pikiran Mita terhadap atasannya itu. "malah bengong" gerutu Miko.
"eh pak Miko,, ada pak baru aja datang,, wajahnya aneh pak? " ungkap Mita
"aneh gimana? " tanya Miko penasaran
"tau deh kayanya lagi badmood pak,, masuk aja ke dalam"
Tok.. Tok.. Tok..
Setelah mengetuk pintu dan tak ada jawaban akhirnya Miko memberanikan diri masuk kedalam ruangan atasannya itu,, dan terlihat Dimas tengah melamun karena tak menyadari kehadirannya.
"udah deh broo jangan digalauin terus" seruu Miko,, yang membuat Dimas terkejut.
"kalau masuk ruangan orang ketuk pintu dulu dong,, sopan napa" ucap Dimas kesal.
"helloww gue udah ngetuk pintu,, gimana lu bisa denger sedangkan lu aja lagi ngelamun,, udah lupain dulu deh cinta cintaannya,, ada hal yang mendesak yang mesti gue bahas sama lu, masalah project dari klaen PT samudra" jelas Miko.
Dan akhirnya mereka tenggelam dalam pembahasaan pekerjaan hingga jam menunjukkan pukul 5 sore karna tak begitu terasa waktu terus bergulir.
Tok..tok.. Tok
"iyaa masuk" seruu Dimas ketika mendengar suara ketukan pintu. Dan muncullah Mita dari pintu itu dengan senyuman khasnya,,
"maaf nie bos bos yang ganteng sayangnya jomblo,, udah jam 5 saya pamit duluan yaa udah dijemput calon suami" ucapnya sambil terkekeh
__ADS_1
"diih sombong amat yang punya calon suami,, baek baek banyak pelakor" ucap Miko yang membuat Mita melotot kepadanya.
"iyaa mit sana gih pulaang" ucap Dimas.
Akhirnya mita pun undur diri dan kini tersisa dimas dan miko di dalam ruangan itu. "jadi deal yaa kita pake plan B aja kalau begitu" ucap Miko memastikan kembali yang tadi mereka bahas. Dan diangguki oleh dimas,, lalu Miko pun kembali ke ruangannya untuk berkemas dan bersiap pulang,, tak lama terdengar bunyi ponsel Dimas,, dan tertera nama Rakadia di layar itu,, dimas pun heran "tumben Raka menelpon" bathinnya
π² " hallo dimas"
π± "iyaa,, ada yang bisa saya bantu mas"
π² " iyaa saya mau tanya apa kamu sedang bersama Raina,, atau hari ini kamu ada ketemu sama dia? "
π±" ooh saya lagi gak sama Raina mas,,, dan belum ketemu juga sama dia" (dusta dimas)
π² " yaampun kemana itu anak"
π± " ada apa mas?? Kedengarannya kamu sedih? Apa ada yang bisa aku bantu? "
π² " iyaa dim saya perlu bantuan kamu. Oppa masuk rumah sakit karena teejatuh dari kamar mandi dan saat ini belum sadarkan diri,, kami dari tadi menghubungi Raina tapi ponselnya mati dan menelpon ke kafe katanya dia dari siang keluar. Bisa kamu bantu mencari anak itu dan tolong antarkan dia ke rumah sakit tempat aku praktek"
π±" yaa tuhan oppa,, baik mas saya sekarang juga langsung cari Raina saya akan ke apartementnya dulu siapa tau dia ada disana dan ponselnya lowbet"
π² " terima kasih bayak yaa dim,, tolong cari Raina yaa saya percayakan dia sama kamu,, "
π± " baik mas kalau ada kabar saya hubungi
mas Raka"
Setelah telpon terputus Dimas pun bergegas merapihkan peralatannya dan segera pulang untuk mencari Raina. Dimas berfikir kenapa Raina sampe mematikkan ponselnya,, sedang apa dia apa dia masih bersama pria itu,, dimas berusaha terua menghubungi nomer gadis itu namun sama nomernya tak dapat dihubungi.
"dim kenapa lu panik amat? " tanya Miko yang melihat dimas tergesa gesa keluar ruangannya sambil memainkan ponselnya. " gue mau cari Raian Mik" ungkapnya dan bergegas memasuki lift dan diikuti oleh Miko. "kenapa lu cari dia sampe panik gitu? " miko sangat penasaran. Lalu dimas pun menjelaskan apa yang tadi dibicarakan oleh Raka. " yaampun tuh anak,, semoga oppa cepat sehat dan raina ditemukan, lu bawa mobil gue aja dan hati hati dim" ucap miko sambil menyerahkan kunci mobilnya pada dimas.
Kini yang terpikir oleh dimas adalah apartement dimana gadis itu tinggal,, ia pun melajukan mobil miko ke arah apartement Raina. Berapa saat kemudian ia telah sampai di apartement itu dan menuju lantai dimana Raina tinggal,, sesampainya dipintu dan ia memencet bel beberapa kali namun tak ada yang membuka pintu. Dimas pun berencana tetap menunggu gadis itu pulang di dalam mobil dimana mobil yang dirinya bawa diparkirkan didepan lobbi.
Setengah jam kemudian mobil fortuner berwarna hitam berhenti di depan lobi,, turunlah seorang pria yang dimas kenali dan pria itu membukakan pintu penumpang maka turun lah seorang gadis dari dalam mobil,, lalu keduanya saling melempar senyum dan sesekali tertawa tak lama pria itu kembali melajukkan mobil nya setelah mengantar gadis tersebut. Dan dimas pun bergegas turun dari mobilnya untuk menghampiri gadis itu.
"Rainaa Prameswari Moe" panggilnya. Dan gadis yang dipanggilnya pun segera menoleh dan dilihatnya dimas didepannya dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi " dii... dimas" ucap Raina kelu
__ADS_1