
Selamat membaca semuaa.. 😘😘
.
.
Jangan lupa like nya yaa.. 🤗🤗
.
.
🍁🍁🍁🍁
Kediaman utama Waluyo
Pagi hari mereka semua sedang sarapan bersama dengan formasi lengkap oppa, Rayyi dan Anggi, Rakadia dan juga Raina. Yaa sudah menjadi tradisi jika sang oppa berkunjung ke jakarta mereka selalu menyempatkan pulang ke rumah utama.
"dek, kemarin kamu pulang jam berapa?" Tanya Raka karna yang ia tau ketika dia pulang dari rumah sakit pukul 17.30 adiknya masih belum pulang, dan ia sempat menanyakan sama bibi kemana adiknya dan bibi bilang kalau adiknya pergi dari tadi siang kemungkinan ke cafe kata bibi.
"Hemm" ujar Raina ragu
"Adek pulang jam 20.00 kak diantar teman" jawab Raina ragu.
"Siapa temanmu itu?" Tanya Raka menyelidik
"Teman lah ada,, kakak juga ga kenal lah" jawab Raina kesal merasa diintograsi kakaknya
"Sudah,, sudah kalian sedang makan juga masih aja bicara,, tidak baik itu" ujar sang oppa tegas.
Sementara sepasang suami istri dimeja itu hanya diam menyimak karna mereka berdu sepakat memberi kepercayaan pada sang adik.
"Oh ya oppa, aku lupa kasih tau oppa" ucap Raina kembali karna baru ingat jika di belum memberitahu oppanya perihal pak Gilang yang masuk rumah sakit karna sewaktu ia pulang, oppa nya sudah tidur.
"Apa itu nak?"
"Kakek Gilang masuk rumah sakit oppa,, beliau kena serangan jantung" ucapnya. Membuat semua orang dimeja terkejut terutama sang oppa
"Hei,, bagaimana kamu tau pak Gilang Masuk rumah sakit? Kamu masih bertemu sama laki laki sialan itu?" Ujar Raka emosi
"RAKA" ucap tegas sang kakak sulung. Yang membuatnya langsung bungkam.
"Sorry,,sorry gue lihap, maaf yaa dek?" Ucapnya menyesal
"Sudah, kamu tau dari mana nak kakek Gilang masuk rumah sakit apa cucunya memberitahu mu?" Tanya oppa lembut
"Bukan oppa, kemarin orang tua Dimas yang memberitahu aku" jawab Raina ragu ragu
"What ?? Apa apaan lagi ini sekarang orang tuanya?" Ucap Raka, yah dia sangat ceplas ceplos tidak bisa merem mulutnya untuk tidak berkomentar.
Ucapan Raka barusan dihadiahi oleh lemparan serbet yang tepat mengenai wajahnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Anggi si kakak ipar nya itu.
"Diam deh lu kaa?" Ucapnya galak
"Bisa kamu ceritakan dek,, gimana sampe kamu bisa ketemu orang tuanya Dimas?" Tanya Rayyi lembut yang sedari tadi diam.
Dan Raina pun menceritakan semuanya dari dia datang ke apartement dimas karna sakit, merawatnya karna bersalah telah hujan hujanan, hingga kedatangan kedu orang tua Dimas. Semua ia ceritakan tanpa di tutup tutupi.
"Oh begitu dek" kata Rayyi
"Kamu tau dimana Gilang dirawat nak, aku ingin menjenguknya?" Tanya kakek
"Iya kak, semalem dimas sudah wa aku ngasih tau dimana kakek Gilang dirawat dan sekarang kondisinya masih kritis kek" ujarnya sedih
"Baiklah, bisa kah kamu antar kakek kesana nak? Pinta kakek
"Bisa kek, tapi aku harus ke caffe dulu sebentar ada yang aku urus" jawabnya
"Baiklah,, kita nanti sama sama ke cafe mu dulu oppa akan menunggumu selesai lalu kita bisa pergi menjenguk Gilang, jangan lupa bawakan buah tangan dari cafe mu sayang" kata oppa
"Baik oppa" jawab Raina sambil tersenyun
"Girang banget lu mau ketemu si Dimas itu" ujar Raka
"Raka sudah" ucap oppa kali ini membuat Raka tak berkutik.
"Oppa, sebaiknya oppa sama Raina diantar Anggi saja bawa mobil aku? Lagian Anggi ga ada kesibukan, iya kan yang?" Ujar Rayyi
"Iya mas, aku seh ga ada kegiatan hari ini" jawab Anggi
"Jadi kalian pergi pake mobil aku aja, biar Anggi yang bawa"
"Terus mas ke kantor gimana?" Tanya Anggi heran
__ADS_1
"Tenang sayang hari ini aku ke kantor bareng dokter cerewet itu" ujarnya sambil menunjuk Raka lewat matanya
"Apa?? Sejak kapan aku setuju nganter kakak ke kantor, ogah ya" jawab Raka kesal
"Oke kalau begitu, dek kita ga usah lolosin calon yang bakal dia kenalin ke kita nanti, biar jadi bujang lapuk dia dan kamu segera langkahi dia menikah kakak langsung kasih restu" goda Rayyi kepada adiknya
"Sialan,, selalu pake jurus itu" umpat Raka
"Yang mas jalan dulu yaa?" Ucapnya kepada sang istri, yang dibalas dengan senyuman dan cium tangannya, lalu Rayyi pun pamit kepada oppa dan mencium tangan oppanya.
"Ayook gue udah telat" ucap Rayyi kepada Raka
"Sialan woii,, gue belum beres sarapan ini" kesal Raka karna dia baru beberapa suap memakan nasi gorengnya
"Salah sendiri kamu, orang sarapan ngapain aja kamu dari tadi, makanya jangan kebanyakan ngoceh" jawab Rayyi kesal melihat tingkah adik laki lakinya itu, mungkin jika dia bukan kakaknya dia tidak akan percaya jika ada dokter modelan adiknya itu.
Akhirnya mau tidak mau Raka menghentikan sarapannya lalu bergegas menyusul kakaknya yang telah menunggunya di luar tak lupa ia pun pamit kepada oppa nya.
🍁🍁🍁🍁
Tripel'R Cake and Coffe
Kini Raina, Anggi beserta oppa telah tiba di cafe milil Raina, mereka segera masuk kedalam cafe itu.
"Sudah lama sekali oppa tidak kesini nak, sudah lebih besar cafe mu ini, oppa bangga padamu?" Ucap oppa kagum melihat kemajuan cafe milik cucunya itu karna ia memang jarang sekali ke cafe itu
"Ini semua juga berkat dukungan oppa dan kakak kakak serta doa oppa" jawab Raina
"Waah ada oppa, selamat datang oppa, sudah lama nih oppa gak kesini?" Sambut shelia, lalu semua karyawan datang menyalami sang oppa tak terkecuali Ilham dan Huda yang sengaja keluar dari dapur untuk menyapa oppa, mereka semua yang kerja di cafe milik Raina ini semua kenal dan dekat sama oppa.
Setelah sesi kangen kangenan oppa dengan karyawannya, kini mereka kembali ke pekerjaannya masing masing dan Raina beserta Anggi dan Oppa masuk keruang kerja Raina.
"Tunggu sebentar ya oppa, aku lakukan pembayaran dulu ke supplier ?" Ujarnya sambil mengecek tagihan dari supplier dan melakukan pembayaran via mbanking.
Tok..tok..tok
"Masuk" ucap Anggi mewakili Raina yang tengah sibuk
"Maaf mbak Anggi, saya mau mengantar teh lemon dan teh lavender beserta camilan buat mbak dan oppa" ujar Indah dengan membawa 2 gelas teh beserta cake diatas nampan lalu menatanya diatas meja.
"Waah, makasih ndah jadi enak aku main kesini bisa makan enak" ucap Anggi
"Silahkan saya permisi dulu kalau begitu mbak oppa" ujar Indah pamit undur diri, namun dihentikan oleh Raina
"Baik mbak" jawab Indah yang bergegas hendak membuka handle pintu kemudian kembali dihentikan kali ini oleh Anggi.
"Tunggu ndah" cegah Anggi
"Dek,, apa boleh mbak ikut pilihkan isi parcel itu?" Tanya Anggi pada adik iparnya itu
"Tentu aja mbak boleh, gih sana sama Indah dan jangan lupa mbak bawa juga buat nanti dirumah kemarin aku lupa membawakannya buat mbak bukan" jawab Raina
"Waah dengan senang hati mbak bebas memilihnya" kata Anggi dengan mata berbinar karna dia sangat gemar makanan manis.
"Ayoo ndah kita capcus,, oh yaa oppa Anggi tinggal ya?" Ucapnya sambil keluar menggandeng tangan Indah. Oppa hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah lucu cucu menantunya itu
Satu jam sudah Raina bergelut dengan pekerjaannya, sekarang mereka bersiap menuju Bogor dimana Kakek Gilang dirawat.
🍁🍁🍁🍁
B*C Hospital
sementara itu keluarga kakek Gilang masih setia menunggu nya sadar. Karna kakek Gilang dari kemarin belum juga siuman, membuat mereka khawatir.
"Mas, sepertinya kita harus bawa papah berobat ke Singapura jika kondisinya seperti ini?" Saran sang istri pada suaminya melihat mertuanya belum sadarkan diri
"Kita liat 2 hari kedepan mah, kita juga harus konsultasikan sama dokter apa kondisi papah bisa untuk kita bawa jauh" jawab sang suami.
"Dim kamu ajak mama mu ini ke cafetaria untuk makan dulu nak, sebentar lagi jam makan siang pasti cafetaria penuh dan lagi kalian belum makan dari semalam" perintah sang papah
"Mas juga belum makan kan?" Tanya istrinya
"Iyaa,, nanti kamu pesankan saja untuk ku sayang" jawab suami.
"Baiklah" akhirnya Adimas dan sang ibu pergi ke cafetaria untuk membeli makan.
Sementara itu Raina dan keluarga baru saja sampai diparkiran rumah sakit. Dan mereka bergegas keruangan dimana kakek dirawat tak terlalu sulit karna semalam Adimas telah memberitahunya dengan detail dimana kakek dirawat dan dilantai berapa nya pun telah ia beritahukan.
"Pak Waluyo" panggil lelaki itu yang sedang duduk dibangku depan ruang ICU
Mereka bertiga sontak langsung melihat kearah orang yang menyerukan nama oppa mereka.
"Om " ucap Raina lalu bergegas ke arah lelaki itu
__ADS_1
"Raina bagaimana bisa kamu kesini dengan pak Waluyo?" Tanyanya heran
"Ini oppa aku om" jawab Raina
"Oh jadi kamu cucu pak Waluyo Rain, maaf om baru tau " jawab papahnya Adimas
"Bagaimana keadaan papah kamu Ar?" Tanya oppa kepada papahnya Adimas,, yah papah nya Adimas itu bernama Ardi, dan oppa sangat mengenal pria itu.
"Papah masih belum sadar pak" jawab pak Ardi
"Silahkan duduk pak, Raina dan ini siapa mohon maaf?" Tanyanya lagi melihat Anggi datang bersama oppa dan Raina
"Dia cucu mantuku, istri dari Rayyi" terang kakek
"Perkenalkan saya Anggi om" kata Anggi memperkenalkan diri
" saya Ardi, papahnya Adimas" jawabnya sambil bersalaman dengan Anggi
"Oh,, jadi Rayyi sudah menikah yaa pak" lanjut Ardi
"Iya,, belum lama ada sekitar 3 bulanan dan diacara itu pula aku bertemu lagi dengan papah mu secara langsung" cerita kakek
"Jadi gimana ceritanya Ar,, Gilang bisa masuk rumah sakit?" Tanya oppa penasaran
"Saya juga tidak tau pak, seperti yang bapak tau saya dan istri menetap di singapura, sedangkan anak kami satu satunya memilih tinggal dijakarta sementara papah tidak mau ikut kami maupun dimas dan memilih tinggal dipuncak, disana dia hanya ditemani pengurus rumah, mereka cerita pada saat itu papah sedang berkebun dan dadanya terasa sakit lalu pingsan, mereka panik lalu memanggil dokter ke rumah namun dokter bilang papah mengalami serangan jantung dan harus dilarikan ke rumah sakit," cerita pak Ardi tentang bagaimana bisa papahnya masuk rumah sakit
Tak selang beberapa lama Dimas dan mamah nya datang setelah mereka selesai makan di cafetaria.
"Dim siapa itu yang sedang berbicara sama papah " tanya mamahnya melihat suami sedang berbicara dengan seseorang
Adimas pun menegaskan pandangannya ke arah sang papa guna melihat siapa yang sedang berbicara dengan papahnya.
"Oh itu oppa Waluyo mah,, sahabat kakek dan dia juga oppa nya Raina" jawab Dimas sambil menjelaskan pada mamahnya
"Tunggu, jadi Raina adalah cucu pak Waluyo,, dan dia tunangan kamu dim?" Tanya mamahnya penasaran pasalnya papa nya pernah bercerita bahwa ia dulu sempat ingin menjodohkan anaknya dengan anak sahabatnya namun sayang anak keduanya lelaki, lalu belum lama ini papa nya juga menelponnya dengan sangat senang bahwa dia menemukan tunangan untuk cucunya dan menyuruhnya untuk menyetujuinya, tadinya ia pikir papahnya hanya becanda toh masalah jodoh nanti anaknya sendiri yang menentukan jadilah dia belum sempat berbicara dengan suaminya. Karna papahnya condong lebih dengan dengannya walau status menantu itu karna ia wanita satu satunya kini di keluarga Dirgantara.
"Iyaa itu rencana kakek, beberapa bulan lalu " ucap Adimas datar
"Lalu?" Tanya sang mama kembali pada anaknya ada keraguan dan kegelisahan yang terpancar dimata anaknya
"Lalu apa "tak ada"" jawab Adimas
"Tunggu bagaimana mama tau perihal masalah tunangan ini?" Tanya penasaran
"Apa yang mama mu tidak ketahui sayang, walaupun mama mu ini tinggal jauh tapi mama tau segalanya" ucap sang mama bangga
"Tumben kali mama kemarin diam saja jika tau,, biasanya mama langsung mengintrograsi ku?" Tanya Adimas lagi
"Kata siapa?? Mama sudah akan mengintrograsi gadis itu, setelah mama melihat cincin dijarinya tapi papah mu melarangnya, dia menyuruh ku diam dan menunggu kamu sendiri yang cerita" jawab mamanya
"Dan kamu masih punya hutang cerita pada kami dan bagaimana cincin keluarga kita bisa pindah jari" ujar mama nya. Lalu mereka berdua langsung diam ketika tiba di depan ruang rawat kakek.
"Sayang, kemari ini ada sahabat papah, apa kamu masih mengenalnya?" Tanya papa Ardi kepada istrinya ketika tiba didepannya bersama Adimas
"Tentu saja mas, aku masih mengenalnya" jawab mama Sandra sambil menyalami pak Waluyo. Lalu mereka pun saling menukar kabar.
"Oh ya tan, ini ada sedikit kudapan untuk menemani saat menunggu" ucap Raina sambil mengambil hampers ditangan Anggi. Dan langsung diterima dengan senang oleh mama Sandra
"Wah terima kasih yaa, sudah merepotkan kalian" ucap mama sandra
"Tidak merepotkan kok tan" kali ini Anggi yang menjawab.
Lalu mereka dikejutkan dengan, ada dokter yang masuk ke ruang ICU membuat semuanya panik. Dan bertanya tanya ada apa dengan pasien. Tak lama dokter dan suster keluar dari kamar teesebut.
"Dengan keluarga bapak Gilang Dirgantara" ucap sang dokter memecah ketegangan mereka
"Saya anaknya dokter" ucap papa Ardi diikuti oleh semuanya mendekat kearah sang dokter
"Alhamdulillah pasien telah melewati masa kritis dan telah sadar, beliau akan dipindahkan ke ruang rawat dan nanti bisa kalian jengguk disana, kalau begitu saya permisi" ucap sang dokter
"Tunggu dokter" cegah Adimas
"Iya,, ada yang mau ditanyakan?"
"Bagaimana kondisinya apa telah stabil atau bagaimana ?" Tanya Dimas cemas
"Yaa,, untuk kondisinya saya harap pihak keluarga bisa memberikan kenyamanan pada pasien agar tidak berfikiran berat karna selain penyakit jantung berbahaya juga mengingat usia pasien telah sepuh jadi sangat rawan, usahakan perbanyak istirahat dan jangan membuatnya bayak fikiran ya" ujar sang dokter.
"Baik dokter, terima kasih" ucap Dimas kepada dokter.
.
.
__ADS_1